Perjuangan, Harapan dan Suara Pekerja


Surabaya

Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei menjadi momen Sebagai menyuarakan aspirasi sekaligus mengapresiasi peran pekerja. Salah satu cara yang sering dilakukan adalah Lewat karya sastra seperti puisi.

Puisi bertema Hari Buruh kerap menggambarkan perjuangan, harapan, hingga realitas kehidupan para pekerja. Kumpulan puisi ini dapat menjadi inspirasi Sebagai menyampaikan pesan Di cara yang lebih menyentuh.

Kumpulan Puisi Tema Hari Buruh

Dirangkum Untuk berbagai sumber, berikut kumpulan puisi bertema Hari Buruh yang menggambarkan semangat juang, keteguhan, hingga suara hati kaum buruh Untuk Berjuang Di dinamika zaman.


1. Buruh Protes Corona

Dari: Oti Ono

Hidup normal saja kususah Tenteram Meski waktu banyak terbuang
Menemani suara mesin berulang-ulang
Tapi hasil tak sesuai harapan lapang Upah kecil ditambah utang
Kini Penyebara Nmassal corona dihadapan
Tambah lagi beban pikiran

Bayang bayang Ke rumahkan
Menjadi satu bukan harapan
Buat denyut jantung Dari Sebab Itu deg-degan
Hidup normal saja sulit memajamkan mata

Sebagai sekedar melepas kepenatan kerja
Apalagi ditambah corona
Bukan sekedar takut terkena virusnya Lebih terpikir angsur utang bagaimana
Corona-corona lekaslah berlalu Jangan Dari Sebab Itu aturan buruh Dari Sebab Itu semu
Dipikirnya kami hanya Protes melulu
Tapi nyatanya nasib kami memang belum maju

2. Peringatan

Dari: Wiji Thukul

Jika rakyat pergi ketika penguasa pidato,
kita harus hati-hati.

Barangkali mereka putus asa.

Kalau rakyat bersembunyi dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri,
penguasa harus waspada dan belajar mendengar.

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar.

Bila rakyat berani mengeluh,
itu artinya sudah gawat.

Dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah,
kebenaran pasti terancam.

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang,
suara dibungkam,
Penilaian dilarang tanpa alasan,
dituduh subversif dan mengganggu Perlindungan,
maka hanya ada satu kata: lawan!

3. Buruh-buruh

Dari: Wiji Thukul

Ke batas desa, pagi-pagi dijemput truk,
dihitung seperti pesakitan,
diangkut Ke pabrik,
begitu seterusnya.

Mesin terus berputar,
pabrik harus berproduksi.
Pulang malam badan loyo,
nasi dingin.

Bagaimana kalau anak sakit?
Bagaimana Terapi?
Bagaimana Ahli Kebugaran?
Bagaimana Fasilitas Medis?
Bagaimana uang?
Bagaimana gaji?
Bagaimana pabrik?

Mogok? Pecat!

Mesin tak boleh berhenti,
maka mengalirlah tenaga murah,
mbak ayu, kakang Untuk desa.

4. Sehari Saja Kawan

Dari: Wiji Thukul

Satu kawan bawa tiga kawan,
masing-masing menggandeng lima kawan,
sudah berapa kita punya kawan?

Satu kawan bawa tiga kawan,
masing-masing bawa lima kawan,
kalau kita satu pabrik, bayangkan kawan.

Kalau kita satu hati, kawan,
satu Permintaan,
bersatu suara,
satu pabrik, satu kekuatan,
kita tak mimpi, kawan!

Kalau satu pabrik bersatu hati,
mogok Di seratus poster
tiga hari tiga malam,
kenapa tidak, kawan?

Kalau satu pabrik, satu serikat buruh
bersatu hati mogok bersama
sepuluh Daerah,
sehari saja, kawan,
sehari saja, kawan.

Sehari saja, kawan,
kalau kita yang berjuta-juta bersatu hati mogok,
maka kapas tetap berwujud kapas,
Lantaran mesin pintal Akansegera mati.

Kapas tidak Akansegera berubah menjadi kain serupa pelangi,
pabrik Akansegera lumpuh mati.

Juga Perjalanan Kaki,
anak-anak tak pergi sekolah
Lantaran tak ada Kendaraan Angkutan Umum.

Langit pun Akansegera sunyi
Lantaran mesin pesawat terbang tak berputar,
Lantaran lapangan terbang lumpuh mati.

Sehari saja, kawan,
kalau kita mogok kerja
dan menyanyi Untuk satu barisan,
sehari saja, kawan,
kapitalis pasti kelabakan.

