Apa Itu Kearifan Lokal Bau Nyale? Ritual Tahunan Lombok Bersama Legenda Putri Mandalika

Daftar Isi



  • Kearifan Lokal Bau Nyale
  • Sejarah Lahirnya \

Lombok Di

Pulau Lombok menyimpan beragam warisan Kekayaan Budaya Dunia yang tak kalah penting dan terus dirawat Dari masyarakatnya. Salah satunya adalah Kearifan Lokal Bau Nyale, sebuah perayaan tahunan yang berakar Bersama legenda Putri Mandalika dan menjadi simbol kebersamaan warga Lombok.

Kearifan Lokal Bau Nyale

bau nyale Foto: istimewa

Bau Nyale merupakan Kearifan Lokal Menyita nyale atau cacing laut, sebab cacing laut menjadi Dibagian Bersama identitas dan kearifan lokal Komunitas Lombok. Kearifan Lokal ini dilaksanakan satu kali Di setahun, biasanya ketika air laut Di surut Ke pagi hari menjelang Subuh.

Perayaan bau nyale biasanya dimulai Bersama pukul 03.00 hingga 04.00 Wita Untuk ikut langsung merasakan keseruan bau nyale. Awalnya, Kearifan Lokal ini merupakan warisan Kekayaan Budaya Dunia Sasak, tapi kini bau nyale telah dilakukan Dari seluruh Komunitas Lombok, baik Bersama Lombok Timur, Lombok Di, hingga Lombok Barat.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proses penangkapan nyale biasanya dimulai Pada nyale mulai keluar, Komunitas turun langsung Hingga laut secara serentak. Kegiatan penangkapan dilakukan Bersama bergerak menyusuri perairan dangkal sambil memperhatikan permukaan air. Warga dituntut Untuk bergerak cepat dan sigap Lantaran nyale hanya muncul Di waktu singkat dan dapat Bersama mudah menghilang kembali mengikuti arus laut.

Alat yang digunakan Di proses penangkapan nyale dikenal Bersama sebutan sorok, yaitu alat tangkap tradisional yang menyerupai saringan. Selain sorok, warga juga membawa lampu Bersama cahaya cukup terang Untuk membantu melihat nyale Hingga Di Kemakmuran laut yang masih gelap. Pencahayaan menjadi faktor penting Lantaran nyale lebih mudah dikenali ketika tersorot cahaya.

Di pelaksanaannya, penangkapan Bau Nyale dilakukan secara tertib. Komunitas tidak saling berebut dan tetap menjaga jarak satu sama lain. Nilai kebersamaan dan kedamaian menjadi Dibagian yang tidak terpisahkan Bersama Kearifan Lokal ini. Bau Nyale tidak hanya dimaknai sebagai Kegiatan Menyita hasil laut, tetapi juga sebagai bentuk pelestarian Kekayaan Budaya Dunia dan solidaritas sosial Komunitas Lombok.

Seiring bertambahnya cahaya pagi, jumlah nyale yang muncul Lebih berkurang. Ketika matahari mulai terbit, penangkapan nyale pun berakhir. Warga Lalu kembali Hingga tepi pantai Bersama membawa hasil tangkapan masing-masing. Proses ini menandai selesainya Kearifan Lokal Bau Nyale, yang hanya berlangsung sekali Di setahun dan selalu dinantikan Dari Komunitas.

Sejarah Lahirnya “Bau Nyale”

Hingga balik semarak Kearifan Lokal Bau Nyale yang setiap tahun menyedot perhatian Komunitas dan wisatawan, tersimpan kisah legenda yang diwariskan secara turun-temurun Dari Komunitas Lombok. Kearifan Lokal ini tidak hanya menjadi perayaan Kekayaan Budaya Dunia, tetapi juga simbol pengorbanan dan kedamaian yang berakar kuat Di sejarah lokal.
Bau Nyale diyakini berawal Bersama kisah Putri Mandalika, seorang putri yang terkenal Berencana Keelokan dan kebijaksanaannya Hingga Area Lombok Dibagian selatan. Menurut cerita rakyat, banyak pangeran Bersama berbagai kerajaan datang Untuk meminangnya. Situasi tersebut Berpotensi Untuk memicu konflik dan peperangan antar kerajaan akibat Persaingan sang putri.

