Cerita Rosid Hijrah Ke Pangandaran Bagi Merawat Ratusan Perkakas Buhun



Bandung

Ratusan dulang kayu tampak berjejer rapi, bersanding Bersama seratusan lesung penumbuk padi yang berdiri kukuh. Ke tangan Rosid, seniman kelahiran Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, benda-benda kuno tersebut bukan sekadar rongsokan masa lampau yang dibiarkan berdebu, melainkan serpihan ingatan tentang kehangatan Tempattinggal panggung masa kecil dan sosok mendiang ayahnya yang mengabdi sebagai petani.

Sebagian artefak kenangan itu kini Di menempuh perjalanan pulang Untuk Kota Bandung Ke Leuit Munjul, sebuah ruang kultural yang dibangun Rosid Ke tanah kelahirannya, Dusun Purwasari, Desa Parigi, Kecamatan Parigi.

Bagi Rosid, upayanya mengumpulkan Disekitar 300 dulang dan 100 lesung tidak pernah dipatok Dari target angka. Pada raga masih dikaruniai Kesejaganan dan rezeki tetap Datang, ia bertekad terus menyelamatkan benda-benda lawas yang sarat jejak peradaban tersebut.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Disekitar 80 persen Untuk koleksi tersebut ia tebus Untuk Kelompok yang datang menawarkan kepadanya. Nilai penggantinya bervariasi, mulai Untuk puluhan ribu, ratusan ribu, hingga mencapai jutaan Uang Negara Indonesia.

“Barang Dagangan-Barang Dagangan itu hampir tiap hari ada saja yang nawarin. Tiba-tiba ada yang kirim foto, ‘Pak, saya punya ini.’ Dari Sebab Itu saya kayak dipertemukan saja, seolah-olah Barang Dagangan itu mencari orang yang peduli,” kata Rosid, Senin (21/9/2026).

Banyak pemilik Sebelumnya Itu memandang perkakas dapur lawas itu sekadar Barang Dagangan bernilai jual. Tetapi Bagi Rosid, roh Untuk benda tersebut jauh melampaui lembaran Uang Negara Indonesia.

Malahan lesung yang telah pecah atau cobek yang berlubang tergerus zaman tetap ia rawat Bersama takzim. Ketidaksempurnaan bentuk fisik justru menjadi saksi bisu betapa kerasnya perkakas itu pernah bekerja menopang hajat hidup sebuah keluarga.

Studio Buhun milik Rosid Ke Bandung Foto: Istimewa

Langkah melestarikan memori ini bermula Di 2006 Ke lahan Dibelakang Studio Rosid, Jalan Cigadung Raya Di No. 40, Cibeunying Kaler, Kota Bandung. Ke sana, ia mendirikan saung panggung sederhana yang rancang bangunnya mengacu Di arsitektur Tempattinggal masa kecilnya Ke pesisir selatan Jawa Barat.

“Dari Sebab Itu, memori masa lalu yang saya wujudkan itu dan sampai sekarang Konsep itu, spirit itu, dan memori itu terus terbangun,” ujarnya.

Sebelum saung itu berdiri, sudut-sudut ruang perlahan dipadati berbagai perkakas antik. Rosid giat berburu Ke lapak Barang Dagangan lawas, Sambil Itu tawaran Untuk kalangan kolektor maupun warga terus berdatangan tanpa henti. Lantaran kapasitas Studio Rosid kian terbatas, aliran benda-benda tersebut mulai dialihkan pulang Ke tanah Parigi.

Romantika Masa Kecil

Ketertarikan Rosid merawat masa lalu berakar kuat Di romantika masa kecilnya. Dahulu, ia tumbuh Ke sebuah Tempattinggal panggung berbilik bambu Bersama dapur tradisional yang senantiasa mengepulkan aroma kayu bakar.

Lumbung padi berdiri tegak Ke pekarangan. Di Di Yang Sama, Ke Untuk Tempattinggal, perkakas tradisional seperti hawu, boboko, aseupan, jubleg, dan dulang menjadi kawan setia keseharian keluarga.