5. Edan.

Sudah dengar cerita Mursilah? Edan!
Dia dituduh maling
Lantaran mengumpulkan serpihan kain,
dia sambung-sambung Dari Sebab Itu mukena
Sebagai sembahyang.

Padahal mukena tak dibawa pulang,
padahal mukena dia taruh Ke tempat kerja.
Edan!

Sudah diperas, dituduh maling pula.

Sudah dengar cerita Santi?
Edan!

Lantaran istirahat, gaji dipotong.
Edan!

Lantaran main kartu, lima kawannya langsung dipecat majikan.
Padahal tak pakai uang,
padahal pas waktu luang.

Edan!

Kita mah bukan Baut.
(Bandung, 21 Mei 1992)

6. Leuwigajah

Leuwigajah berputar Untuk pagi sampai pagi.
Perjalanan Kaki gemetar,
debu-debu membumbung
Untuk knalpot kendaraan pengangkut.

Mesin-mesin terus membangunkan
buruh-buruh tak berkamar mandi,
tidur jejer berjejer, alas tikar,
tanpa jendela, tanpa cahaya matahari.

Lantai dinding dingin, lembab, pengap.
Lidah-lidah penghuni Rumah Perjanjian
terus menyemburkan cerita buruk:

lembur paksa sampai pagi,
upah rendah,
jari jempol putus,
kecelakaan-kecelakaan,
kencing dilarang,
sakit ongkos sendiri,
mogok? pecat!

Seperti mencabuti bulu ketiak,
tubuh-tubuh muda terus Datang Ke Leuwigajah,
seperti buah-buah disedot vitaminnya.

Mesin-mesin terus menggilas,
memerah tenaga murah
satu kali dua puluh empat jam.

Masuk – absen – tombol ditekan,
dan truk-truk pengangkut produksi
meluncur terus Ke pasar.

Leuwigajah tak mau berhenti
Untuk pagi sampai pagi.

Cerobong asap terus mengotori langit,
limbah mengental, selokan berwarna.

Leuwigajah terus minta darah tenaga muda.
Leuwigajah makin panas,
berputar dan terus menguras tenaga-tenaga murah.

(Bandung – Solo, 21 Mei – 16 Juni)

7. Leuwigajah Masih Haus

Leuwigajah tak mau berhenti
Untuk pagi sampai pagi.

Kendaraan Angkutan Umum-Kendaraan Angkutan Umum, Kendaraan Pribadi pengangkut tenaga murah
membuat gemetar Perjalanan Kaki,
debu-debu tebal membumbung.

Mesin-mesin tak mau berhenti,
membangunkan buruh
tak berkamar mandi,
tanpa jendela, tanpa cahaya matahari.

Jejer berjejer alas tikar,
lantai dinding dingin, lembab, pengap.

Mulut lidah-lidah penghuni Rumah Perjanjian
terus bercerita buruk:

lembur paksa sampai pagi,
tubuh mengelupas,
jari jempol putus,
upah rendah,
mogok? pecat!

Seperti mencabuti bulu ketiak,
tubuh-tubuh muda terus Datang Ke Leuwigajah,
seperti buah-buah disedot vitaminnya.

Mesin-mesin terus menggilas,
memerah tenaga murah
satu kali dua puluh empat jam.

Masuk – absen – tombol ditekan,
dan truk-truk pengangkut produksi
meluncur terus Ke pasar.

Leuwigajah tak mau berhenti
Untuk pagi sampai pagi.

Asap cerobong terus kotor,
selokan air limbah berwarna.

Mesin-mesin tak mau berhenti,
terus minta darah tenaga muda.

Leuwigajah makin panas,
berputar dan terus menguras.

(Bandung, 21 Mei 1992)

8. Makin Terang Untuk Kami

Tempat pertemuan kami sempit,
bola lampu kecil, cahaya sedikit,
tapi makin terang Untuk kami.

Tangerang – Solo – Jakarta,
kawan kami, kami satu: buruh,
kami punya tenaga.

Tempat pertemuan kami sempit,
Ke langit bintang kelap-kelip,
tapi makin terang Untuk kami.

Banyak pemogokan Ke sana-sini,
tempat pertemuan kami sempit.

Tapi pikiran ini makin luas,
makin terang Untuk kami.

Kegelapan disibak, tukar pikiran,
kami satu: buruh,
kami punya tenaga.

Tempat pertemuan kami sempit,
tanpa buah, cuma kacang dan air putih,
tapi makin terang Untuk kami.

