Bandung –
Untuk khazanah sastra Indonesia, ada novel tiga jilid yang merupakan Tanpapemenang kesatria hutan larangan. Ketiganya masing-masing berjudul ‘Pangeran Anggadipati’, ‘Banyak Sumba’, dan ‘Pertarungan Terakhir’.
Terbit Di tahun 2008, cerita ini ditulis Bersama Saini K.M., penulis kawakan kelahiran Sumedang, Jawa Barat. Literatur itu memang penuh Bersama adegan silat. Kecuali adegan pertarungan dan pelarian yang menegangkan, banyak juga ditemukan ungkapan-ungkapan kebijaksanaan yang bisa direguk Sebagai disesuaikan Bersama kehidupan sehari-hari pembacanya.
Untuk cerita berseri tersebut, ada fragmen tentang ketidakbolehan seorang satria, prajurit, atau puragabaya mempelajari ilmu pemerintahan. Mengapa demikian? Ada alasan yang dijelaskan Untuk bentuk dialog yang nanti Berencana dikutipkan Untuk artikel ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan Tetapi, Sebelumnya itu, sejumlah istilah perlu diketahui dahulu maknanya Sebelumnya masuk Ke Untuk cerita berlatar zaman Kerajaan Sunda Pajajaran ini.
Istilah Puragabaya
Saini K.M. menuliskan kisah kesatria hutan larangan itu Bersama menaburkan kata-kata Sunda Ke Untuk jalinan cerita yang menggunakan bahasa Indonesia, termasuk kata ‘puragabaya’ sendiri yang tidak ditemukan Untuk KBBI daring.
Ke Untuk kamus Sundadigi, lema puragabaya juga tidak ditemukan. Yang ditemukan hanya kata ‘Purabaya’ tanpa ‘ga’. Purabaya punya arti satria Untuk cerita pewayangan. Misalnya tokoh Gatotkaca. Satria sendiri menurut kamus yang sama bermakna prajurit.
Lalu apa makna Puragabaya? Mungkin Saja saja ini gabungan Bersama dua kata. Jika dipecah lalu disatukan kembali, maknanya agak mengena. Puragabaya disusun atas kata ‘Puraga’ dan ‘Baya’.
Puraga berarti ‘hal-hal yang harus dilakukan’ atau perintah, dan ‘Baya’ adalah bahaya. Puragabaya punya makna ‘orang yang harus mengerjakan hal-hal paling bahaya’.
Lantaran tugasnya yang berat ini, tentu Puragabaya bukan prajurit sembarangan. Dia harus Memiliki ilmu keperwiraan yang sangat tinggi, sesuai Bersama tugas yang Berencana diemban, yakni menciptakan Perlindungan Ke seluruh Pajajaran.
Mari kita kutip dialog Ke Untuk Literatur pertama, Pangeran Anggadipati:
“Anakku, tidakkah kau senang dipilih menjadi Pengawal Pribadi sang Prebu?” ayahandanya balik bertanya Bersama penasaran. (hal. 14)
Kutipan tersebut menjelaskan bahwa Puragabaya bukan orang sembarangan dan bukan ditempatkan Ke sembarang tempat, melainkan Ke sisi prabu atau raja. Perwira yang langsung melindungi dan ada Ke lingkungan kerajaan.
Gemblengan Sebagai Kandidat Puragabaya
Puragabaya merupakan satu Bersama dua pekerjaan mulia Untuk pangeran-pangeran Bersama kerajaan-kerajaan kecil Ke bawah sistem federal Kerajaan Sunda beribukota Ke Pajajaran. Pekerjaan lainnya adalah menjadi Pembantu Pemimpin Negara Ke pemerintahan.
Sebagai teureuh bangsawan, setiap pangeran Ke kerajaan-kerajaan kecil itu dilecut Sebagai mempelajari naskah-naskah lontar tentang ilmu pemerintahan. Akan Tetapi, apakah Karena Itu Pembantu Pemimpin Negara atau Karena Itu perwira, tergantung situasi Bangsa dan apa titah Bersama Kota Besar Sebagai pangeran-pangeran itu.
