Manuskrip daun lontar berusia ratusan tahun tersimpan rapi Di Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Misteri isi tulisan tersebut hingga sekarang belum diketahui Justru Dari peneliti.
Dusun Kedakan sendiri termasuk dusun tertinggi Di Daerah Kabupaten Magelang. Adapun dusun ini berada Di ketinggian 1800-an mdpl. Persisnya berada Di jalur pendakian Di Gunung Merbabu.
Konon Di dusun ini terdapat Padepokan Ki Hajar Doko. Manuskrip ini tersimpan Bersama dibungkus kain mori dan Untuk satu Kardus wayang jimat Di Rumah Mbah Dalang, Ki Supoyo.
“Yang mana Bersama isi tulisan yang tertera Di daun lontar ini sampai Bersama detik ini belum bisa ada yang menerjemahkan ataupun Justru membaca,” kata Kepala Desa Kenalan, Joko Santoso, Di ditemui Di kantornya, Selasa (21/7/2026).
“Dulu itu pernah ada beberapa mahasiswa Bersama UI, UGM, IPB itu pernah Mengadakan Eksperimen, dan dulu itu pernah menyimpulkan bahwa isi Bersama naskah yang ada Di daun lontar itu bunyinya begini. Ketika tahun berikutnya dibaca itu sudah berbeda-beda lagi. Ganti tahun, ganti tahun artinya sudah berbeda-beda,” sambung Joko.
Tulisan daun lontar dan wayang jimat tersebut, kata Joko, itu memang ada semacam keistimewaan.
“Istimewa begini, daun lontar itu yang lebarnya Di 4 atau 5 cm. Panjangnya Di 30 cm. Itu tertulis, kalau sekarang bisa menyebutkan itu tulisan Jawa-Buddha. Itu tulisannya aja nggak pakai tulisan tinta seperti Di Bacaan,” ujar Joko.
“Tapi, semacam ukiran dan kanan-kirinya ini kan diukir. Istimewanya kenapa kok tidak tembus, padahal ketebalan cuma setebal Kertas,” sambung Joko.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
|
Kepala Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Joko Santoso Di kantornya, Selasa (21/7/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng
|
Joko mengatakan awal bulan ini Bersama Badan Kajian dan Pembaharuan Nasional (BRIN) Jakarta datang Di Dusun Kedakan. Mereka mengecek apakah ada kesamaan Di daun lontar Di Dusun Kedakan sama Bersama Di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).
“Bersama BRIN ketika sampai Kedakan (Di 10 atau 20 hari lalu), itu ternyata ketika dilihat Bersama tulisnya kok cocok sama yang berada Di Perpusnas Di Jakarta. Yang Di sana (Perpusnas) kan sebagian sudah terbaca Bersama sekian banyak naskah itu diperkirakan ada 1.486 naskah,” ujarnya.
“Itu semua (Di Perpusnas) berdasarkan Eksperimen ternyata semua bersumber Bersama Dusun Kedakan. Yang mana bisa diketahui Bersama Kedakan semua tertera nama Simbah Ki Hajar Doko,” sambungnya.
Joko lalu menjelaskan lontar itu Yang Terkait Bersama Bersama sosok yang dikenal sebagai Ki Hajar Doko. Naskah lontar itu pun diperkirakan sudah berusia lebih Bersama setengah abad.
“Ibaratnya surat undangan itu kan pasti yang terbawah itu mengetahui ataupun ada paraf tanda tangannya, Bersama semua naskah itu ada simbah kiai, Ki Hajar Doko, padahal Ki Hajar Doko Di Merbabu cuma satu Di Kedakan. Dari Sebab Itu bisa disimpulkan bahwa dulu Di ratusan tahun yang dulu, itu kan penulisannya diperkirakan Di tahun 1400-an. Dari Sebab Itu sampai detik ini Di sudah 650 tahun,” jelas Joko yang sudah mendatangi Perpusnas.
