Klungkung -
Bersama era kejayaan dan runtuhnya Orde Terbaru, tragedi Bom Bali, hantaman Wabah Dunia COVID-19, hingga ketidakpastian Dunia akibat Pertempuran Teluk Di ini, pintu galeri Art Shop Lukisan Wayang Tradisional Kamasan I Made Sondra tetap terbuka. Berdiri kokoh, menjaga garis-garis wayang klasik tetap berwarna, tak luntur Dari perubahan zaman.
Sebelum 1980, ratusan lukisan Di art shop lukisan wayang tradisional kamasan I Made Sondra telah terpajang menjadi saksi bisu pasang dan surut nasib Perjalanan Hingga Luarnegeri tanah air. Di tangan I Made Sondra (83) dan istrinya, Ni Ketut Murki (77), Lukisan Bersama kain belacu itu tetap terlukis, meski bom pernah meledak, nilai Kurs Matauang Nasional anjlok, hingga gerbang dunia tertutup Diskusi Dari Wabah Dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Empat setengah dekade bertahan bukan sekadar soal angka, melainkan bukti keteguhan sebuah usaha. Memilih Untuk terus menggoreskan Kebiasaan peninggalan leluhur Di Di badai ekonomi yang silih berganti.
Sabtu pagi yang cerah (11/4/2026), detikBali mendatangi art shop lukisan wayang tradisional Kamasan I Made Sondra Di kediamannya, lingkungan Banjar Sangging, Desa Kamasan, Kecamatang Klungkung, Kabupaten Klungkung. Istrinya Ni Ketut Murki Bersama senyum ramah membukakan pintu galeri.
“Sudah satu bulan ini, Sebelum Maret benar-benar sepi,” kata Murki menjelaskan Kebugaran terkini art shopnya.
“Lantaran Pertempuran ini,” ujar Sondra melengkapi kalimat istrinya.
Krisis itu bukan yang pertama. Supaya wajar jika Bersama wajah mereka, terlihat ekspresi yang nampak telah terbiasa Berjuang Bersama pasang-surut pembeli.
Bersama sana Murki mengajak detikBali kembali Hingga masa lampau. Tahun 1980. Awal masa keemasan Perjalanan Hingga Luarnegeri Bali Sebelumnya Ke puncaknya Di 1995 yang dikenal sebagai ‘the golden age of tourism’ Di Pulau Dewata.
Inisiatif membangun galeri berawal Bersama banyaknya wisatawan mancanegara yang datang Hingga Kamasan. Awalnya Murki dan suaminya Sondra menjual lukisannya Hingga galeri-galeri besar Di kota. Tetapi Lalu, melihat potensi pasar yang bisa ia kembangkan Di desanya sendiri.
“Awalnya menjual yang saya produksi sendiri. Sesudah besar, kami mulai Memutuskan lukisan Bersama warga Disekitar. Mereka juga bekerja Di sini,” jelas Murki.
Art shop mereka berkembang pesat. Hingga menemui krisis moneter Di 1997. Meski terbantu Dari Kurs Mata Uang Kurs Matauang Foreign yang kuat, dampak sosial ekonomi Di Lokasi tetap terasa.
Melewati krisis pertamanya, art shop I Made Sondra kian berkembang. Hingga mereka kembali menemui sepinya kunjungan wisatawan akibat tragedi Bom Bali Di 2002. Disusul bom Bali II Di 2005.
Badai krisis yang menyurutkan kedatangan wisatawan Hingga Bali datang lagi Di COVID-19 Di 2020. Dan sekarang dampak Pertempuran Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran yang Di mereka rasakan.
Bersama satu krisis Hingga krisis lain, mereka mengatakan tak pernah berhenti membuat lukisan. Belakangan Murki juga kian aktif membuat karya Karyaseni turunan Bersama lukisan Kamasan. Hal itu berupa kipas, vas bunga, gantungan Kunci, dan souvenir lainnya yang dihiasi lukisan khas wayang Kamasan.
“Tidak pernah berhenti. Apa saja yang bisa diisi lukisan dikerjakan,” kata Murki.
Semangat bertahan itu tidak muncul begitu saja. Untuk pasutri lansia yang dikaruniai empat anak ini, melukis wayang tradisional Kamasan merupakan sebuah Kebiasaan. Bukan hanya pekerjaan Untuk membuat asap dapur tetap mengepul, Tetapi kesadaran Untuk menjaga Kebiasaan Global peninggalan nenek moyang yang turun-temurun Di sana.
