Gianyar –
Tumpukan balok mirip sampah Alattulis yang dimampatkan terpajang Hingga Lanö Contemporary Art, Ubud, Gianyar, Bali. Karya Karya Seni rupa berjudul Maping itu merupakan karya Suarimbawa Dalbo Di pameran tunggalnya yang terinspirasi Bersama Layar Lebar Pesta Babi.
“Karya saya ini judulnya ‘Maping’. Terinspirasi Bersama Layar Lebar Pesta Babi,” kata Dalbo Di ditemui detikBali Hingga Lanö Contemporary Art Gallery, Ubud, Gianyar, Sabtu (6/6/2026).
Sekilas, karya Dalbo itu tampak seperti tumpukan sampah Alattulis yang dipadatkan menjadi balok. Tumpukan tersebut membentuk seperti dinding tembok yang runtuh atau belum selesai dibangun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karya itu terbuat Bersama lembaran Alattulis yang dipotong menggunakan mesin pemotong Alattulis hingga menghasilkan bentuk menyerupai juntaian mi.
Dalbo mengatakan dirinya membuat alat sendiri Sebagai memampatkan Alattulis bekas koran, majalah, dan sejumlah Literatur koleksinya. Sesudah dipadatkan, balok Alattulis itu ditambah gulungan Alattulis Bersama Standar lebih baik, yakni Alattulis majalah.
Warna teks dan foto Bersama Alattulis majalah itu digunakan Dalbo Sebagai membuat guratan yang berbicara tentang adat, Kearifan Lokal Global, dan kultur.
“Terbuat Bersama Alattulis bubut (Alattulis bekas). Yang ini, saya juga pakai Alattulis yang Standar lebih bagus. Alattulis majalah,” kata Dalbo.
“Saya buatnya manual. Dimampatkan pakai Kardus,” imbuhnya.
|
Dalbo (kemeja putih) menjelaskan makna salah satu karya Karya Seni rupa Hingga pengunjung Di pameran tunggalnya Hingga Lanö Contemporary Art, Ubud, Gianyar, Sabtu (6/6/2026). (Foto: Aryo Mahendro/detikBali)
|
Menurut Dalbo, tiap balok Di karyanya merupakan pemetaan berbagai aspek kehidupan Komunitas yang berujung Ke kelestarian alam. Ada balok yang merepresentasikan Kearifan Lokal Global, adat, kultur, Inisiatif pemerintah Lokasi, hingga kehidupan sehari-hari Hingga Bali.
Susunan balok itu merepresentasikan banyak hal Hingga Bali Bersama sisi baik dan buruknya masing-masing, tergantung kelompok masyarakatnya. Simbol tersebut disusun bertumpuk dan menyatu seperti tembok Agar dimaknai sebagai cerita tentang alam dan kehidupan Hingga Bali Bersama berbagai kepentingan yang berbeda.
“Itulah yang terjadi Hingga Bali Di ini. Adat Hingga Bali itu dipetakan Bersama tujuan yang berbeda. Alattulis-Alattulis yang dimampatkan itu adalah pengelompokan yang dipetakan. Sebuah komunitas, Kearifan Lokal, Kearifan Lokal Global, yang dipetakan,” katanya.
“Itulah kenapa awalnya saya terinspirasi Bersama Layar Lebar Pesta Babi Sebab Hingga situ banyak kepentingan,” imbuhnya.
Dalbo mengatakan dirinya mulai berkarya menggunakan Alattulis bekas Sebelum 2002. Dia mengaku gemar mengoleksi Literatur, koran, majalah, dan berbagai bahan bacaan lainnya.
Seiring waktu, Dalbo Mengetahui koleksi bacaannya tak Mungkin Saja terus disimpan. Studio miliknya Hingga Kabupaten Karangasem sudah tidak mampu menampung seluruh Literatur, majalah, dan koleksi bacaan lainnya.
“Saya sudah berkarya Sebelum 2002. Pernah show tapi bukan solo show (pameran tunggal),” kata Dalbo.
Menurutnya, Literatur, koran, dan majalah yang dibacanya memuat banyak ilmu dan informasi. Tetapi, semua ilmu itu terus berubah dan berkembang.
Sebab itu, daripada dibuang, Dalbo memutuskan mengolah seluruh bahan bacaannya menjadi karya Karya Seni. Dia menilai ada potensi yang bisa dimanfaatkan Bersama bahan bacaan berbahan Alattulis tersebut.
“Diseni-rupakan. Bersama Sebab Itu saya memunculkan bacaan Terbaru Bersama Alattulis yang berlapis-lapis. Ada informasi Terbaru tanpa menghilangkan informasi lama,” katanya.
Sebagai informasi, pameran tunggal Dalbo digelar mulai hari ini hingga 6 Juli 2026. Sebanyak 22 karya Karya Seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi karya Dalbo dipajang Hingga galeri Karya Seni tersebut.
(dpw/dpw)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Pameran Tunggal Dalbo Hingga Ubud, Terinspirasi Layar Lebar Pesta Babi











