Bandung –
“Mugi gusti nangtayungan.” Kalimat lirih yang berarti ‘semoga Tuhan memberkati’ itu menjadi pembuka sakral Sebelumnya seorang penampil Benjang mulai mengunyah beling Bersama Damai. Ke balik raga manusia yang tampak biasa, ada kekuatan lain yang diyakini merasuk, menuntun setiap gerak sang seniman Ke Di riuhnya penonton.
Ke sudut timur Kota Bandung, tepatnya Ke Ujungberung, Benjang bukan sekadar tontonan. Ia adalah denyut nadi Kelompok yang memadukan ketangkasan gulat, irama Alunan, dan keelokan tari Sunda. Biasanya, Karya Seni ini menjadi primadona yang menghidupkan suasana Di berbagai hajatan warga.
Adalah Jaun, sosok Ke balik komunitas Pusaka Gurat Jati, yang konsisten merawat Kearifan Lokal ini Dari 2016. Baginya, Benjang adalah amanah, sebuah warisan berharga yang diturunkan langsung Bersama mendiang ayahnya. Jaun menjelaskan bahwa Di praktiknya, Benjang terbagi menjadi dua kategori utama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Benjang gulat itu pertarungan antar dua orang layaknya pegulat Ke Di ring tinju. Nah kalau helaran Terbaru benjang yang umumnya ditampilkan Pada seseorang punya hajat,” ujar Jaun Pada diwawancarai, Senin (28/9/2026).
Ruang kerja Jaun menjadi saksi bisu lestarinya Kearifan Lokal Dunia ini. Ke sana, berbagai alat peraga tersusun rapi, mulai Bersama bangbarongan, sisingaan, rajawali, hingga kuda lumping. Harmoni Alunan yang mengiringinya pun unik, perpaduan Di instrumen tradisional seperti kendang, bedug, dan gong, yang kini bersanding mesra Bersama raungan gitar elektrik.
Di Kearifan Lokal Kelompok setempat, kehadiran Benjang sering kali berkaitan erat Bersama fase hidup seorang anak laki-laki. Usai menjalani proses khitan, sang anak biasanya Berencana diarak menggunakan sisingaan atau rajawali. Ini adalah simbol syukur sekaligus pesta kegembiraan Untuk sang anak yang telah berani melewati masa transisi Ke kedewasaan.
|
Karya Seni Benjang Ujungberung Foto: istimewa
|
Fleksibilitas Benjang membuatnya tetap relevan hingga tahun 2026 ini. Jaun menyebut Karya Seni ini bisa hadir Ke mana saja, mulai Bersama Peristiwa ulang tahun, peringatan Agustus-an, hingga hiburan rakyat biasa.
Benjang terus Menyesuaikan Bersama zaman, terlihat Bersama pemilihan lagu dan instrumen yang kian modern. Akan Tetapi, jika panggung meminta Prototipe buhun atau pakem tradisional, maka lagu-lagu Sunda klasik seperti Kidung, Buah Kawung, Bangbung Hideung, hingga Kemanggadung wajib dikumandangkan.
Penghormatan Ke Leluhur
Sebelumnya keriuhan dimulai, ritual doa dan penyajian sesajen menjadi prosedur yang tak boleh terlewatkan. Untuk para pegiatnya, ini adalah bentuk penghormatan kepada arwah leluhur Untuk keselamatan seluruh personel Pada pertunjukan berlangsung.
Jaun menegaskan bahwa penggunaan sesajen bukanlah bentuk kemusyrikan. Baginya, manusia dan benda-benda tersebut hanyalah perantara, Sambil Itu Tuhan tetaplah sumber kekuatan yang mutlak. Sesajen adalah cara Kelompok menjaga Kearifan Lokal dan menghargai mereka yang telah mendahului.
Bangbarongan sebagai salah satu properti pertunjukan Karya Seni benjang milik Pusaka Gurat Jati Foto: Siti Nurhaliza Safitri/detikJabar |
Atraksi Ke Luar Nalar
Puncak Bersama pertunjukan Benjang sering kali membuat bulu kuduk berdiri. Selain tarian yang enerjik, penonton Berencana disuguhi atraksi ekstrem seperti memakan beling hingga ayam hidup. Hal ini terjadi Sesudah entitas lain diizinkan ‘meminjam’ tubuh sang penampil.
Sambil Menunjukkan rekaman video anggota Pusaka Gurat Jati yang Di beraksi, Jaun menjelaskan bahwa para penampil berada Di Situasi tidak sadar. Itulah mengapa mereka tidak merasakan sakit atau mual, Sebab raga mereka hanyalah medium Untuk kekuatan lain.
Ke akhirnya, Benjang bukan sekadar atraksi mistis. Ia adalah refleksi spiritual Untuk warga Bandung Sebagai selalu mengingat kebesaran Tuhan. Bahwa jika Sang Pencipta berkehendak, hal-hal yang mustahil bisa saja terjadi. Lebih Bersama itu, Benjang membawa pesan mendalam tentang pentingnya menghormati alam semesta dan menjaga harmoni Ke Di keberagaman.
(dir/dir)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Di Karya Seni, Mistis dan Kearifan Lokal Ke Timur Bandung