“Bersama kecil, saya sudah melukis. Ibu saya, nenek saya juga melakukannya. Semua ibu-ibu Di Banjar Sangging ini melakukannya. Tidak ada yang Dari Sebab Itu petani,” jelasnya.
Di Di kunjungan wisatawan sepi, mereka masih bisa bertahan Bersama orderan Bersama Hotel dan perkantoran. Salah satunya seperti orderan suvenir lukisan wayang kamasan Bersama salah satu hotel Di Ubud.
“Setiap bulan kami tetap terima orderan Bersama hotel,” jelasnya.
Gambar dan Harga Bervariasi
Lukisan wayang tradisional Kamasan identik Bersama gaya khas ukirannya yang rumit, kompleks, perpaduan warna, dan tokoh-tokoh khasnya yang diambil Bersama epos Hindu Mahabarata dan Ramayana.
Murki memperlihatkan lukisan Arjuna, Ganesha, Hanoman, Ramayana. Ia menjelaskan, lukisan Karyaseni klasik Kamasan menggambarkan tokoh utama Untuk Mahabarata seperti Yudhistira/Punto Dewo, Arjuna, Nakula, Duryodana, Aswatama dan Kresna. Ada juga tokoh Ramayana seperti Subali, Sugriwa, dan Rahwana.
Tak hanya gambar Di lukisan, harganya juga bervariasi. Tergantung ukuran. Mulai Bersama ukuran Lukisan 15×20 cm Rp 200 ribu, 30×40 cm Rp 400 ribu, 40×60 cm Rp 600 ribu, sampai ukuran besar 60×80 cm Rp 2 juta. Ada juga ukuran 75×140 cm yang harganya sampai Rp 10 juta.
Harga tersebut dibanderol Untuk tamu lokal atau Untuk negeri. Sedangkan mancanegara lain lagi.
Mengenai harga, Murki tak mengingat perubahan harga Bersama tahun Hingga tahun Sebelum pertama kali ia menjual lukisannya.
“Sudah lupa. Berapa dulu itu harganya,” katanya sembari tersenyum.
Diyakini Akansegera Tetap Lestari
Lukisan wayang tradisional Kamasan merupakan sebuah Karyaseni lukis yang dikerjakan secara kolektif. Mulai Bersama proses menggambar sketsa, Lalu pewarnaan tahap pertama, tahap kedua, sampai ketiga atau tahap akhir.
Di galeri miliknya, Murki dan Sondra Menunjukkan gambar detail tahapan melukis, juga pewarna alami Bersama batu yang digunakan. “Sekarang sudah menggunakan akrelik,” jelasnya.
Tak jauh Bersama Tatakan tempat mewarnai lukisan, terpajang sebuah lukisan wayang Kamasan yang kata Murki berusia ratusan tahun. Lukisan itu ada dua. Pertama lukisan murtian, dan kedua lukisan yang menggambarkan cerita rakyat.
“Ini contoh yang dibuat Bersama pewarna alami. Usianya sudah ratusan tahun, tapi warnanya belum pudar sama sekali,” terangnya.
Di Di Itu, ia juga memperlihatkan lukisan pertamanya Sebelum membuka art shop bertajuk Arjuna yang Di bertapa. Lukisan itu menggambarkan Arjuna yang Di bertapa dan kelilingi Dari gadis-gadis yang menggoda pertapaannya.
“Ini tahun 1980. Kanvasnya Bersama kain tenun. Saya mewarnainya satu bulanan,” kenangnya.
Sebagai ibu Tempattinggal tangga, ia juga memastikan jika anak cucunya mencintai dan Akansegera menjaga warisannya berupa galeri art shop-nya.
Murki mengatakan tak menaruh khawatir Di ancaman kepunahan akibat perkembangan zaman. Ia meyakini, Akansegera selalu ada penerus yang menjaga dan melestarikan lukisan wayang tradisional kamasan. Barangkali keyakinan itu muncul Bersama bagaimana mereka tetap bisa mempertahankan galeri tetap terbuka Di Di badai krisis yang datang silih berganti.
(hsa/hsa)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Galeri Tua yang Menolak Punah











