Bandung –
Ke Di gempuran Gaya Karyaseni modern, roh tarian klasik Jawa Barat kembali dihidupkan. Paguyuban Karyaseni Sunda Galih Pakuan siap Mengadakan ‘Pagelaran Ibing Sunda Galih Pakuan 2026’ Ke Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Jawa Barat, Jalan Naripan, Kota Bandung, Ke Jumat, 6 November 2026.
Kegiatan ini menjadi momentum istimewa Untuk merawat warisan Kebiasaan Global sekaligus menjaga keberlanjutannya. Ketua Paguyuban Galih Pakuan sekaligus maestro tari Sunda, Risyani atau yang akrab disapa Ceu Ris, menjelaskan bahwa pertunjukan ini layak diapresiasi Lantaran Memperkenalkan penari lintas generasi, termasuk para penari sepuh yang usianya mencapai 60 hingga 82 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Pagelaran Ibing Sunda yang Akansegera kita saksikan nanti merupakan sesuatu yang harus diapresiasi dan ditonton. Sudah jarang orang menarikan tarian-tarian topeng,” ujar Ceu Ris, Selasa (3/11/2026).
Ceu Ris yang sudah menari Sebelum tahun 1955 kini menjadi salah satu maestro tari Sunda yang terus konsisten menjaga nyala Karyaseni ini, terutama Setelahnya berpulangnya Irawati Durban dan Aim Salim. Meski tidak turun langsung menari Ke pagelaran kali ini, karya-karya orisinal peninggalan para maestro Akansegera dibawakan Di apik.
Di pagelaran nanti, penonton Akansegera disuguhi pementasan yang sarat nilai historis. Rangkaian Kegiatan Akansegera dimeriahkan Di alunan Angklung Edelweis, disusul deretan pementasan memukau seperti Tari Narantika-Rarangganis, Lenyepan, Anjasmara, Srikandi, Merak Bodas, Purwajiwa, Kupu Tarung, hingga mahakarya Ceu Ris, Tari Lagean Tabuhan.
“Itu Lantaran pemikiran saya, jangan statis, Karena Itu tarian yang insyaallah sangat Menarik Perhatian. Maknanya adalah keceriaan muda-mudi Di bercengkerama, tetapi memakai tabuhan kendang,” tutur Ceu Ris.
Ia sengaja merancang Tari Lagean Tabuhan Di dinamika tinggi, mengadaptasi elemen pencak silat serta menggunakan properti menyerupai kulanter ringan Untuk memantik minat generasi muda yang kerap menganggap tari Sunda terlalu lambat atau statis.
Langkah Paguyuban Galih Pakuan ini sejalan Di visi pelestarian pemerintah. Kepala Dinas Wisata Internasional dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, menilai pagelaran ini sukses menyentuh titik pembinaan Lantaran tongkat estafet karya sang maestro kini diteruskan Di para muridnya.
“Kita fokuskan dulu yang memang sudah berlanjut atau dilestarikan. Di konteks pelindungan, kita ingin mengangkat dan menjaga Karya Seni tersebut agar bersertifikat warisan Kebiasaan Global takbenda,” ucap Iendra.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga berkomitmen mendukung eksistensi sanggar dan seniman, bukan sebatas Lewat Pemberian Dana, melainkan juga Lewat pemanfaatan ruang pementasan.
“Pemberian pemerintah tidak hanya Di bentuk Dana, tapi Di bentuk fasilitas seperti halnya yang kami punya, Gedung Pusat Kebudayaan. Itu sebetulnya silakan dimanfaatkan, tetapi mari kita jaga sama-sama,” kata Iendra.
Di memadukan karawitan klasik asli dan spirit regenerasi, pagelaran ini diharapkan menjadi ruang nostalgia sekaligus pemantik kebanggaan anak muda Di kekayaan Karyaseni tari Jawa Barat.
(iqk/iqk)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Jaga Nyala Karyaseni, Paguyuban Galih Pakuan Gelar Ibing Sunda 2026











