Semarang –
Peristiwa Gebyuran Bustaman kembali digelar Ke Kampung Bustaman, Kecamatan Semarang Di, Kota Semarang. Puluhan warga ikut memeriahkan Kebiasaan yang digelar Sebagai menyambut bulan suci Ramadan.
Pantauan detikJateng, puluhan orang sudah bersiap Ke Kampung Bustaman Dari pukul 15.00 WIB tadi. Peristiwa Gebyuran Bustaman diawali Bersama Tari Kreasi Bustaman.
Warga setempat sudah menyiapkan plastik berisi air warna-warni Ke Di Tempattinggal. Wajah mereka juga dicoret-coret menggunakan Warna air.
Gebyuran Mutakhir dimulai Disekitar pukul 16.40 WIB. Usai air Di kendi diguyur, warga langsung antusias saling melempar plastik berisi air warna-warni Ke gang sempit Ke perkampungan Bustaman.
“Saya kaget kok tiba-tiba dicoret, ternyata itu Memiliki filosofi seperti dosa, kita itu Memiliki dosa dan gebyuran itu membersihkan dosa,” kata salah satu warga, Ronggo (26) kepada detikJateng Ke lokasi, Minggu (15/2/2026).
Warga asli Tamabakrejo itu pun sudah bersiap Bersama mengenakan sandal dan membawa plastik Sebagai mengamankan ponselnya. Ini kali ketiga Ronggo mengikuti Gebyuran Bustaman.
“Ini kali ketiga saya ikut Gebyuran Bustaman. Menurut saya ini sangat meriah apalagi awalnya anak-anak dimandikan terus kita tawuran air, seru banget,” jelasnya.
Ia memaknai Gebyuran Bustaman sebagai bentuk penyucian diri Sebelumnya memasuki bulan Ramadan. Ronggo berharap Kebiasaan itu bisa digelar lebih meriah Bersama Melakukan kirab Sebelumnya Peristiwa gebyuran.
“Kalau kiai-kiai bilang kan bergembiralah kamu Di menyambut puasa, nanti Berencana dapat pahala. Nah, saya bergembira menyambut puasa,” ucap dia.
Warga asal Banyumanik yang ikut Gebyuran Bustaman, Salma (21) mengaku mengetahui Kebiasaan itu Bersama dosennya Ke kampus. Tertarik Bersama Kebiasaan itu, Salma pun ikut memeriahkan Gebyuran Bustaman sekaligus mengulik sejarahnya.
“Emang tertarik banget, soalnya ini kayak Perayaan Seni yang Ke Thailand. Dari Sebab Itu kayak sesuatu yang Mutakhir buat saya, kayak terasa Ke luar negeri,” ucapnya.
Gebyuran Bustaman ini juga diikuti Aulia (21) warga asal Ungaran, Kabupaten Semarang. Ia menyebut sudah bersiap Ke Kampung Bustaman Dari sore tadi dan bersiap membawa jas hujan agar tak kebasahan.
“Mutakhir ikut Gebyuran tahun ini, tapi ternyata udah Bersama lama tradisinya. Katanya memang ini tradisinya Kampung Bustaman dan nggak expect (menyangka) ternyata Ke sini ramai sekali,” jelasnya.
Plt Lurah Purwodinatan, Bagas Yuwono Ario Negoro menjelaskan Gebyuran Bustaman ini sudah digelar Sebagai yang Ke-13 kali. Kegiatan ini disebut menyimpan sejarah yang selalu dirawat Dari Kelompok setempat.
“Ini Bersama Kiai Bustaman. Beliau dulu adalah leluhur Ke Kampung Bustaman. Kebudayaan Ke Kampung Bustaman ini setiap mau puasa kita Melakukan Gebyuran Bustaman yaitu Bersama cara air dilempar, identik Bersama Gule Bustaman juga,” jelasnya.
Ia menyebut, Kebiasaan ini bukan hanya Sebagai warga Bustaman saja, tetapi Sebagai seluruh Kota Semarang. Ia berharap, Bersama nguri-uri Kebiasaan Global ini kebudayaan Ke Kota Semarang bisa terus dilestarikan.
“Ini kita nguri-nguri Kebiasaan Global Jawa, kita Jawa tapi ora njawani. Lah itu kadang-kadang kota Semarang kalah Bersama kota-kota lain seperti Solo, Semarang harusnya lebih njawani menurut saya,” tuturnya.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Basah-basahan Sambut Ramadan Ke Gebyuran Bustaman Semarang











