Badung –
Objek Wisata Sangeh Di Desa Sangeh, Badung, Bali, dikenal sebagai surga Untuk pecinta alam. Di sini, ratusan monyet ekor panjang tampak akrab berinteraksi Didalam turis Di Ditengah rimbunnya hutan Pala (Alas Pala) seluas 13,9 hektare. Tetapi, Di balik keramaian siang, hutan konservasi ini menyimpan kisah misterius tentang keberadaan setra/tunon bojog atau kuburan khusus kera, secara niskala (gaib).
Kawanan monyet Di Sangeh tak hanya hidup bebas, tetapi juga Memperoleh hukum rimba dan Kearifan Lokal spiritual yang unik, layaknya manusia. Konon, jika ada monyet yang mati, bangkainya Akansegera diantar Hingga kuburan khusus itu tanpa meninggalkan jejak. Prosesi pemakaman ini disebut-sebut menyerupai ritual manusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Pengelola Objek Wisata Sangeh, Ida Bagus Gede Pujawan atau akrab disapa Gus Pujawan, mengungkapkan hutan ini adalah Tempattinggal Untuk lebih Didalam 700 ekor monyet. Yang Menarik Perhatian, Pertumbuhan betina mendominasi, yang mana satu monyet jantan bisa Memperoleh hingga 10 monyet betina Untuk berkembang biak.
Tak hanya jumlahnya yang banyak, ratusan monyet ini hidup Untuk tatanan sosial yang ketat. Mereka hidup berkoloni dan teritorial, membagi Daerah kekuasaan yang tegas.
“Kalau diumpamakan seperti manusia, mereka terbagi Karena Itu tiga banjar, ada banjar barat, banjar Ditengah, banjar timur. Mereka keras, kalau misal lewat Didalam batas Daerah, mereka bisa berkelahi,” jelas Gus Pujawan, Jumat (9/1/2026).
Setiap “banjar” dipimpin Didalam seorang leader (pemimpin). Bersaing kekuasaan pun tak terhindarkan, digambarkan sebagai “hukum rimba”, yang mana perkelahian Akansegera terjadi Di ada pergantian pemimpin.
Secara alami, monyet Di Sangeh bisa hidup hingga usia 20-25 tahun. Tetapi, kematian tak terhindarkan, baik Lantaran usia, sakit, kalah berkelahi, atau celaka yang diakibatkan hal lainnya.
Di monyet mati, para petugas objek wisata tidak bisa serta merta Memutuskan bangkainya. Kawanan monyet yang hidup Akansegera menjadi sangat galak dan menyerang siapapun yang mencoba mendekat.
Menurut petunjuk spiritual tokoh pemangku Penglingsir Pura Pucak Bukit Sari, bangkai monyet wajib dikuburkan Di tunon/setra bojog yang terletak Di sisi barat hutan. Pengelola dilarang mengubur monyet sembarangan.
“Biasanya kalau ada monyet yang mati, kawan-kawannya Akansegera galak dan menyerang. Kami pun Didalam pegawai sangat berhati-hati,” ujar Gus Pujawan.
Tetapi, ada Peristiwa Pidana urgent Di mana petugas terpaksa harus Memutuskan bangkainya, seperti monyet yang terlindas Di jalan raya/parkiran, atau sempat ada yang mati mendadak Untuk jumlah banyak akibat serangan Gangguan. Bangkai yang diambil ini Lalu tetap dibawa dan dikuburkan secara layak Di setra bojog, diikuti Didalam persembahan canang.
Inilah sisi misterius Alas Pala Sangeh. Kebanyakan monyet yang mati Akansegera dilindungi kawanan yang masih hidup hingga bangkainya tidak bisa diambil Didalam petugas. Sesudah dibiarkan, keesokan harinya, bangkai itu mendadak hilang tanpa bekas.
Menurut cerita mendiang juru Kunci (kuncen) Hutan Pala Sangeh, Pekak Sura (yang konon bisa berinteraksi Didalam monyet), hilangnya bangkai itu adalah bukti adanya prosesi pekutangan (seperti upacara kematian/pemakaman) yang dilakukan Didalam kawanan monyet itu sendiri Di malam hari.
“Yang diceritakan Didalam juru kuncen Di sini, kalau ada monyet yang mati, maka kawanan monyet Akansegera melakukan prosesi mekutangan yang sama seperti manusia, tapi dilakukan malam hari. Supaya kalau dilihat Di Sangeh ini sulit menemukan bangkai monyet,” ungkap Gus Pujawan.
Tangisan monyet yang saling bersahutan tepat Di pukul 11 malam diyakini sebagai penanda bahwa prosesi pekutangan Untuk berlangsung Di Untuk tunon. “Artinya kawanan monyet Di itu Untuk mengiring mayat Hingga tunon,” kata Gus Pujawan, yang rumahnya paling Didekat Didalam objek wisata dan sering mendengar suara tersebut.
Pekak Sura Malahan pernah bercerita bahwa ia sempat melihat prosesi tersebut. Dikatakan, prosesi pemakaman monyet itu mirip manusia, Di mana mayat monyet dipikul (ditegen), dan yang paling membingungkan, konon monyet itu dibungkus Didalam kain kasa.
Kisah supranatural ini hingga kini masih melekat Di ingatan Gus Pujawan, Malahan sebagian besar Kelompok Desa Sangeh yang tahu kisah turun-temurun ini. Kendati Kelompok tidak ada yang berani mengintip prosesi pekutangan itu, sinyal tangisan monyet Di Ditengah malam menjadi bukti abadi Akansegera adanya kehidupan niskala Di Alas Pala Sangeh.
(nor/nor)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Menguak Kisah Niskala ‘Setra Bojog’ dan Kearifan Lokal Pekutangan Monyet Di Sangeh











