Galeri Ruhiyat dan Jejak Pelestarian Wayang Golek Ke Jantung Bandung



Bandung

Ke salah satu sudut Kota Bandung, tak jauh Bersama Hotel Savoy Homann, berdiri Galeri Ruhiyat, sebuah ruang pelestarian Kebiasaan Global yang legendaris. Galeri ini didirikan Ke 1961 Dari mendiang Alun Ruhiyat, maestro Karyaseni yang mengawali kariernya sebagai pelukis Sebelumnya akhirnya mendedikasikan diri Ke Karyaseni kriya wayang golek.

Ruhiyat mulai beralih Hingga Seni Kekayaan Budaya wayang golek Ke 1958. Tatang Heryana, putra sekaligus penerus galeri tersebut menuturkan ayahnya semula memproduksi wayang Ke kawasan Cibadak. Terbaru Ke 1973, pusat produksi dipindahkan Hingga jantung Kota Bandung, yakni Ke kawasan Hotel Savoy Homann Untuk menjangkau wisatawan yang mulai ramai berkunjung.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Awalnya (produksi) Sebagai memasok kebutuhan dalang Ke tahun 1960-an. Tahun 1973 pindah Hingga sini, Di Hotel Homann, Supaya mulai banyak turis yang datang,” ujar Tatang kepada detikJabar, Jumat (13/9/2024).

Tatang mengaku sudah akrab Bersama dunia wayang Dari kecil. Ketertarikan itu tumbuh menjadi Kegemaran yang diwariskan secara turun-temurun. “Sudah Kegemaran, memang senang. Bersama kecil sudah belajar mengecat, lalu coba-coba mengukir,” ungkapnya.

Hingga kini, Galeri Ruhiyat konsisten mempertahankan proses produksi tradisional Untuk menjaga Mutu. Tatang menangani pembuatan badan wayang, Sambil sang istri mengerjakan Pada busana. “Sekarang Pada baju dikerjakan istri saya. Dulu, kakak saya yang membuat baju-bajunya,” kata Tatang.

Pusat Pelatihan Karyaseni Wayang

Selain tempat produksi, Galeri Ruhiyat berperan penting sebagai pusat Pelatihan Karyaseni wayang golek Ke Bandung. Mendiang Ruhiyat tidak hanya berkarya, tetapi juga menurunkan ilmunya kepada banyak orang. Galeri ini Malahan Memiliki hubungan historis yang erat Bersama Saung Angklung Udjo.

Menurut Tatang, meski kini Saung Udjo telah Memiliki perajin sendiri, banyak Bersama mereka merupakan murid atau generasi didikan ayahnya. “Pak Ruhiyat dulu mengajar banyak orang, termasuk Ke Saung Udjo. Sekarang mereka sudah punya perajin sendiri, tapi akarnya tetap Bersama murid-murid Pak Ruhiyat,” tuturnya.

Galeri Ruhiyat menyediakan berbagai produk Bersama tingkat detail beragam, mulai Bersama ukuran standar hingga wayang besar Bersama ukiran rumit. Tersedia pula suvenir seperti magnet kulkas berbentuk wayang hingga pulpen berukir.

Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai Bersama Rp20.000 hingga Rp600.000, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Meski Sebelumnya Itu aktif melakukan Penjualan Barang Hingga Luar Negeri, Pada ini penjualan lebih difokuskan Ke galeri fisik akibat meningkatnya biaya pengiriman internasional.

Tatang Heryana, putra sekaligus penerus Galeri Ruhiyat. Foto: Fauzan Muhammad

Mengenal Karakter Wayang Golek

Estetika wayang Ke Galeri Ruhiyat tak sekadar mengejar keindahan visual, tapi juga menyimpan bahasa simbolik. Perbedaan mencolok Di gaya klasik dan modern terlihat Ke bentuk mata: wayang klasik umumnya bermata sipit atau sayu, sedangkan gaya modern digambarkan Bersama mata yang terbuka lebar.

Warna wajah wayang pun sarat makna filosofis yang merepresentasikan watak manusia. Merah melambangkan amarah atau sifat buruk, putih mencerminkan kesucian, krem menyimbolkan kebijaksanaan, Sambil kuning identik Bersama kelicikan.

Makna filosofis ini juga melekat Ke atribut seperti siger (mahkota). Tatang menjelaskan, Untuk bahasa Sunda, siger berasal Bersama istilah sinager Di.

“Artinya otak Di. Pikiran harus berada Ke Di-Di, jangan terlalu condong Hingga kanan atau Hingga kiri,” jelas Tatang.

Pesan tersebut mengajarkan pentingnya Kesejaganan Untuk hidup. Selain mahkota, simbolisme hewan seperti ular yang terikat Ke tubuh wayang turut berfungsi sebagai pengingat Akansegera kefanaan manusia.

Meredupnya Eksistensi Wayang Golek

Tetapi, Ke Di zaman yang serba cepat, wayang golek seakan tak Menyambut tempat. Mayoritas Kelompok lebih condong Ke Kebiasaan Global digital ketimbang Seni Kekayaan Budaya tradisional. Eksistensi wayang golek pun akhirnya meredup.

Tatang mengungkapkan keprihatinannya Di jarak yang kian lebar Di generasi muda dan akar Kebiasaan Global mereka. Meski Galeri Ruhiyat sempat berjaya hingga tampil Ke Jakarta Fair 1968 dan menembus pasar mancanegara, kini minat domestik justru lesu.

Ironisnya, Pada Kelompok lokal mulai acuh tak acuh, wisatawan mancanegara-terutama Bersama Belanda dan Prancis-justru rutin berkunjung Sebagai mendalami filosofi setiap tokoh. Tatang mengungkapkan kekecewaannya Di anak muda yang kini lebih tertarik Ke Kebiasaan Global Barat.

“Anak muda sekarang sudah jauh (Bersama Kebiasaan Global ini), lebih senang Kebiasaan Global Barat. Padahal orang luar masih banyak yang datang Hingga sini Sebagai mengenal karakter wayang,” ungkap Tatang.

Galeri Ruhiyat kini terus bertahan Untuk menjaga warisan yang dahulu menjadi tempat belajar para tokoh Karyaseni besar. Tatang berharap filosofi sinager Di yang mengajarkan agar pikiran tetap berada Ke Di dan seimbang, tidak benar-benar hilang Bersama benak Kelompok.

Untuk Anda yang tertarik mempelajari atau mengoleksi wayang golek, Galeri Ruhiyat berlokasi Ke Jalan Pangarang Bawah IV No 78 17B, Cikawao, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung.

(sud/sud)

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Galeri Ruhiyat dan Jejak Pelestarian Wayang Golek Ke Jantung Bandung