Artefak Langka Di Pulau Sawu NTT



Sabu Raijua -

Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan begitu banyak kekayaan Kebiasaan Global Di masa prasejarah. Tinggalan alat batu hingga logam lazim ditemukan Di NTT. Salah satu yang Memikat adalah temuan artefak perunggu Di Pulau Sawu. Artefak ini dinamakan Surya Stambha.

Peninggalan masa perundagian ini telah disimpan Di Museum Mpu Tantular, Jawa Timur (Jatim). Sampai Sekarang belum ada temuan Di Indonesia yang menyerupai artefak ini.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asal-usul dan Lokasi Terkini

Surya Stambha ditemukan secara tidak sengaja Di Pulau Sawu, Sabu Raijua, NTT. Artefak ini ditemukan bersama beberapa temuan lain, seperti kapak kabila. Bahan yang digunakan Untuk membuat Surya Stambha diperkirakan berasal Di perunggu yang menandakan campuran logam Di dalamnya.

Secara ukuran, artefak ini Memperoleh panjang 150 sentimeter (cm) Bersama lebar 30 cm. Bentuk volumenya cenderung pipih. Dibagian atas Memperoleh bentuk seperti jaring Bersama ukiran wajah Di tengahnya.

Alasan Dinamakan Surya Stambha

Stambha berasal Di bahasa Sanskerta yang berarti tiang atau kolom. Stambha, Di konteks arsitektur India, menjadi bangunan yang Memperoleh fungsi religius dan simbolis. Sering kali didapati adanya tulisan atau elemen religi Di bangunan tersebut.

Jika stambha merupakan istilah bangunan atau bentuk yang berasal India, mengapa artefak yang ditemukan Di Pulau Sawu dan berasal Di masa prasejarah akhir dinamakan Surya Stambha? Apakah artefak ini juga Memperoleh fungsi yang sama Bersama stambha Di India?

Sampai Sekarang belum ada penjelasan pasti mengenai penamaan dan fungsi benda tersebut. Akan Tetapi, ada dugaan bahwa benda ini Yang Terkait Bersama Bersama Kebiasaan Global dongson dan lapita.

Kebiasaan Global Dongson dan Kebiasaan Global Lapita

Artefak-artefak perunggu masa prasejarah Di Indonesia amat Yang Terkait Bersama Bersama kebudayaan dongson. Nama dongson diambil Di situs Dong Son Di Vietnam yang Di-ekskavasi Ke tahun 1924. Kebudayaan ini tersebar mulai Di Vietnam hingga Papua. Ciri Kebiasaan Global ini terdapat Ke bahan dan usia yang relatif sezaman. Kebudayaan dongson menjadi bentuk persebaran dan kemajuan Keahlian masa tersebut.

Ada pula Kebiasaan Global lapita yang juga tersebar Di kawasan Asia Pasifik. Ciri kuat Kebiasaan Global ini adalah Seni Kekayaan Budaya Ke benda tinggalannya. Biasanya berupa titik-titik yang membentuk geometris atau wajah. Kebiasaan Global lapita mudah ditemui Ke Komunitas yang tinggal Di area pesisir. Hal ini menandakan jejak persebarannya Di Komunitas austronesia.

Kedua Kebiasaan Global ini diduga Memperoleh pengaruh kuat Di Surya Stambha. Sebagai contoh, artefak sezaman juga Memperoleh ciri yang sama. Nekara Pejeng Di Gianyar berasal Di bahan perunggu masa prasejarah. Di Di Itu, juga terdapat hiasan wajah Di Nekara Pejeng yang tampak serupa Bersama yang ada Di Surya Stambha.

Fungsi Surya Stambha

Komunitas Di kawasan pasifik ternyata Memperoleh benda Bersama bentuk serupa. Terpampang sebuah ilustrasi mengenai orang Di Pulau Marquesas Di Pasifik yang memegang benda serupa Surya Stambha. Orang tersebut Memperoleh posisi yang tinggi Di hierarki Komunitas. Benda yang dipegangnya adalah bukti status sosial tersebut. Hal ini memungkinkan Surya Stambha Memperoleh fungsi yang sama meski ditemukan Di NTT. Tentu saja dugaan ini perlu ditelaah dan dikaji kembali.


(hsa/hsa)


Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Artefak Langka Di Pulau Sawu NTT

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่