Boyolali –
Ratusan warga berkumpul Hingga kompleks pemakaman Hingga Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Mereka Melakukan sadranan, sebuah Kebiasaan Bagi mendoakan para leluhur menjelang bulan Ramadan.
Pantauan detikJateng, warga Bersama dukuh Hingga lingkungan RW 04 dan sebagian RW 05 mengikuti sadranan ini. Yakni, warga Dukuh Mlambong, Rejosari, Gedongsari, Tegalsari, Wonodadi, Magersari dan Tegalsari Barat.
Justru juga warga Bersama berbagai Daerah lain yang Memperoleh leluhur yang dimakamkan Hingga makam Dukuh Mlambong, juga ikut. Laki-laki maupun perempuan, anak-anak hingga dewasa hadir mengikuti Kebiasaan yang juga biasa disebut Bersama kata Nyadran ini.
“Kebiasaan nyadran atau sadranan ini sudah berlangsung turun temurun Sebelum zaman dahulu, Sebelum nenek moyang,” kata tokoh Kelompok setempat, Jaman, Hingga sela-sela Kebiasaan Nyadran Hingga makam Dukuh Mlambong, Selasa (3/2/2026).
Sadranan dilaksanakan Hingga bulan Syaban atau Ruwah (Di penanggalan Jawa). Tujuannya Bagi mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia, agar diampuni dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya serta Memperoleh tempat terbaik Hingga sisi Allah SWT.
“Nyadran ini dilaksanakan Hingga tanggal 15 Hingga bulan Syaban atau Ruwah, jelang bulan Ramadan, Bagi mendoakan para leluhur kami,” jelasnya.
Kebiasaan ini diawali Bersama bubak atau bersih-bersih makam, yang telah dilakukan sehari Sebelumnya atau Senin (2/2) pagi kemarin. Para warga Bersama berbagai dukuh itu bergotong-royong membersihkan rumput-rumput liar Hingga makam-makam leluhurnya masing-masing. Mereka juga membersihkan kompleks makam.
Berikutnya, hari ini dilaksanakan sadranan. Ratusan warga Bersama berbagai dukuh itu berbondong-bondong Hingga makam Bersama membawa aneka kue, Makanan dan lauknya yang dibawa Di tenong atau keranjang rinjing.
Warga juga membawa bunga mawar sebagai bunga tabur Bagi berziarah Hingga makam para leluhurnya. Kenduri sadranan diawali Bersama pembacaaan surat Yasin dan zikir tahlil Bagi mendoakan para leluhur Hingga makam cikal bakal. Dipimpin tokoh agama setempat.
Lalu dilanjutkan doa bersama dan diakhiri Bersama makan bersama. Aneka kue dan Makanan yang dibawa warga Bersama Tempattinggal dibuka. Warga pun bebas Membahas Makanan, tak hanya yang dibawanya, tetapi juga milik warga lainnya. Peristiwa Kebiasaan ini pun berlangsung khidmat dan meriah.
Kebiasaan sadranan hari ini juga dilaksanakan warga Hingga sejumlah Daerah Hingga Kecamatan Cepogo. Pelaksanaan sadranan ini setiap Daerah pun waktunya berbeda-beda, tergantung kepercayaan warga setempat. Tetapi digelar Sebelumnya bulan Ramadan.
Salah seorang warga, Juli, mengatakan Kebiasaan sadranan ini juga Bagi nguri-uri kebudayaan peninggalan nenek moyang. Pihaknya berharap Kebiasaan ini bisa terus dilestarikan.
“Sadranan ini sudah berlangsung Sebelum zaman nenek moyang yang terus diur-uri, dilestarikan hingga Pada ini. Semoga Kebiasaan ini bisa terus dilestarikan,” kata Juli.
Setelahnya sadranan, para warga biasanya melakukan ziarah kubur atau besik Hingga makam-makam para leluhur Hingga tempat lainnya. Hanya waktunya tergantung masing-masing.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Melihat Kebiasaan Nyadran Jelang Ramadan Hingga Sruni Boyolali











