Jejak Keris Koripan Klaten Di Serat Centhini dan Jurnal Kolonial



Klaten

Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten dan sekitarnya atau sering disebut Area Koripan Memperoleh jejak sejarah metalurgi penghasil keris dan senjata Dari era Mataram Islam. Warisan Kearifan Lokal Dunia itu tidak hanya bisa dilihat Ke Museum Besalen Koripan tetapi juga tercatat Ke serat Centhini (1814) maupun catatan pemerintah kolonial Belanda.

Jejak Area Koripan (meliputi Desa Kranggan, Segaran, Delanggu) sebagai produsen senjata juga ditulis kolonial Belanda. Ke Bacaan berjudul Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch Leger, tulisan Kerjasamaekonomiinternasional. L. Kepper tahun 1904, nama Koripan ditulis jelas.

De dessa Koripan bij Delanggoe, in het regentschap Klaten, was eens de woonplaats van den bekenden empoe Kjai Korip, naar wien het complex desa ijzersmederijen nabij Delanggoe is genoemd. Kjai Korip had als leermeester een der beroemde empoe’s Soepo uit den tijd van Modjopait. Met een geheim- zinnig waas van heiligheid is omgeven de kris, welke Kjai Korip onder per- soonlijke leiding van empoe Soepo heeft gesmeed en die bekend staat als de poesaka kris Soepo-Koripan,”.


Terjemahan: Desa Koripan Didekat Delanggoe, Ke Kabupaten Klaten, dulunya merupakan kediaman Empoe Kjai Korip yang terkenal, yang namanya diabadikan sebagai nama kompleks pabrik besi desa Ke Didekat Delanggoe. Kjai Korip Memperoleh guru seorang ahli tempa terkenal, Soepo, Dari zaman Modjopait. Dikelilingi Bersama aura kesucian yang misterius adalah keris yang ditempa Kjai Korip Ke bawah bimbingan pribadi ahli tempa Soepo dan yang dikenal sebagai keris pusaka Soepo-Koripan.

Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi Berkata nama Koripan Ke Klaten ditulis jelas Di catatan orang Belanda Kerjasamaekonomiinternasional. L. Kepper. Koripan memang sering disebut Ke data Belanda.

“Koripan sering disebut Ke data Belanda. Secara kronologis waktu mulai dikenal Dari tahun 1800 tapi itu kan bisa mundur lagi,” kata Hari kepada detikJateng, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Hari, eksistensi Koripan bisa Bersama Sebab Itu sudah ada Dari era Mataram Islam awal, era Sultan Agung atau Justru panembahan Senopati. Sebab tidak Mungkin Saja sebuah komunitas pandai besi mendadak ada.

“Tidak Mungkin Saja komunitas pandai besi ujug-ujug ada Ke tempat itu. Ke Di Studi orang Belanda juga ada foto-fotonya, artinya komunitas pandai besi Koripan sudah berlangsung lama,” jelasnya.

Ke serat Centhini, bahasan keris tangguh Koripan dimuat Di Pupuh Hingga 109 tembang pangkur. “Dene tangguh Koripan denwastani sikutan kemba tan semu, mung gangsing wesinira, pamor adeg”. Kalimat itu menarasikan tangguh Koripan sikutannya agak kendor, besinya agak kering dan menggunakan pamor adeg.

Ketua Karang Taruna Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Hanif Berkata tangguh Koripan memang simpel dan identifikasinya tidak mudah. Akan Tetapi fungsional.

“Kerisnya sendiri prasojo kecil tapi fungsional. Koripan sendiri masih Di Studi apakah diambil Bersama nama empu Korip atau Sebagai Alternatif memang Bersama nama Koripan,” katanya kepada detikJateng.

Besalen Koripan

Sebelumnya Ke Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten, terdapat museum unik bernama Besalen Koripan. Museum besalen atau bengkel pandai besi yang diresmikan Ke 2025 ini merekam jejak para empu keris Ke era Sultan Agung, raja Kesultanan Mataram Ke 1613-1645.

Museum Besalen Koripan berada Ke Ditengah permukiman padat penduduk Ke sisi tenggara desa. Bersama Jalan Raya Jogja-Solo, jaraknya hanya Di 1 kilometer melewati gapura Desa Kepanjen, Kecamatan Delanggu.

Museum sederhana ini menempati sebuah Rumah joglo kuno milik keluarga R Darmo Sukarto ayah Bersama Mbah Lurah Sepuh (kades jaman era kolonial). Beratap genteng tanah liat, tembok tanpa semen dan gebyok kayu berukir motif sulur, bangunan era tahun 1900-an ini masih tampak kokoh.

“Museum ini kita bekerja sama Bersama Skuat PPK Ormawa (Langkah peningkatan kapasitas organisasi mahasiswa) UNS Untuk mengangkat Kearifan Lokal Dunia Desa Kranggan. Yaitu Kearifan Lokal Dunia pandai besi,” kata Hanif, ketua Karang Taruna Desa Kranggan, Di ditemui detikJateng, Jumat (26/6/2026).

Menurut Hanif, Kearifan Lokal Dunia metalurgi pandai besi Ke desanya sudah ada Dari zaman dulu secara turun-temurun.

“Walaupun ratusan tahun sampai sekarang masih eksis. Konon awalnya membuat senjata terutama keris Ke era Sultan Agung (raja Mataram Islam),” tutur Hanif.

Hanif berujar, seiring waktu, Kebiasaan pembuatan senjata seperti keris dan pedang berubah. Di ini sudah tidak ada yang membuat keris.

“Sudah tidak ada yang membuat. Tapi kita coba Untuk kita restorasi lagi Untuk membuat keris lagi,” lanjut Hanif.

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Jejak Keris Koripan Klaten Di Serat Centhini dan Jurnal Kolonial

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่