Bandung –
Ada hal Memikat Di terjemahan kutipan sebuah paragraf Di naskah kuno Fragmen Carita Parahyangan. Di Di paragraf itu, dikisahkan benda-benda apa saja yang wajib Diberikan Dari Daerah vasal (bawahan) kepada Kerajaan Sunda Di Pajajaran.
Di Di paragraf itu, tertulis ‘lilitan’. Boleh Dari Sebab Itu, maksud Di nama benda ini bermakna kain. Tetapi, Dari Mamat Ruhimat (2024), sebagaimana dikutip Di jurnal berjudul ‘Sundanese Dendeng: Traditional Culinary Evidence of Spread of Coriander Spice in Banten Sultanate’ Dari Jundi Ali Al-Ghifari S, dkk. (2025), ‘lilitan’ diterjemahkan sebagai rokok. Berikut ini kutipannya:
Lewa pamwat siya ka Pakwan: boéh salawé, uyah salawé kélék, lilitan salawe teukteuk, kéré salawé, pakasem salawé ruas, boéh warna sakayu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(From Lewa to Pakuan: 25 pieces of white cloth, 25 jars of salt, 25 cigarettes, 25 pieces of Dendeng, 25 pieces of pekasam, and sekayu cloth).
Jika terjemahan yang Memikat itu benar, yakni, jika benar Sebelumnya abad Hingga-16 ketika naskah Fragmen Carita Parahyangan ditulis, dan Sebelumnya Roro Mendut berjualan lintingan tembakau Di masa Kesultanan Mataram, Di Sunda sudah ada Karya merokok sebagaimana dikenal rokok seperti sekarang ini, maka orang Sunda punya perbendaharaan kata yang ‘buhun’ Sebagai merujuk lintingan tembakau: Lilitan.
Di carita pantun ‘Badak Pamalang’ memang dikisahkan Komunitas Di Sunda Di silam masa sudah punya Karya ‘hisap’. Tetapi, bukan tembakau yang dililit daun kawung, melainkan candu. Di Sesudah Itu hari, Lilitan Kawung menjadi identitas yang melekat kepada orang Sunda.
Apa itu Lilitan Kawung?
Lilitan Kawung atau lintingan tembakau menggunakan daun kawung, adalah tembakau rajangan yang dibungkus Di daun pohon enau. Yang dipakai, bukan sembarangan daun. Ada proses yang telaten Di pemrosesan daun enau Supaya bisa dipakai sebagai lilitan (papir).
Tetapi, Sebelumnya Merundingkan soal proses maud (meraut) daun kawung muda, elok kiranya kita mengenal bagaimana daun kawung punya peran penting Di Di kebudayaan ‘hisap’ Di Sunda.
Di Di kebudayaan Sunda, rokok kawung bukan hanya sebagai sarana komunikasi yang merekatkan masing-masing anggota Komunitas, melainkan punya khasiat Keadaan.
Dikutip Di artikel berjudul ‘Rokok Daun Kawung Dianjurkan Lantaran Menyehatkan’, dikisahkan bahwa Di Kampung Adat Ciptagelar rokok daun kawung digunakan sebagai sarana Terapi sakit jantung.
Di syarat, rokok itu terususun atas tembakau yang murni (mole) tanpa campuran bahan kimia, dan menggunakan daun kawung sebagai lilitannya. Artikel ini menyebutkan, ada perbedaan khusus daun kawung yang digunakan Di tujuan Terapi ini, yaitu kadar lilin Di daun kawung tidak dihilangkan.
‘Maud Kawung’
Tidak sembarangan daun pohon enau bisa dijadikan lilitan. Yang diambil adalah daun muda sebagaimana daun yang biasa dipakai Sebagai riasan janur perkawinan. Nah, janur kawung ini diambil, lalu diproses agar menjadikannya tipis dan lentur ketika kering dan digunakan.
Proses ini disebut ‘maud’, yaitu semacam Karya meraut menggunakan Pisau. Awalnya, daun dilepaskan Di batangnya. Lalu, lidi yang mempertemukan dua daun juga dilepaskan.
Satu lembar daun, diletakkan Di paha. Atau kalau sudah profesional, salah satu ujung daun cukup dikepit ibu jari kaki saja Di posisi duduk. Kalau sudah terbentang, tetajam Pisau ditekankan tanpa tenaga terlalu keras Di sisi daun yang mengilat. Pada yang mengilat itu adalah lapisan lilin.
Lapisan lilin itu seperti latex alami. Pada itu dibuang dan karenanya, daun kawung menjadi lebih tipis dan lebih lentur. Jika tuntas, sepanjang daun itu dililitkan membentuk sebuah linkaran seperti Di kita menggulung tapi mainan yoyo. Hal ini dilakukan agar bentuk daun tetap lebar Di dijemur.
Jika telah mengering, artinya daun kawung itu telah siap Sebagai dipakai. Daun kawung ini biasanya dipakai Sebagai ‘melilit’ tembakau yang kadar nikotinnya tinggi. Tembakau yang rasanya ‘banget’ (nyegrak) Berencana lebih pulen Di lilitan daun kawung ini.
‘Teukteuk’
Orang Sunda kini menyebut sebuah sebuah lilitan kawung atu satu buah rokok Di sebutan ‘batang’. Satu batang atau Di Sunda ‘sabatang’. Tetapi, jika terjemahan Fragmen Carita Parahyangan Di atas dapat diterapkan Di kebudayaan tembakau, ada kata lain yang bisa digunakan selain batang: Teukteuk.
Dan kenyataannya, daun kawung yang telah kering itu ‘diteukteuk’ atau dipotong supaya pas sebagai sebuah sarana Sebagai lilitan tembakau. Kita kini Berencana berkata Sebagai satu lilitan tembakau, atau satu rokok: Sateukteuk. Dan Untuk kalangan muda Sunda yang biasa mengatakan ‘Sebat heula!’ alias sebatang dulu, boleh menggunakan ungkapan: Sateukteuk heula!
Di Mana Daun Kawung Bisa Didapat?
Toko-toko tembakau Di Sunda biasanya menyediakan daun kawung yang telah dikemas Di ukuran panjang yang sama. Sebuah jenama Di Tasikmalaya mendominasi percaturan daun kawung Di dunia tembakau. Tetapi, karakter daun yang dihasilkan jenama ini terbilang kaku (heuras) dan lumayan tebal.
Sambil Itu daun kawung yang ‘dipaud’ Di telaten, telah sangat jarang ditemukan Di pasaran. Kepiawaian bergaul Di petan-petani tembakau Berencana memudahkan anda Memperoleh daun kawung yang ‘eksklusif’ ini.
(dir/dir)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Catatan Kecil soal ‘Lilitan’ Kawung dan Ungkapan ‘Sateukteuk Heula’











