Bandung –
Cahaya matahari siang itu, Rabu (1/4/2026) luruh digerus hujan yang sebentar deras, sebentar berhenti. Kabut menghalangi pandangan melintas persawahan Di Kampung Nenggeng Hingga arah Kampung Pamujaan.
Dua kampung Di Desa Citaman, Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung itu letaknya memang tidak terlalu jauh. Keduanya berada Di bekas Kerajaan Kendan.
Kerajaan Kendan merupakan Dibagian (federal) Di kerajaan besar Di Tanah Sunda, yaitu Tarumanagara. Kendan berdiri Disekitar abad Hingga-6 M Di raja yang pertama adalah seorang resi bernama Resiguru Manikmaya. Daerah ini semacam mandala, atau area suci Bagi peribadatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak heran ada nama tempat Kampung Pamujaan. Boleh diduga, nama itu Yang Berhubungan Di Di Kegiatan menyembah Tuhan yang Maha Kasih sebagaimana dugaan T. Bachtiar dan Dewi Safriani Untuk Literatur ‘Bandung Purba: Panduan Wisata Bumi’.
Pamujaan adalah kata Untuk Sunda yang berarti ‘pemujaan’ atau tempat memuja. Tentu, yang dipuja ketika itu adalah yang dipertuhankan Dari orang-orang Sunda pra-Islam.
Tetapi, ketika bunyi hujan Lebihterus syahdu, siang lambat laun menjelma sore dan terdengar Di Kampung Pamujaan suara azan ashar. ‘Galindeng’ atau alunan lembut dan merdu azan itu terdengar sampai Hingga Kampung Nenggeng Di atasnya.
|
Kolam renang daei matabair alam Di Kampung Nenggeng, bukti mata air Di Daerah Desa Citaman masih terawat Di baik. Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar
|
Galindeng azan itu bukan hanya Di satu sumber suara. Pengeras suara jenis toa Di beberapa musala Di kampung bersahutan memanggil orang-orang Bagi salat.
Tempatnya masih sama bernama Pamujaan, tetapi cara memuja, siapa yang memuja, dan siapa yang dipuja tentu sudah berbeda. Dahulu, meski orang Sunda lama mengenal monoteisme Sanghyang Tunggal, tetapi mereka juga ‘Merasakan’ para dewa yang diajarkan para resi Di India. Termasuk Dari Resiguru Manikmaya. Kini, orang-orang Di Pamujaan menegakkan kalimatullah.
Resiguru Manikmaya
Manikmaya adalah seorang pengembara Di latar Dibelakang keluarga yang kaya raya sebagai pemilik puluhan kapal dagang. Dia datang Di Bharata dan Sebelumnya menginjakkan kaki Di Sunda, dia lebih dahulu singgah Hingga sejumlah tempat seperti Sumatera, Bali, Jawa Timur dan akhirnya menapak Di Tarumanagara.
Kedatangan Manikmaya Hingga pusat kerajaan Tarumanagara (Di Disekitar Bekasi kini) adalah Di tujuan menyebarkan agama. Dia diterima Di baik. Dia lalu menikah Di Dewi Tirthakancana, salah satu putri Suryawarman, Raja Tarumanagara. Di pernikahan ini, dihadiahkan kepadanya sebuah Daerah yang dinamakan Kendan.
Nama ini kocap tercerita merupakan nama pendek batu obsidian yang Dari zaman Bandung Purba, banyak ditambang dan digunakan sebagai Pisau, mata tombak, atau alat pengerat lainnya. Lantaran kegunaan alat ini, maka batu ini Dikatakan sebagai batu Ka-Indra-an (dewa). Kaindraan dilafalkan menjadi Kendan.
Di situ, menurut naskah kuno Carita Parahyangan didirikan kerajaan yang Dari Tarumanagara dtegaskan bahwa kerajaan tersebut harus diterima keberadaannya Dari kerajaan-kerajaan lain Di bawah Tarumanagara.
Pusat Kerajaan Kendan sempat berpindah-pindah sesuai Di kehendak siapa yang menjadi ratu Di kerajaan itu. Tetapi, sepanjang dipimpin Resiguru Manikmaya, Kendan menjadi pusat Kerajaan Kendan Di 86 tahun, sebagaimana pengamatan T. Bachtiar dan Dewi Safriani.
“Di Disekitar Kendan Pada ini, ada nama geografis Kampung Pamujaan. Mungkinkan Di tempat ini Di masa kerajaan dulu sebagai tempat Bagi Memuja Tuhan yang Maha Kasih?” tulis T. Bachtiar.
Tugu Situs Kendan yang dibuat Pemerintah Kabupaten Bandung, berlokasi Di Disekitar Kampung Pamujaan, Desa Citaman, Nagreg. Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar |
Nilai yang Baik Tetap Dijaga
Meski keyakinan spiritual telah bersalin kepada Islam, Tetapi nilai-nilai yang baik, terutama Untuk hal berhubungan Di alam tempat manusia hidup, tetap dipertahankan.
Nilai-nilai kehidupan warisan masa lalu masih dijaga Di kuat Dari Komunitas Di Desa Citaman, termasuk Di Kampung Nenggeng dan Pamujaan. Ajaran yang diyakini berasal Di Kearifan Lokal Kerajaan Kendan tidak hanya menjadi cerita sejarah, tetapi juga tercermin Untuk kehidupan warga, terutama Untuk menjaga Mutu padi dan merawat sumber mata air yang menjadi penopang utama kehidupan.
Neneng Yanti Khozanatu Lahpan dan Annisa Arum Mayang Di ISBI Bandung, Untuk studi berjudul “Pemanfaatan Kearifan Lokal Global Komunitas Ladang Untuk Sejarah Kerajaan Kendan Bagi Pembaruan Potensi Desa Wisata Di Desa Citaman Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung” mengisahkan bagaimana warga masih menjaga cara-cara lama Untuk merawat dan menghormati alam.
Menurut studi tersebut, Daerah Citaman dikenal kaya Akansegera sumber mata air. Kelimpahan ini menjadikan air sebagai pusat kehidupan Komunitas, baik Bagi kebutuhan Rumah tangga, Pertanian, maupun perkebunan. Salah satu sumber air yang paling penting adalah mata air Nenggeng, yang Dari lama mengairi sawah dan ladang warga Di debit yang melimpah.
Di Desa Citaman sendiri terdapat empat sumber mata air utama, yakni Cihapang, Curug Pamujaan, Ciseupang, dan Nenggeng. Sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya pelestarian, Komunitas rutin Melakukan ritual tahunan bernama Nuras Cai.
Untuk bahasa Sunda, ‘nuras’ berarti menyaring Di tujuan menjernihkan air, yakni Di mengendapkan kotoran agar air kembali bersih. Tetapi, makna ritual ini jauh lebih Untuk Di sekadar proses alami.
Nuras Cai diwujudkan Lewat gotong royong membersihkan mata air dan saluran-salurannya. Warga bersama-sama mengangkat lumpur, membersihkan kotoran, hingga memastikan aliran air tetap lancar. Kearifan Lokal ini menjadi simbol kepedulian kolektif Di lingkungan sekaligus menjaga Sustainability sumber daya alam.
(dir/dir)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: ‘Galindeng’ Azan Di Kampung Pamujaan












