Ada Kebiasaan Cium Hidung Hingga NTT, Apa Maknanya?


Sabu Raijua

Jika ketika bertemu seseorang, biasanya cukup melambaikan atau berjabat tangan. Tetapi, Suku Sabu Hingga Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), mempunyai Kebiasaan unik kala bertemu seseorang, yakni mencium hidung.

Kebiasaan cium hidung ini dikenal sebagai Henge’do. Komunitas Suku Sabu meyakini Kebiasaan Henge’do ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada sesama manusia.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Filosofi

Kebiasaan Henge’do merupakan sebuah Kebiasaan Komunitas Suku Sabu yang dilakukan sebagai bentuk komunikasi non-verbal yang melambangkan keakraban dan keharmonisan Di hubungan persaudaraan.

Kebiasaan ini mulanya dilakukan Sebab meniru semut merah dan Setelahnya Itu dijadikan sebagai simbol persahabatan. Komunitas Suku Sabu sendiri memaknai Kebiasaan ini sebagai unsur yang bisa menghidupkan rasa kekeluargaan, keakraban, dan rasa keterikatan Ditengah satu sama lain.

Komunitas Suku Sabu rutin melakukan Kebiasaan Henge’do Di kehidupan sehari-hari maupun ketika Kegiatan pertemuan keluarga besar dan pesta adat. Seseorang yang tidak menjalankan Kebiasaan cium hidung Berencana Disorot sombong dan tidak mengamalkan nilai-nilai persaudaraan.

Keunikan

Dua orang yang melakukan Kebiasaan Henge’do Berencana menempelkan hidung mereka satu sama lain Bersama keadaan mata yang terbuka, mulut yang tertutup, dan tangan saling memegang bahu. Pertemuan ini dilakukan sebagai bentuk rasa hormat Bersama mencium hidung orang yang lebih tua.

Uniknya Kebiasaan Henge’do dilakukan tanpa memandang jenis kelamin, suku, ras, agama, status, usia, serta strata sosial. Walhasil, Kebiasaan Henge’do bisa dilakukan Bersama semua orang, baik Komunitas lokal atau pendatang. Perlu diingat, Kebiasaan cium hidung ini dilakukan Bersama antarjenis kelamin sama maupun berbeda tanpa adanya landasan hasrat seksual.

(iws/iws)



Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Ada Kebiasaan Cium Hidung Hingga NTT, Apa Maknanya?