Di salah satu kutipan liputan Suwandi TV, diceritakan bahwa Putri Mandalika tidak ingin melihat rakyatnya menderita Lantaran pertumpahan darah. Untuk menjaga Keamanan Dunia, ia Memutuskan keputusan besar Bersama menceburkan diri Hingga laut. Pengorbanan tersebut diyakini membuatnya menjelma menjadi nyale, sejenis cacing laut yang Lalu dapat dimiliki Dari seluruh Komunitas Lombok.

Narasi serupa juga disampaikan Dari Dinas Wisata Internasional Nusa Tenggara Barat (NTB) Ke 5 Februari 2025. Di keterangannya, Bau Nyale dipandang sebagai Kearifan Lokal yang lahir Bersama legenda Putri Mandalika, sosok yang menjadi simbol pengorbanan, kebersamaan, dan kedamaian. Nyale dipercaya membawa keberuntungan dan menjadi perwujudan kehadiran sang putri yang “kembali” Untuk rakyatnya.

Pelaksanaan “Bau Nyale”

The Bau Nyale tradition means catching nyale, the sea worm, which has been held for up to hundreds of years. Catching these rare worms is a tradition, because apart from worms that only come out once a year in the area, these worms also mean fertility for the people of West Sumba. Nyale are not just worms for the people of West Sumba, apart from being a source of food and fertility, nyale can also represent the people's harvest. The estimated harvest is immediately reflected in the color of the nyale that comes out at the time of catching. According to local beliefs, the harvest will be abundant if the nyale that comes out is completely fat and colored, namely white, black, green, yellow and brown. The color also determines how much rain will fall when planting. Photo taken in Rua beach, Wanokaka, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia.The Bau Nyale tradition means catching nyale, the sea worm, which has been held for up to hundreds of years. Catching these rare worms is a tradition, because apart from worms that only come out once a year in the area, these worms also mean fertility for the people of West Sumba. Nyale are not just worms for the people of West Sumba, apart from being a source of food and fertility, nyale can also represent the people’s harvest. The estimated harvest is immediately reflected in the color of the nyale that comes out at the time of catching. According to local beliefs, the harvest will be abundant if the nyale that comes out is completely fat and colored, namely white, black, green, yellow and brown. The color also determines how much rain will fall when planting. Photo taken in Rua beach, Wanokaka, West Sumba, East Nusa Tenggara, Indonesia. Foto: Getty Images/iStockphoto/Harry Allan Papendang

Pelaksanaan Bau Nyale biasanya berlangsung Ke bulan Februari atau Maret, mengikuti kalender Sasak, tepatnya Ke tanggal 20 bulan Hingga-10. Pantai Seger Hingga kawasan Kuta, Lombok Di, menjadi lokasi utama perayaan. Meski demikian, Komunitas Hingga berbagai Area Lombok juga Melakukan Kearifan Lokal serupa Hingga pantai-pantai lain sebagai bentuk pelestarian Kekayaan Budaya Dunia.

Hingga kini, Bau Nyale tetap bertahan sebagai salah satu Kearifan Lokal Kekayaan Budaya Dunia paling ikonik Hingga Lombok. Lebih Bersama sekadar Kegiatan Menyita hasil laut, Kearifan Lokal ini menjadi pengingat Berencana nilai pengorbanan, persatuan, dan warisan Kekayaan Budaya Dunia yang terus dijaga Dari Komunitas Bersama generasi Hingga generasi.

Tantangan Berjuang Bersama Kearifan Lokal Bau Nyale

Hingga Di kuatnya nilai Kekayaan Budaya Dunia yang melekat Ke Kearifan Lokal Bau Nyale, keberlangsungannya tidak lepas Bersama berbagai tantangan. Perubahan zaman dan Kesejaganan Alam menjadi faktor utama yang memengaruhi Sustainability Kearifan Lokal tahunan ini.

Salah satu tantangan terbesar datang Bersama perubahan lingkungan dan iklim. Perubahan suhu laut, kerusakan ekosistem pesisir, serta Kegiatan manusia yang tidak ramah lingkungan dapat memengaruhi kemunculan nyale. Ketika Kemakmuran laut tidak lagi mendukung, jumlah nyale yang muncul dapat berkurang, Agar secara langsung mengancam pelaksanaan Kearifan Lokal yang telah diwariskan Pada berabad-abad.

Selain faktor lingkungan, modernisasi dan Perdagangan Bebas juga turut memengaruhi cara pandang Komunitas, terutama generasi muda. Paparan Kekayaan Budaya Dunia luar dan perubahan Life Style Berpotensi Untuk menggeser minat Di Kearifan Lokal lokal. Jika tidak diimbangi Bersama upaya Pelatihan yang berkelanjutan, Bau Nyale berisiko hanya dipandang sebagai perayaan seremonial tanpa pemahaman Berencana nilai sejarah dan filosofinya.

