Semarang –
Kirab Kearifan Lokal Dunia Di rangka haul KH Sholeh Darat Ke Kota Semarang tak sekadar menjadi perayaan Kearifan Lokal. Kirab ini juga Dari Sebab Itu momentum meneladani nilai perjuangan Kiai Sholeh Darat yang dikenal sebagai guru para tokoh besar pendiri organisasi Islam Ke Indonesia.
Diketahui, warga Kota Semarang hari ini Melakukan kirab Kearifan Lokal Dunia Di rangka memeringati haul sang ulama. Kirab dilaksanakan Di Kampung Melayu, Kecamatan Semarang Utara, Setelahnya Itu Ke Masjid Kyai Sholeh Darat, hingga Ke Lapangan Kuningan.
“Kirab Sholeh Darat ini menjadi luar biasa Sebab dilaksanakan Ke tempat Ke mana dilu Mbah Sholeh Darat itu mengasuh pesantren, mengasuh Komunitas, Ke Kampung Kuningan Darat,” kata Ketua PCNU Kota Semarang, Anasom, Minggu (19/4/2026).
Ia menjelaskan, kirab hari ini merupakan Dibagian Di upaya menghidupkan kembali ajaran dan keteladanan Kiai Sholeh Darat kepada Komunitas, khususnya generasi muda.
“Kiai Sholeh Darat itu menginspirasi kiai-kiai yang pernah menjadi murid-muridnya. Seperti Kiai Hasyim Asy’ari pendiri NU dan Kiai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, Bu RA Kartini, Kiai Asnawi, banyak,” jelas Anasom.
Menurutnya, Kiai Sholeh Darat Memiliki peran penting Di membentuk pemikiran keislaman sekaligus nasionalisme para muridnya, yang Setelahnya Itu melahirkan organisasi besar.
“Kiai Sholeh Darat itu dulu kiai yang pernah menjadi mufti Ke Makkah, Setelahnya Itu juga ulama Ke Nusantara, beliau lah yang menginisiasi nasionalisme,” ujarnya.
Ia menyebut, Kiai Sholeh Darat mengajarkan pentingnya lokalitas, dakwah tidak harus selalu Di bahasa yang tinggi, tapi bagaimana bisa dipahami Komunitas. Hal itu yang disebut terus relevan sampai sekarang.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bentuk perlawanan kultural Di kolonialisme. Ke Di dominasi bahasa Foreign Ke masa itu, Kiai Sholeh Darat justru menguatkan identitas lokal sebagai sarana membangkitkan kesadaran Komunitas.
Ia mencontohkan, Di salah satu karyanya, Kitab Majmu’ah Syari’ah al-Kafiyyah lil Awam, Kiai Sholeh Darat pernah mengingatkan Komunitas agar tidak meniru Life Style penjajah sebagai Dibagian Di upaya menanamkan sikap anti-kolonial.
“Di kitab itu ada Komunitas Nusantara tidak boleh meniru Busana Belanda seperti dasi, jas, celana, tapi itu fakta kontekstual, ketika Belanda sudah pergi ya nggak masalah pakai itu. Beliau hanya ingin membangun nasionalisme, sikap anti-Belanda,” ujarnya.
Anasom menjelaskan, salah satu nilai utama yang diajarkan Kiai Sholeh Darat adalah keberanian menggunakan pendekatan lokal Di berdakwah, seperti menulis kitab menggunakan bahasa Jawa agar mudah dipahami Komunitas.
“Kitab-kitab beliau dikarang menggunakan bahasa Jawa, ini strategi luas biasa. Sebab kalau bahasa Arab atau Indonesia, Pada itu Belanda sudsh punya ahlinya,” ucapnya.
“Tapi Kiai Sholeh Darat mencoba mencari sisi lain menggunakan bahasa Jawa, supaya Belanda ribet dan harus belajar lagi. Itu adalah salah satu strategi,” lanjutnya.
Kirab Kearifan Lokal Dunia yang diikuti puluhan warga hari ini pun diharapkan dapat menjadi agenda rutin, sekaligus sarana Pelatihan publik tentang nilai-nilai perjuangan Kiai Sholeh Darat.
“Yang ingin kita ambil adalah semangat beliau Di membangun nasionalisme, mencintai Kearifan Lokal Dunia sendiri, dan mendidik umat Di cara yang bijak,” tambahnya.
“Generasi Z sekarang kan bahasa Jawanya berkurang intensitas penggunaannya. Kebanyakan pakai bahasa Indonesia atau Inggris. Itu boleh saja, tapi kekayaan lokal harus kita kuatkan juga,” lanjutnya.
Ia pun mendukung upaya Pemkot Semarang yang mengusulkan Kiai Sholeh Darat sebagai pahlawan nasional. Anasom berharap, Berencana Lebih banyak kiai yang bisa belajar Di Kiai Sholeh Darat.
“Saya harap kiai juga mulai banyak membaca kitab Kiai Sholeh Darat yang berbahasa Jawa, supaya generasi muda kita juga masih tetap bisa melestarikam Kearifan Lokal Dunia Jawa,” lanjutnya.
Ke Pada Yang Sama, Kepala Dinas Kebudayaan dan Wisata Internasional Kota Semarang, Indriyasari, mengatakan rangkaian haul ini menjadi cara Bagi mengenalkan kembali sosok Kiai Sholeh Darat sebagai ulama besar yang berpengaruh Ke Nusantara.
“Beliau memang tidak berjuang menggunakan senjata, tetapi Melewati karya-karyanya yang luar biasa bisa membangkitkan kesadaran Komunitas,” tuturnya.
Ia juga menyebut pihaknya Di mengusulkan Kiai Sholeh Darat sebagai pahlawan nasional. Menurutnya, Melewati kegiatan ini, Komunitas bisa Lebih memahami peran penting Kiai Sholeh Darat, tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai guru yang melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa.
“Rencananya Berencana digelar setiap tahun. Dari Sebab Itu ini kali pertama kirab dilakukan. Mudah-mudahan bisa berlangsung rutin, Agar Komunitas tahu perjuangan beliau,” ungkapnya.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Kisah Nasionalisme KH Sholeh Darat hingga Larang Celana Jeans Ke Masa Kolonial











