Indramayu –
Hingga Di hiruk pikuk Kegiatan Kelompok Indramayu, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan jejak panjang sejarah pemerintahan kolonial Hingga Area Pantura (Pantai Utara Jawa).
Bangunan itu dikenal Kelompok sebagai Gedong Duwur, sebuah cagar Kearifan Lokal Global yang hingga kini masih menjadi saksi bisu perjalanan Indramayu Di masa Hindia Belanda.
Ketua Yayasan Indramayu Historia Indonesia sekaligus kepala pengelola Museum Bandar Cimanuk, Nang Sadewo, menjelaskan bahwa Gedong Duwur awalnya dikenal Bersama nama Residen Woning.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bangunan ini didirikan Di tahun 1866 dan difungsikan sebagai Tempattinggal tinggal Asisten Residen Indramayu Di itu, Gerard Pieter Servatius.
“Selain sebagai Tempattinggal dinas, Gedong Duwur juga menjadi pusat Kegiatan Asisten Residen Untuk mengatur jalannya pemerintahan Hingga Indramayu,” ujar Sadewo kepada detikJabar, Sabtu (24/1/2026).
Di masa tersebut, Indramayu masih berada Hingga bawah Karesidenan Cirebon, Bersama pusat pemerintahan residen berkantor Hingga gedung yang kini dikenal sebagai Gedung Negeri Cirebon, tepatnya Hingga Area Krucuk.
“Gedong Duwur juga sebagai bangunan Bagi Kegiatan Asisten Residen Bagi mengatur jalannya pemerintahan Hingga Indramayu kaitannya Bersama Pendopo Indramayu (Regent Woning). Bupati Indramayu Di itu berada Hingga bawah Asisten Residen,” ungkap Sadewo.
Sambil, Sadewo mengungkapkan bahwa Hingga pantura adalah Area partikelir (tanah swasta), yang dikelola Dari para Demang yang Di itu mereka Hingga bawah Karesidenan Cirebon.
|
Gedong Duwur Indramayu Foto: Burhannudin
|
Senada Bersama hal tersebut, analis sumber sejarah Bidang Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Indramayu, Tito MR, menuturkan bahwa Gedong Duwur berfungsi ganda sebagai kantor sekaligus Tempattinggal dinas Asisten Residen.
Untuk sistem birokrasi kolonial, Asisten Residen memegang peran strategis sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Belanda Hingga tingkat kabupaten atau distrik.
“Ia bertugas mengawasi dan mengoordinasikan administrasi, ekonomi, Perlindungan, hingga hubungan Bersama penguasa pribumi,” jelas Tito kepada detikJabar, Kamis (22/1/2026).
Menurut Tito, Kendati secara administratif kedudukan Asisten Residen relatif sejajar Bersama penguasa lokal, jabatan tersebut diperoleh Melewati penunjukan langsung Pemerintah Kolonial Belanda, bukan Melewati garis keturunan.
Karena Itu, kata Tito, Gedong Duwur bukan sekadar bangunan fisik, melainkan juga simbol kontrol dan pusat pengambilan keputusan pemerintahan kolonial Hingga Indramayu.
“Gedong Duwur menjadi penghubung Antara Aturan tingkat karesidenan Bersama pelaksanaan pemerintahan lokal,” tambahnya.
Di ditinjau detikJabar Di Senin (26/1/2026), terdapat tembok yang terkelupas Hingga beberapa Pada, beberapa pintu dan jendela juga terlihat sudah rusak, serta beberapa plafon bolong dan hampir ambruk. Akan Tetapi, secara keseluruhan bangunan ini masih terlihat kokoh.
Interior bangunan Mantan kantor dan Tempattinggal dinas Bagi Asisten Residen ini Memiliki sebuah ruang tamu, empat kamar Bersama ukuran yang sama, serta dua ruangan Hingga Dibelakang.
Kini, Gedong Duwur tidak hanya dikenang sebagai peninggalan kolonial, tetapi juga sebagai Pada penting Bersama identitas sejarah Indramayu.
Cagar Kearifan Lokal Global yang berlokasi Hingga Jalan Mayor Dasuki, Desa Penganjang, Kecamatan Sindang, Indramayu, ini menjadi pengingat Akansegera dinamika sosial, politik, dan pemerintahan yang pernah membentuk wajah Indramayu seperti yang dikenal Di ini.
(yum/yum)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Nasib Gedong Duwur, Bekas Pusat Kendali Kolonial Hingga Indramayu