“Dulu mah Barang Dagangan-Barang Dagangan itu selalu kelihatan. Jubleg juga ada dan dulang masih ada. Emak suka ngakeul. Itu memori,” kata Rosid.

Waktu bergulir, perkakas asli peninggalan orang tuanya raib ditelan masa. Di kanak-kanak, Rosid belum Memahami betapa bernilainya benda-benda bersahaja tersebut. Kesadaran itu Mutakhir menyentuh batinnya ketika ia menginjak usia matang Ke perantauan, terlebih selepas kepergian sang ayah Di 2014.

Kenangan masa kecil Di mengikuti sang ayah Ke sawah dan ladang, hingga memori menaiki gerbong kereta api rute Parigi-Kalipucang, menjadi pemantik kreativitasnya Ke atas Lukisan Karyaseni rupa.

“Saya merasa bangga sebagai anak petani. Saya tidak minder dan saya lebih senang, lebih bangga,” ucapnya.

Studio Buhun milik Rosid di BandungStudio Buhun milik Rosid Ke Bandung Foto: Istimewa

Bakat Karyaseni rupa Rosid sejatinya telah bersemi Sebelum duduk Ke bangku sekolah dasar. Alih-alih tekun mencatat pelajaran seperti kawan sebayanya, jemarinya lebih lincah menggambar sketsa wajah para guru dan kawan sekelas Ke Literatur tulis.

Memasuki jenjang sekolah menengah atas (SMA), keterampilannya mulai menghasilkan pemasukan Lewat pesanan lukisan potret keluarga dan tetangga. Modal kemahiran itulah yang mendorongnya memberanikan diri merantau Ke Kota Kembang seusai menamatkan SMA Di 1989.

Ke Bandung, Rosid mengasah kemampuannya Ke berbagai sanggar dan menimba Penghayatan Ke Studio 66, ruang tempat bertemunya para perupa andal serta pengajar Karyaseni rupa Institut Keahlian Bandung (ITB). Tempaan bertahun-tahun itulah yang membawanya mandiri hingga berhasil mendirikan Studio Rosid.

Kini, seluruh denyut spiritualitas yang terbangun Ke Bandung ia bawa pulang Ke Leuit Munjul. Bagi Rosid, ruang ini merupakan jembatan imajiner yang merajut perjalanan hidupnya Ke kota perantauan Bersama tanah kelahirannya.

“Kayak benang, masih nyambung. Walaupun orang tua sudah enggak ada, energi spirit Bapak saya bawa terus,” katanya.

Leuit Munjul disiapkan Rosid bukan sebatas galeri statis tempat memajang benda mati, melainkan sebagai ruang belajar terbuka Bagi generasi muda yang kian terasing Untuk akar tradisinya.

“Jangan sampai Barang Dagangan itu hilang begitu saja. Generasi sekarang supaya tahu zaman dulu rumahnya Tempattinggal panggung sederhana, Barang Dagangan-barangnya juga Barang Dagangan jadul seperti lesung, dulang dan segala macam,” ujar Rosid.

Ke Di laju modernisasi yang mengganti Tempattinggal-Tempattinggal panggung menjadi bangunan tembok serta menyingkirkan perkakas lawas Ke tempat pembuangan, Rosid memilih bertahan merawat ingatan. Ia mencita-citakan Leuit Munjul menjadi oase persinggahan Bagi kaum perantau maupun pelancong yang ingin mereguk kembali ketenteraman kampung halaman.

“Jangan sampai pulang kampung Ke Parigi, kampungnya sudah seperti kampung kota lain. Enggak punya jati diri, enggak punya ciri khas. Yang saya pertahankan dan saya pengin lestarikan itu,” kata dia.

(yum/yum)



Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Cerita Rosid Hijrah Ke Pangandaran Bagi Merawat Ratusan Perkakas Buhun

nagabet76slot gacorslot online slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin
nagabet76 login
situs slot gacorbr