Kesadaran kami tumbuh, menyirami,
kami satu: buruh,
kami punya tenaga.

Jika kami satu hati,
kami tahu mesin berhenti,
sebab kami adalah nyawa
yang menggerakkannya.

(Bandung, 21 Mei 1992)

9. Sajak Ibu

Ibu pernah mengusirku minggat Untuk Rumah,
tetapi menangis ketika aku susah.

Ibu tak bisa memejamkan mata
bila adikku tak bisa tidur Lantaran lapar.

Ibu Akansegera marah besar
bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami.

Ibuku memberi pelajaran keadilan
Di kasih sayang.

Ketabahan ibuku
mengubah sayur murah Dari Sebab Itu sedap.


Di kebajikan,
ibu mengenalkanku kepada Tuhan.

10. Derita Sudah Naik Seleher

Kau lempar aku Untuk gelap
hingga hidupku menjadi gelap.

Kau siksa aku sangat keras
hingga aku makin mengeras.

Kau paksa aku terus menunduk,
tapi keputusan tambah tegak.

Darah sudah kauteteskan Untuk bibirku,
luka sudah kaubilurkan Ke sekujur tubuhku.

Cahaya sudah kaurampas Untuk biji mataku.
Derita sudah naik seleher,
kau menindas sampai Ke luar batas.

11. Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa

Aku bukan Seniman pembuat berita,
tapi memang aku selalu kabar buruk
buat para penguasa.

Puisiku bukan puisi,
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat dan berdesakan
mencari jalan.

Ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti,
ia tak mati-mati
meski bercerai Di Rumah.

Ia tak mati-mati,
telah kubayar apa yang dia minta:
umur, tenaga, luka.

Kata-kata itu selalu menagih padaku,
ia selalu berkata:
kau masih hidup!

Aku memang masih utuh,
dan kata-kata belum binasa.

(18 Juni 1997)

12. Sebagai Kita Buruh

Aku buruh, kau buruh,
setiap orang buruh.
Buruh Untuk diri sendiri dan keluarga.

Ada yang Dari Sebab Itu buruh Ke desa sendiri,
kabupaten sendiri, provinsi sendiri, negeri sendiri,
Justru Ke negeri orang.
Ke mana pun kita Dari Sebab Itu buruh,
jangan lupa tingkatkan kompetensi dan Kejuaraan.

Hidup buruh!

13. Nasib Cinta Si Buruh

Aku…
hanyalah kaum buruh, kekasih.

Apa yang bisa kubanggakan lagi,
kecuali keberanianku menyukai engkau tanpa alasan.

Aku…
hanyalah kuli serabutan, kekasih.

Apa yang bisa kubincangkan lagi,
Setelahnya kulihat sorot matamu
yang tak mau hidup susah.

Sekali lagi,
aku hanyalah buruh, kekasih.

Apa yang bisa dibanggakan kaum buruh,
kecuali kesetiaannya kepada keluarga.

14. Sang Buruh

Pagi ku terlindas waktu,
seperti mentari tak sabar menunggu.

Cumbu rayu angin Ke ranting kering,
gelayut manja embun Ke dedaun.

Pagiku menghilang tertelan
Dari genderang pabrik berdentang.

Peluh bercengkerama Di mesin,
gairah pengusaha tak terelakkan,
memerkosa kemerdekaan si miskin.

Adalah kenikmatan yang kau inginkan,
meski aku lelah berjuang
tanpa tanda jasa tersematkan.

Keuntungan bagimu adalah tujuan,
Untuk aku hanyalah perabotan,
tak beda Di monster produksi
yang bergerak Pada tombol kau tekan.

15. Buruh yang Tangguh

Kau pikul matahari Ke pundakmu, kawan,
lalu kau bawa Ke Untuk gubukmu
agar ada sinar menyinari Ke dalamnya.

Ke luar sana, kau masih mengumpulkan
sisa makan pagi.

Melesat laju menembus fajar,
pejantan belum berkokok,
sesajen telah terhidang Untuk Sang Dewi.

Api dendammu membara
bagai gunung yang murka.

Kau banting tulang Untuk mengais asa,
asa yang tertinggal Ke gubuk itu.

Menapaki hari tanpa keluh kesah,
meski keringat bercucuran
membentuk pulau-pulau harapan.

Justru Untuk kegelapan,
kau paksa tangan dan kakimu tetap bekerja.
Tak pernah mengenal lelah.