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah komersialisasi Kearifan Lokal. Meningkatnya minat wisatawan Di Bau Nyale membuka Potensi ekonomi Untuk Komunitas, Akan Tetapi juga membawa risiko pergeseran makna. Ketika Kearifan Lokal lebih difokuskan Ke aspek hiburan dan Wisata Internasional, nilai kearifan lokal dan esensi Kekayaan Budaya Dunia yang terkandung Hingga dalamnya dapat tergerus.

Maka Itu, diperlukan upaya bersama Di Komunitas adat, pemerintah, dan pelaku Wisata Internasional Untuk menjaga Kesejaganan Di pelestarian Kekayaan Budaya Dunia dan Pembaruan wisata. Pengelolaan yang bijak diharapkan mampu mempertahankan keaslian Bau Nyale sebagai warisan Kekayaan Budaya Dunia, sekaligus memastikan Kearifan Lokal ini tetap relevan dan lestari Hingga Di perubahan zaman.

Makna “Bau Nyale”

Warga dan wisatawan mencari nyale (cacing laut warna-warni) pada Festival Pesona Bau Nyale 2024 di Pantai Seger Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kuta, Praya, Lombok Tengah, NTB.Warga dan wisatawan mencari nyale (cacing laut warna-warni) Ke Perayaan Seni Pesona Bau Nyale 2024 Hingga Pantai Seger Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Kuta, Praya, Lombok Di, NTB. Foto: Di FOTO/AHMAD SUBAIDI

Bersama cerminan Putri Mandalika yang menenggelamkan dirinya Untuk harapannya ia dimiliki Dari seluruh warga Lombok, Kearifan Lokal Bau Nyale tidak hanya dimaknai sebagai Kegiatan Menyita cacing laut, tetapi juga mengandung nilai filosofis dan sosial yang mendalam Untuk Komunitas Lombok. Kearifan Lokal ini menjadi simbol keterikatan manusia Bersama alam, sekaligus cerminan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Representasi Bersama Bau Nyale merupakan pengorbanan dan kedamaian, sebagaimana tercermin Di kisah Putri Mandalika. Hal ini menjadi sebuah cerminan tanggung jawab moral Pada ia direbutkan Dari beberapa pangeran sebagai bentuk harmoni sosial dan Pra-Penanganan konflik. Makna lainnya juga kolektif sosial dan solidaritas, kemunculan nyale menjadi sebuah tanda manusia mengikuti ritme alam Lantaran manusia yang menunggu datangnya nyale sebagai Kesejaganan.

Nyale juga dipercaya sebagai keberuntungan. Kepercayaan ini menjadikan Bau Nyale sebagai momen reflektif, Hingga mana Komunitas menaruh harapan Berencana kehidupan yang lebih baik Hingga masa mendatang. Berbagai makna yang terkandung Hingga dalamnya, Bau Nyale tidak sekadar menjadi Kearifan Lokal tahunan, tetapi juga warisan Kekayaan Budaya Dunia yang merekam nilai-nilai luhur Komunitas Lombok. Kearifan Lokal ini terus dijaga sebagai pengingat Berencana pentingnya pengorbanan, kebersamaan, dan keharmonisan Di manusia, Kekayaan Budaya Dunia, dan alam.

Kearifan Lokal “Bau Nyale” menjadi sebuah bukti bahwa Kearifan Lokal bukan hanya warisan masa lalu, keberlangsungan Bau Nyale tidak terlepas Bersama berbagai tantangan, mulai Bersama perubahan lingkungan, arus modernisasi, hingga risiko komersialisasi. Tantangan-tantangan tersebut menuntut kesadaran kolektif agar Kearifan Lokal ini tidak kehilangan makna aslinya.

Pelestarian Bau Nyale tidak hanya bergantung Ke pelaksanaan ritual semata, tetapi juga Ke pemahaman nilai-nilai yang dikandungnya. Kearifan Lokal ini mengajarkan bahwa warisan Kekayaan Budaya Dunia hanya Berencana bertahan apabila dijaga bersama, dihormati maknanya, dan diselaraskan Bersama perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

(nor/nor)


Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Apa Itu Kearifan Lokal Bau Nyale? Ritual Tahunan Lombok Bersama Legenda Putri Mandalika

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่