Pertempuran Topat, Simbol Harmonisasi Warga Hindu dan Islam Hingga Lombok Barat


Lombok Barat

Pertempuran Topat merupakan salah satu Kebiasaan yang mencerminkan harmonisnya hubungan Di umat Hindu dan Islam Hingga Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Terdekat, Kebiasaan Pertempuran Topat bakal digelar kembali Ke 4 Desember 2025 yang bertepatan Bersama Purnama Kanem.

Serangkaian prosesi Pertempuran Topat digelar Di pujawali Hingga Pura Lingsar, Lombok Barat. Seperti namanya, Pertempuran Topat adalah Pertempuran menggunakan sarana ketupat. Tak ada ketersinggungan meski para peserta saling lempar ketupat.

Prosesi ini justru mengajak seluruh umat yang berbeda itu Untuk saling jaga dan membangun keharmonisan. Pertempuran Topat bukan sekedar Kebiasaan tahunan, tetapi juga menjadi cerminan identitas Kebiasaan Dunia Komunitas Lombok Di menjaga hubungan Di manusia, alam, dan Sang Pencipta.


Sejarah Pertempuran Topat

Sedikitnya ada tiga versi Yang Terkait Bersama awal mula munculnya Kebiasaan Pertempuran Topat. Anastasya & Evita (2024) Di artikel berjudul Ritual Pertempuran Topat: Membangun Harmoni dan Toleransi Antar Etnik dan Agama Hingga Lombok menyebut Kebiasaan Pertempuran Topat berakar Di hubungan panjang Di umat Hindu dan Islam Hingga Lombok Sebelum masa Kerajaan Karangasem Bali Ke abad Hingga-16.

Kebiasaan ini tak terlepas Di pembangunan Pura Lingsar yang semula menimbulkan penolakan Di Komunitas Muslim. Berkat peran seorang kiai setempat, kedua pihak akhirnya berdamai. Kebiasaan Pertempuran Topat Lalu lahir sebagai simbol kerukunan dan persatuan antarumat beragama.

Pertempuran Topat Lalu dilaksanakan Hingga Pura Lingsar yang Memiliki dua bangunan sakral, yaitu Pura Gaduh Untuk umat Hindu dan Kemaliq Untuk umat Islam. Dua bangunan suci itu menjadi sombol harmonisasi kedua umat yang hidup berdampingan.

Ke Di Yang Sama, Komunitas Sasak mengaitkan Kebiasaan ini Bersama legenda Syekh KH Abdul Malik yang diyakini menghilang Sesudah munculnya mata air sakral Hingga Kemaliq Melewati peristiwa Rarak Kembang Waru (kini disebut Pertempuran Topat). Kejadian Luar Biasa inilah yang Lalu diperingati setiap tahun Untuk menandai hubungan spiritual dan Kebiasaan Dunia Di dua komunitas.

Versi sejarah lain menyebutkan Pertempuran Topat berkaitan Bersama kedatangan pasukan Kerajaan Karangasem Hingga Lombok Ke awal abad 18. Sesudah menemukan mata air Hingga Daerah Ulon, pemimpin pasukan Anak Agung Ketut berjanji membangun Pura Gaduh Hingga Di Kemaliq jika berhasil menguasai Lombok. Pembangunan kedua tempat suci yang menjadi simbol keharmonisan itu Lalu menjadi tempat pelaksanaan Kebiasaan Pertempuran Topat.

Pelaksanaan Kebiasaan Pertempuran Topat

Suadnya & Paramita (2018) juga mengulas Kebiasaan Pertempuran Topat Di artikel berjudul Ritual Pertempuran Topat Sebagai Strategi Komunikasi Di Menjaga Kebhinekaan: Lessons Learnt Di Kebiasaan Suku Sasak dan Bali Hingga Pulau Lombok. Artikel itu menjelaskan Pertempuran Topat sebagai Kebiasaan tahunan Komunitas Suku Bali dan Sasak Hingga Lingsar, Lombok Barat, yang dilaksanakan Ke purnama sasih kanem.

Peserta ritual ini adalah Komunitas Lombok Di berbagai kalangan. Pelaksanaan Pertempuran Topat terdiri Di empat tahap, yakni persiapan, pembukaan, upacara inti, dan penutup.

Ke tahap pertama, kedua belah pihak Akansegera melakukan Diskusi Untuk Merundingkan tentang teknis, persiapan Pengiriman, hingga menentukan hewan Untuk dijadikan kurban. Lanjut Hingga tahap kedua atau pembukaan, Akansegera dilakukan ritual penak gawe.

Selan itu, digelar pula upacara mendak kebun odeq dan murwa daksina Di keyakinan Hindu dan napak tilas Di keyakinan Sasak. Ke upacara ini, hewan kurban berupa kerbau diarak mengelilingi pura.

Ke tahap ketiga barulah Pertempuran Topat dimulai. Komunitas saling melempar ketupat sebagai bentuk rasa syukur dan kerukunan yang diberikan. Kedua suku Akansegera bekerja sama membuat berbagai sarana seperti pesaji, nyerahang topat, mendak pesaji, ngaturang saji, dan Pertempuran topat.

Sesudah berbagai rangkaian itu rampung, tahap terakhir adalah melaksanakan ritual beteteh Hingga Sarasuta. Prosesi ini melambangkan keharmonisan dan kebersamaan Di dua suku.

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Pertempuran Topat, Simbol Harmonisasi Warga Hindu dan Islam Hingga Lombok Barat