Bandung –
Maung (harimau) telah lama menjadi ikon kebudayaan dan kebanggaan Kelompok Sunda Hingga Jawa Barat. Hingga Bandung, ikon ini dapat dilihat mulai Untuk patung maung Hingga markas militer, Hingga markas kepolisian, julukan Untuk Regu sepak bola, Justru menjadi sablonan Ke kaos atau Pengganti batik.
Faktanya, simbol maung juga tidak berdiri sendiri. Ikon ini dikaitkan Bersama sosok Prabu Siliwangi, nama gelar Untuk raja-raja Galuh/Sunda. Dikisahkan Untuk naskah kuno Hingga Sunda ada informasi mengenai perubahan wujud para petinggi kerajaan menjadi harimau. Bagaimana kisah harimau menjadi ikon Hingga Tatar Sunda? Simak yuk!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siapakah Prabu Siliwangi?
Untuk narasi populer, Prabu Siliwangi sering Disorot sebagai nama diri Untuk satu orang raja. Padahal, penelusuran naskah kuno Menunjukkan fakta yang lebih kompleks.
Pakar seperti Prof. Dr. Ayatrohaedi Menunjukkan bahwa nama ‘Siliwangi’ berasal Untuk kata Silih Wangi yang berarti ‘pengganti/penerus Prabu Wangi’, seorang raja Hingga Galuh yang wafat Untuk Tanding Bubat.
Nama ini Lalu disematkan kepada raja-raja Hingga Sunda setelahnya. Termasuk kepada Sri Baduga Maharaja. Sri Baduga Maharaja merupakan raja yang paling diidentikkan Bersama julukan Prabu Siliwangi. Sri Baduga berkuasa Ke 1482-1521 M.
Dialah yang memindahkan pusat pemerintahan dan menyatukan dua kerajaan saudara, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, Bersama ibu kota Hingga Pakuan Pajajaran (Bogor Di ini).
Prasasti Batutulis merekam Prestasi Sri Baduga Maharaja Untuk membangun Telaga Maharena Wijaya, sebuah danau yang berfungsi selain Untuk memperkokoh kota, juga Untuk kepentingan ibadah dan irigasi.
Lalu Untuk Prasasti Kabantenan, dikisahkan bahwa raja inilah yang menetapkan Aturan Untuk membebaskan Pajak Lainnya Untuk tanah suci, yaitu tanah yang digunakan sebagai mandala atau tempat ibadah.
Maung Bandung diawali Maung Sancang
Lagu ‘Jung Maju Maung Bandung’ yang diciptakan Bersama seniman Sunda, Raden Aang Kusmayatna atau Kang Ibing menjadi cikal bakal julukan ‘Maung Bandung’ Untuk Regu sepak bola Persib.
Tetapi, rupanya istilah ‘maung’ Untuk lagu tersebut bukan datang secara tiba-tiba. Latar Dibelakang Kebiasaan Global Sunda yang telah mengenal maung Dari lama, menjadi latar yang kuat Supaya terciptanya julukan itu.
‘Maung’ yang tersohor Hingga Sunda Hingga antaranya bisa dilacak Untuk naskah sastra Sunda kuno ‘Wawacan Perbu Kian Santang’ yang dialih aksarakan Bersama Surlina Marzuk, dkk. (1993).
Hingga sana, dikisahkan Prabu Siliwangi punya anak Prabu Kian Santang yang mengenal Islam langsung Untuk Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Ketika Prabu Kian Santang menawarkan Islam kepada ayahnya, Prabu Siliwangi dan para Pembantu Presiden Pembantu Presiden kerajaan lebih memilih moksa dan berubah wujud menjadi harimau. Hal ini Untuk menghindari konflik Di ayah dan anak, bukti bahwa kasih sayang melebihi segalanya.
Untuk bait 230-231, terungkap bagaimana proses perubahan wujud menjadi harimau itu:
“230. Ari sakabeh para raja
jeung ieu punggawa Mantri
kabeh kudu mindah rupa
Karena Itu macan warna warni
Piunjuk ponggawa Mantri
kabeh kudu ngiring ratu
enggalna ratu Pakuan
nyandak tukem ki lagondi
diguratkeun kana tanah padaleman”
(Adapun semua para raja
dan lagi punggawa Mantri
semua harus ganti rupa
Karena Itu macan berwarna-warni
beritahu ponggawa mantri
semua harus turut raja
singkatnya raja Pakuan
Memutuskan tongkat lagondi
digariskan Ke tanah bumi).
“231. Istijadna tinekanan
karaton geus salin rupi
Karena Itu leweung jujumplukan
kitu deui Perbupati
diteunggeul ku kilagoni
sakabeh geus Karena Itu maung
ari nu Karena Itu ratuna
ratu Batulajang aji
enggeus budal kabeh maruru Sancang”
(Istijadnya terkabul
keraton sudah ganti rupa
menjadi hutan rimba
begitu pula para bupati
dipukul Bersama kilagondi
semuanya sudah menjadi harimau
yang menjadi rajanya
ratu Batulajang
sudah keluar semuanya Di Sancang).
Makna Maung Hingga Sunda
Untuk kosmologi Sunda, Maung dilihat sebagai perlambang keberanian, wibawa, dan perlindungan raja Pada rakyatnya. Sebab itu, penggunaan nama Siliwangi dan lambang Maung diserap sebagai simbol penghormatan Pada keberanian, kewibawaan, dan pengayoman raja-raja Hingga tanah Pasundan.
(iqk/iqk)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Mengapa Maung Karena Itu Simbol Sakral Hingga Tatar Sunda?