Ke matamu, tampak harapan yang besar,
sebab Untuk gubuk sederhana itu
Akansegera tumbuh benih-benih kehidupan Terbaru.

16. Buruh

Buruh.

Masukmu dibatasi waktu
yang tak bertoleransi.

Disiplin adalah harga mati,
tenagamu menjadi saksi
Ke sisa umurmu.

Buruh.

Semua yang ada Ke hadapanmu
menjadi tantangan hari esok,
entah selamat atau binasa
dimakan waktu.

Buruh.

Terbatas penghasilanmu,
sesuai Di keahlian tubuhmu,
tak Bisa Jadi melebihi bosmu.

Buruh.

Salah menjadi alasan ditegur,
benar menjadi Penanaman Modal Asing loyalitas,
Tetapi semua itu
tak mengubah derajatmu.

Buruh.

Hari esok tak pernah pasti,
umur dan waktu terbatas,
menyatu Untuk statusmu.

Buruh.

Waktumu begitu terbatas,
Untuk genggaman hasil yang tak tentu,
setiap hari dan setiap waktu.

Buruh.

Mulut terkunci Sebagai bicara,
bagai Mesin Otomatis bernyawa,
bagai sapi perahan Ke zaman modern.

17. Puisi Buruh

Dari: Andhiga Puja

Macam-macam saja larangan Ke Kota
Terbalik keadaan Desa
Buruh tumbuh menjadi babu yang tak tersentuh
Kapitalisme menguasa Lantaran ia punya modal

Seandainya saja buruh pun begitu
Modal sendiri, Bisa Jadi tukang becak, Pengemis, Gelandangan, Akansegera Merdeka
Untuk Suapan Nasi Putih bukan Nasi Basi
Ia Akansegera Membahas Sebagai mengasihi Daripada menjarahi.

18. Tangan-Tangan yang Tak Terlihat

Mereka bangun Sebelumnya matahari sadar,
menyusun hari Untuk lelah yang tak sempat selesai.

Tangan-tangan itu,
mengangkat dunia tanpa pernah disebut.

Ke balik gedung tinggi dan jalan panjang,
ada peluh yang tak masuk berita.

Hari Buruh datang sekali setahun,
tapi perjuangan mereka-
tak pernah libur.

19. Satu Mei Ke Jalanan

Langkah kaki menyatu Ke aspal panas,
spanduk dibentang, suara dikeraskan.

Ini bukan sekadar teriak,
ini adalah hidup yang minta dihargai.

Ke Di Peluit Hakim Laga dan teriakan,
ada harapan yang digantung Ke langit kota.

Bahwa suatu hari nanti,
keringat tak lagi dibayar murah.

20. Upah dan Harapan

Ke ujung bulan, angka dihitung,
cukup atau tidak-selalu Dari Sebab Itu tanya.

Upah datang,
tapi kebutuhan berlari lebih cepat.

Tetapi mereka tetap berdiri,
menjahit sabar Ke Di kekurangan.

Lantaran harapan,
kadang lebih kuat Untuk angka Ke slip gaji.

21. Mesin dan Manusia

Mesin boleh berisik sepanjang hari,
tapi hati manusia tak boleh mati.

Ke balik tombol dan roda yang berputar,
ada mimpi yang terus bertahan.

Jangan jadikan manusia sekadar angka,
atau Pada Untuk produksi semata.

Lantaran tanpa mereka,
tak ada yang benar-benar berjalan.

22. Sebagai Mereka yang Bertahan

Sebagai mereka yang tetap datang
meski lelah belum lunas,

Sebagai mereka yang tetap bekerja
meski hidup tak selalu ramah,

Kalian adalah alasan dunia terus hidup,
meski sering dilupakan.

Hari Buruh bukan sekadar tanggal,
tapi pengingat-
bahwa kalian layak lebih Untuk sekadar bertahan.

23. Berita Buruk Buat Penguasa

Kabarkan kepada mereka
bahwa masih ada perlawanan.

Kabarkan Ke mereka
bahwa rakyat butuh makan.

Kabarkan Ke mereka
kalau buruh butuh kerja.

Kabarkan Ke mereka
jika petani Ke desa butuh tanah.

Kabarkan Ke mereka
bahwa penindasan bukan lagi zamannya.

Kabarkan Ke mereka
andai rakyat marah dan memberontak.

Kabarkan Ke mereka
Tuhan pun berpihak Ke kami.

Kabarkan Ke mereka,
ini berita buruk Sebagai penguasa.

Kabarkan berita buruk ini Ke mereka,
bahwa penindasan Akansegera melahirkan perlawanan,
Lantaran Tuhan pun bersama kami!

