Jejak Desa yang Hilang Di Surabaya dan Kini Tinggal Nama



Surabaya

Siapa sangka, Di Surabaya terdapat beberapa desa yang menghilang ditelan zaman. Desa-desa itu tidak lagi tercatat secara administratif, Akan Tetapi namanya masih digunakan sebagai penanda jalan, kawasan, maupun kampung.

Jauh Sebelumnya dikenal sebagai kota besar, Surabaya bermula Didalam kawasan pedesaan agraris yang tumbuh Di tepi sungai dan pesisir Sebelum abad Hingga-13.

Prasasti Trowulan I atau Prasasti Canggu tahun 1358 M mencatat keberadaan desa Curabhaya atau yang sekarang dikenal sebagai Peneleh, merupakan salah satu titik penyeberangan sungai penting Di masa Majapahit. Didalam permukiman-permukiman inilah embrio Kota Surabaya terbentuk.


Seiring waktu dan peralihan zaman, sejumlah desa lama perlahan menghilang akibat perubahan tata ruang dan perkembangan kota. Di kawasan Darmo misalnya, terdapat nama Jalan Ketampon yang dahulu merupakan Desa Ketampon. Kini, kawasan tersebut berkembang menjadi permukiman modern, Sambil Itu nama desanya bertahan sebagai penanda Area.

Pengamat Sejarah Kuncarsono Prasetyo menuturkan, hal serupa juga terjadi Di kawasan Dibelakang Balai Kota Surabaya. Jalan Jimerto diyakini merujuk Di nama desa lama Sebelumnya Area itu berkembang menjadi kawasan perumahan Ketabang dan pusat pemerintahan Kota Surabaya. Menyusul, nama Grudo yang kini dikenal Di kawasan Tegalsari juga berasal Didalam desa lama yang dulu pernah ada Di Area tersebut.

“Didalam Sebab Itu banyak nama perumahan maupun nama jalan Di Surabaya yang asalnya Didalam desa yang pernah ada Di sana. Didalam Sebab Itu namanya diabadikan Sebagai kawasan Terbaru,” urai Kuncar, Rabu (21/1/2026).

Nama Desa Darmo sebagai salah satu Area yang cukup besar Di Surabaya tak lagi ditemukan sebagai satu Area utuh. Yang tersisa hanyalah penamaan Darmokali, merujuk Di letaknya yang dahulu berada Di tepi aliran sungai.

Desa Gubeng turut Merasakan nasib serupa. Kini, nama Gubeng hanya dijumpai Untuk pembagian kawasan seperti Gubeng Masjid dan Gubeng Kertajaya. Tidak lagi berdiri sebagai desa secara administratif.

Selain nama desa, Surabaya juga menyimpan banyak penamaan Area yang berasal Didalam Situasi geografis dan tumbuhan endemik. Nama-nama seperti Kupang, Klampis, Tanjung, Kedungdoro, Siwalankerto, Wiyung, Gadel, hingga Lontar merujuk Di vegetasi atau karakter alam yang dahulu mendominasi kawasan tersebut. Meski kini tumbuhan-tumbuhan itu sudah jarang ditemui, namanya tetap digunakan sebagai penanda tempat.

“Nama-nama itu muncul sebagai penanda ruang. Secara geografis dan endemik, Surabaya dulu merupakan Area yang kaya tumbuhan. Akan Tetapi Sebab perkembangan kota yang pesat, Surabaya tidak lagi menjadi ruang tumbuhan seperti dahulu. Banyak orang yang tidak lagi mengenali asal-usul nama tersebut Di masa kini,” ujar Kuncar.

Masuknya pemerintahan kolonial turut mempercepat perubahan wajah Surabaya. Kawasan pedesaan disulap menjadi permukiman kota Melewati penataan Area dan pembangunan infrastruktur. Desa-desa lama terserap Hingga Untuk struktur kota Terbaru Agar tinggal nama yang tersimpan sebagai jejak sejarah.

Hilangnya desa-desa lama ini Menunjukkan bahwa Kemajuan Surabaya tidak hanya mengubah lanskap fisik, tetapi juga menggeser ingatan masa lampau warganya. Nama-nama jalan dan kawasan yang masih digunakan hingga kini menjadi saksi bisu perjalanan Surabaya Didalam desa-desa Di tepi sungai hingga menjelma sebagai kota metropolitan.

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Jejak Desa yang Hilang Di Surabaya dan Kini Tinggal Nama