Situasi dapat berubah sewaktu-waktu jika Bangsa kekurangan Kandidat-Kandidat perwira. Pangeran-pangeran berumur belasan tahun itu Berencana dipilih Sebagai menjadi Kandidat puragabaya.
Kandidat puragabaya Berencana menjalani Pelatihan sangat berat Ke sebuah padepokan yang disebut Padepokan Tajimalela. Padepokan ini berada Ke puncak gunung yang tidak diketahui lokasinya Bersama sembarangan orang. Hanya para pendidik dan orang-orang terpilih saja yang bisa sampai Ke tempat itu. Padepokan itu dipimpin Eyang Resi Tajimalela.
Ke tempat ini, para Kandidat puragabaya dilatih Sebagai punya ilmu silat yang tinggi Supaya mampu bertarung Bersama efektif dan Berhasil. Selain ilmu silat tingkat tinggi Bersama Melewati Pelatihan-Pelatihan yang berat, para Kandidat puragabaya itu juga dilatih Sebagai mempunyai budi yang halus Bersama ajaran-ajaran karesian atau kependetaan.
Ini penting, sebab tanpa pengendalian emosi yang baik, tubuh mereka yang telah terlatih Berencana menjadi bahaya Untuk orang lain dan dirinya sendiri. Supaya, purgabaya itu boleh dikatakan perwira sekaligus resi.
Dwifungsi Satria Untuk Cerita Puragabaya
Satria yang diistilahkan Bersama puragabaya Untuk cerita gubahan Saini K.M. berlatar zaman Pajajaran Ke Sunda ini menyiratkan tidak boleh adanya hasrat seorang puragabaya Sebagai menduduki posisi-posisi pemerintahan.
Sebagai memastikan ketiadaan hasrat itu, kemampuan puragabaya Untuk bidang pemerintahanpun ditiadakan, yaitu Bersama cara tidak boleh seorang Kandidat puragabaya mempelajari ilmu pemerintahan.
Penjelasan hal ini muncul Untuk dialog Antara Pangeran Anggadipati Bersama ayahnya, ketika Anggadipati terpilih Bersama Padepokan Tajimalela Sebagai menjadi Kandidat puragabaya, menggantikan Kandidat Sebelumnya Itu yang meninggal dunia Pada menjalani Pelatihan-Pelatihan berat.
Berikut ini dialog tersebut:
“Ayahanda, apakah kedudukan seorang puragabaya lebih kurang terhormat Bersama kedudukan seorang Pembantu Pemimpin Negara?”
“Sama sekali tidak, anakku,” ujar Ayahandanya, “yang menyedihkan Untuk kami adalah bahwa kau tidak boleh lagi menyentuh ilmu kenegaraan yang sangat cocok Untuk bakatmu itu.”
“Mengapa tidak boleh, Ayahanda?”
“Anakku, kalau seorang puragabaya tahu Berencana ilmu kenegaraan, maka Mungkin Saja sekali ia Di suatu kali ingin menjadi orang berkuasa dan memerintah. Ini Berencana berbahaya sekali. Kalau seorang puragabaya menjadi Pembantu Pemimpin Negara, misalnya, itu berarti bahwa Di dirinya bersatu dua kekuatan, yaitu kekuasaan seorang Pembantu Pemimpin Negara dan keperkasaan seorang puragabaya. Kekuasaan dan kekuatan lahiriah ini tidak boleh bersatu, Lantaran Berencana berbahaya. Seandainya puragabaya yang menjadi Pembantu Pemimpin Negara itu baik, Berencana beruntunglah Bangsa dan bangsa kita. Sebagai Gantinya kalau puragabaya itu meninggalkan asas-asas kesatriaan dan kependetaan, Berencana sukar Untuk rakyat Pajajaran Sebagai menggantikannya, Lantaran puragabaya Memiliki keperkasaan yang sangat ampuh itu. Itulah sebabnya, anakku, kau Berencana dilarang menyentuh ilmu kenegaraan, Malahan segala kenangan Berencana ilmu itu Berencana dihapus Bersama pikiranmu Untuk daun-daun lontar yang berisi catatanmu Berencana dibakar bersamanya.” (hal. 15-16)
(iqk/iqk)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Dwifungsi Satria Untuk Cerita Puragabaya Zaman Pajajaran