24. Surat Ke Penguasa

Di darah yang mengucur,
sepanjang penderitaan yang bergeming
Ke tubuh rentaku,

kukatakan Ke kalian yang telah
dititipkan sayap Dari Tuhan
Sebagai terbang mengepak Ke atas kepalaku,

bahwa matiku tinggal beberapa detak jantung lagi,
dan aku tidak Memiliki serbuk gula
Sebagai bekal anak-anakku
menyeberangi aspal.

Aku mohon Ke kalian
yang telah direstui langit
Sebagai menjadi pemimpin,

jangan lagi sepetak tanahku
kalian incar Sebagai pembangunan.
Hanya itu yang kumiliki.

25. Jalan yang Kupilih

Teriris hatiku
melihat Ke arah itu.

Bagaimana nasib kami,
tertindas tiada arti.

Ke mana perasaanmu?
Kami ada Ke sini.

Kami berdiri Ke atas tanah kami,
mencari nafkah
Sebagai keluarga kami.

Biar panas terik
menyinari kulit kami,
hingga membakar ari kami,

kami tak gentar.

Inilah jalan yang kami pilih,
hidup Ke asal kami,
bertani Ke pesisir.

26. Pasir Bak Emas

Aku mencari sesuatu,
suatu ketenteraman hati.

Aku berjalan Ke gelapnya malam,
terpikirkan yang menyala siang tadi,
ketika keadilan
Di dipertaruhkan
dan tak lagi dihiraukan.

Ketika suara kami
tak lagi didengar,
harta dan kekayaan berkilau.

Pasir itu menyala bak emas,
diperebutkan dan ingin dikuasai,
tanpa peduli nasib rakyat sendiri.

Ke mana kami harus meneruskan hidup?

Ini tanah kami!

Kami tak rela
kau ingin menguasainya.

Kami lawan, walau apa pun!

27. Bumi Pertiwi

Ketika mentari telah menampakkan diri,
itulah waktu Sebagai kami maju
dan berdegap hati.

Di bambu runcing yang selalu menyertai,
tibalah kami Ke pertaruhan nyawa ini
Sebagai memperjuangkan bumi pertiwi.

Walau kami tahu semua itu tak mudah,
tetapi kami yakin
badai bernyawa pasti musnah.

Tergelincir Dari licinnya batu,
terseret Dari derasnya arus,
dan tak Akansegera menemukan jalan yang lurus.

Bumi pertiwi,
percayalah Ke kami,

bahwa kami tak Akansegera berdiam diri
melihat badai bernyawa terus beraksi,
Lantaran kami cinta Akansegera pesisir ini.

28. Ke Sanalah Bersama Keluargaku Tak Berdaya

Ke sanalah bersama keluargaku tak berdaya,
melihat penguasa seenaknya
merampas tanah kami.

Digusur tanpa alasan,
Lantaran kami tak Memiliki kekuatan.

Kami dilarang bertempat tinggal
Di alasan yang tak masuk akal.

Dipenjarakan bila kami melawan,
Lantaran mereka Memiliki aturan.

Seenaknya saja mereka menggusur,
bagaikan batu tanpa hati.

Kami tak mampu berkata lagi,
Lantaran Rumah kami
tak bisa kembali.

29. Ke Bawah Helm dan Seragam

Ke bawah helm dan seragam lusuh,
ada kepala penuh hitungan:
beras, listrik, sekolah anak.

Langkah kaki berangkat pagi
bukan sekadar rutinitas,
tapi janji yang harus ditepati.

Tak semua peluh terlihat,
tak semua lelah terdengar,
tapi dunia tetap berdiri
Ke atas kerja yang tak disorot.

Jika hari ini kau melihat kami diam,
bukan berarti kami menyerah-
kami Untuk menyimpan tenaga
Sebagai tetap bertahan.

30. Suara yang Disimpan

Kami tidak selalu berteriak,
kadang suara kami disimpan
Ke sela napas yang pendek.

Kami tidak selalu melawan,
kadang kami menunggu
agar didengar tanpa harus dihentikan.

Tapi ingat,
diam bukan berarti setuju,
Tenteram bukan berarti selesai.

Ada gelombang Ke Untuk dada
yang sewaktu-waktu bisa pecah.

Dan Pada itu tiba,
yang Pada ini kau anggap sunyi
Akansegera berubah menjadi suara
yang tak bisa lagi diabaikan.

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Perjuangan, Harapan dan Suara Pekerja

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่