Bandung –
Jauh Sebelumnya tersohor Di Forest Walk-nya, Babakan Siliwangi merupakan hamparan sawah Di pepohonan lebat dan balong. Kawasan ini adalah ruang temu para seniman; sebuah ruang yang hidup Di sunyi, jauh Di keriuhan kota.
Ke 1940-an, berdiri Sanggar Karyaseni Pak Kartono. Ke sinilah maestro Karyaseni Indonesia seperti Affandi, AD Pirous, hingga Rudiat berkumpul dan bertukar gagasan. Selain sanggar, kawasan tersebut dulunya menjadi pangkalan delman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tatang, Ketua Sanggar Olah Karyaseni Pada ini, menceritakan dahulu berdiri sebuah Rumah peninggalan Bung Karno Ke sana. “Rumah itu konon hadiah Di Bung Karno, tapi sekarang justru Karena Itu tempat sampah,” kenang Tatang Pada berbincang Di detikJabar, belum lama ini.
Memasuki awal 1970, kawasan ini sempat dirancang sebagai ‘Miniatur Sunda’, sebuah ruang kearifan lokal yang memadukan lanskap sawah, Rumah makan tradisional, dan ruang kreatif. Ke 1972, berdiri Rumah makan ‘Saung Kuring’ yang menjadi cikal bakal hadirnya Sanggar Olah Karyaseni (SOS) Babakan Siliwangi.
Sanggar ini akhirnya diresmikan Ke 1982 Di Direktur Jenderal Wisata Internasional Pada itu, Joop Ave. Pendiriannya lahir Di inisiatif Anang Sumarna, seorang seniman yang kala itu menjabat Kepala Dinas Wisata Internasional Provinsi Jawa Barat. Gagasan pembangunannya sendiri dirumuskan Lewat serangkaian pertemuan tokoh Karyaseni Ke Cipaganti 151.
Ke fase awal, sanggar ini menawarkan ketenangan total. Karya Karyaseni Masuk tanpa gangguan hingga Ditengah malam, hanya ditemani suara tonggeret dan udara dingin yang menusuk. “Dulu, jam empat sore itu benar-benar hening,” ujar Tatang.
Wajah Babakan Siliwangi mulai berubah Pada bertransformasi menjadi ruang publik kota. Setelahnya ditetapkan sebagai kawasan TUNZA Di UNESCO Ke 2011, pembangunan fasilitas publik secara masif dimulai Ke 2013. Tatang mengakui adanya gegar Kearifan Lokal Dunia (culture shock) akibat perubahan ini.
Ritme kontemplasi para seniman kini harus berbagi ruang Di keriuhan Karya publik. “Dulu jam 12 malam masih nyaman berkarya. Sekarang, jam 2 pagi pun masih ada pengunjung dan kendaraan yang keluar masuk,” keluhnya.
Meski lingkungan Di kian bising, sanggar ini tetap teguh Ke Prototipe awalnya, menjadi ruang Pembelajaran inklusif. SOS terbuka Untuk siapa saja, terutama mereka yang tidak Memiliki akses Ke Pembelajaran Karyaseni formal. “Sanggar ini selalu tentang Pembelajaran Untuk Komunitas yang tidak Memiliki kesempatan Ke jalur akademis,” kata Tatang.
Semangat inklusivitas ini tercermin Di deretan tokoh pendirinya yang berasal Di lintas latar Di. Mulai Di akademisi seperti AD Pirous dan Ahmad Sadali (ITB) serta Koko (IKIP), unsur pemerintah Lewat Anang Sumarna, hingga tokoh Karyaseni seperti Barli dan Tony Yusuf yang membawa semangat Pembelajaran informal.
“Di awal, kami memang merangkul akademisi, otodidak, anak muda, sampai seniman dadakan. Semuanya kami persilakan,” tutur Tatang.
Kini, Sanggar Olah Karyaseni bukan sekadar tempat diskusi, melainkan Rumah yang mempertemukan seniman lintas generasi dan disiplin ilmu. Ke Ditengah lingkungan yang telah berubah menjadi destinasi wisata populer, sanggar ini tetap bertahan dan tumbuh bersama perubahan zaman.
(sud/sud)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Jejak Sanggar Olah Karyaseni Baksil, Di Keheningan hingga Keriuhan Kota