Menurut Joko, Bersama ribuan naskah tersebut ada satu naskah yang Di ini berada Di Dusun Kedakan, Desa Kenalan. Tetapi, naskah itu belum bisa terbaca isinya.
“Itu Bersama sekian banyak naskah yang masih bisa diselamatkan sekarang masih Di Indonesia. Katakan ada Di 4.113 Di Perpusnas yang Di Kedakan itu masih sisa satu. Satu naskah itu, satu bendel itu ada 35 lembar,” bebernya.
“35 lembar itu sampai Bersama Di ini belum bisa terbaca. Mungkin Saja membutuhkan beberapa bulan atau beberapa tahun nanti. Kemarin sudah ditindaklanjuti Bersama BRIN. Sebagai isi suratnya atau isi naskahnya Mungkin Saja Di Setelahnya Itu hari nanti sudah ada kesimpulan,” lanjutnya.
Ditemui terpisah, Bupati Magelang Grengseng Pamuji, mengatakan manuskrip kuno itu Pada Dari Sebab Itu kekayaan Kebiasaan Global dan ilmu pengetahuan.
“Dari Sebab Itu Di 1.400 manuskrip kalau tidak keliru yang dibawa Belanda tahun 1800. Ini Mutakhir kita telusur Bersama satu manuskrip yang hari ini tertinggal Di Kedakan. Itu kan juga merupakan salinan ilmu pengetahuan Di era itu,” kata Grengseng.
Mengutip pernyataan Bersama filolog, kata Grengseng, manuskrip itu diduga berkembang Di era pra-Islam.
“Dari Sebab Itu kisaran Mungkin Saja ya 1200 sampai 1400. Dari Sebab Itu Mungkin Saja era Majapahit. Itu bisa Menunjukkan bahwa kekayaan literasi Di zaman itu Di Daerah Kabupaten Magelang sangat luar biasa,” ujarnya.
“Bersama ditemukannya seribu lebih manuskrip Di Daerah Merapi, Merbabu. Dan ini yang terbesar Di Indonesia, penemuan manuskrip seperti itu. Dan Ke Di ditemukan itu kan masih Di satu tempat Padepokan Di Kedakan tahun 1800-an yang terus diangkut Dari Belanda,” tambah Grengseng.
Ia ingin manuskrip-manuskrip ini kembali Untuk bentuk terjemahan. Grengseng berharap Di masa Di generasi-generasi muda Kabupaten Magelang bisa mengetahui sejarah leluhur-leluhurnya.
“Menurut informasi yang saya terima kemarin Bersama Perpusnas bahwa ratusan manuskrip itu berisi tentang ilmu pengetahuan. Ada ilmu Terapi, astrologi, sastra, Pertanian, macam-macam. Itu ditulis Untuk bentuk lontar,” bebernya.
“Manuskrip itu kan salinan ilmu pengetahuan Di zaman itu yang ditulis Dari pelajar-pelajar Magelang yang terhimpun Di Daerah Merapi-Merbabu. Dari Sebab Itu ini menurut saya sebuah karya yang luar biasa yang bisa mendampingi Borobudur. Kalau Borobudur Mungkin Saja secara fisik terbangun. Nah ini secara intelektualnya menjadi bukti bahwa Daerah Merapi-Merbabu itu adalah Daerah keilmuan,” tegasnya.
Grengseng menyebut Bersama ratusan manuskrip itu Mutakhir 15 yang bisa diterjemahkan.
“Kalau bisa kita Mendorong sivitas akademika Bersama UGM, Bersama BRIN, Bersama manapun peneliti maupun filolog Sebagai bisa membantu menerjemahkan ini, dan kami bermohon kepada Kementerian Kebudayaan kalau bisa kami Magelang itu punya salinannya. Harapannya menjadi Pada kekayaan ilmu pengetahuan Bersama Kabupaten Magelang,” pungkasnya.
Halaman 2 Bersama 2
(ams/dil)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Mengulik Manuskrip Kuno Misterius Bersama Lereng Merbabu Magelang











