Jejak Sunan Ampel Di Masjid Jami’ Peneleh Surabaya

Surabaya

Masjid Jami’ Peneleh Di Surabaya bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi bisu perjalanan panjang sejarah Islam dan perjuangan kemerdekaan Di Kota Pahlawan. Terletak Di Di permukiman padat Peneleh, masjid ini menyimpan atmosfer lawas yang kental, menghubungkan dakwah Sunan Ampel Bersama semangat juang arek-arek Suroboyo.

Keberadaannya yang strategis menjadikan masjid ini salah satu destinasi wisata religi dan sejarah yang penting. Tidak hanya menawarkan keindahan arsitektur kuno yang terjaga, Masjid Jami’ Peneleh juga memegang teguh Kebiasaan keilmuan yang substansial Di Di maraknya perayaan seremonial modern.

Berikut rangkaian fakta Memikat seputar sejarah, keunikan, dan kegiatan Di Masjid Jami’ Peneleh.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Masjid Jami’ Peneleh

Berdasarkan papan informasi sejarah Di lokasi, Masjid Jami’ Peneleh tercatat dibangun Dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel Di tahun 1421 Masehi. Akan Tetapi, pengurus masjid Di diwawancarai detikJatim mengakui bahwa sejarah pendirian ini lebih banyak berdasarkan gethok tular (tutur lisan) para sesepuh Sebab minimnya prasasti tertulis yang ditemukan.

“Dari Sebab Itu umpama ada prasasti yang jelas itu, tidak ada. Dari Sebab Itu Untuk mulut Ke mulut orang-orang sesepuh dulu,” kata salah satu pengurus masjid kepada detikJatim, Kamis (15/1/2026).

Menurut cerita tutur yang dijaga pengurus, kawasan ini dulunya adalah arena sabung ayam. Sunan Ampel berdakwah Di sini Sebelumnya mendirikan Masjid Ampel, menggunakan metode unik Sebagai mendekati warga.

“Raden Rahmat Di itu bawa ayam sendiri. Pokoknya ayamnya Raden Rahmat ini bisa mengalahkan semua jago-jago. Beliau sampai mengajak mereka-mereka itu tobat, berhenti Sebagai sabung ayam,” jelasnya.

Selain sejarah dakwah, masjid ini juga menjadi markas perjuangan. Di tahun 1945, masjid ini pernah ditembak meriam Belanda Untuk arah Jembatan Merah. Ajaibnya, kubah masjid tidak hancur dan hanya Merasakan kerusakan Di sisi timur.

Keunikan Arsitektur Masjid

Bangunan Masjid Jami’ Peneleh sarat Akansegera simbol filosofis. Langit-langit masjid dihiasi kaligrafi empat nama sahabat Nabi Muhammad, Sambil dindingnya dikelilingi 25 ventilasi dan 5 daun jendela yang berhiaskan aksara Arab nama-nama 25 Nabi.

Pengurus masjid juga Menunjukkan keaslian struktur bangunan yang masih dipertahankan sebagai Cagar Kebiasaan Global, termasuk atap yang menyerupai “perahu terbalik” dan tiang penyangga utama Untuk kayu jati utuh setinggi 10 meter.

“Kayunya kayu jati besar. Sampai sekarang nggak ada yang kena rayap. (Dulu ngangkutnya) Nggak ada trailer. Ini Bisa Jadi lewat lalu lintas air sungai Didepan itu,” terangnya.

Kegiatan Masjid Jami’ Peneleh

Berbeda Bersama banyak masjid yang Mengadakan perayaan besar-besaran Di hari besar Islam seperti Isra’ Mi’raj, Masjid Peneleh memilih pendekatan yang lebih substantif.

Pengurus masjid menegaskan bahwa mereka sudah lama meniadakan format ceramah seremonial besar yang mendatangkan penceramah luar Bersama biaya tinggi. Alasannya cukup simpel Akan Tetapi sarat makna, yaitu efektivitas penyampaian ilmu.

“Sudah lama nggak (Mengadakan), masalahnya biayanya besar, hasilnya guyonan tok (saja). Dari Sebab Itu kiainya ini senengannya guyon tok, Dari Sebab Itu nggak ada manfaatnya, nggak ada ilmu yang dibawa,” ungkap pengurus masjid.

Bagi pengurus, pengajian rutin Bersama kitab kuning justru lebih bernilai. Kegiatan rutin yang diunggulkan Di lain kajian tafsir dan kitab Ihya Ulumuddin Setelahnya salat Subuh. Metode ini dinilai lebih efektif Bagi Komunitas kota dibandingkan Peristiwa seremonial yang hanya ramai sesaat.

“Lebih baik nanti Setelahnya Subuh itu ada ilmu yang dibawa. Orang bisa nyimak melihat Literatur, ada tafsir tanpa terjemahan. Seperti kalau hari Senin itu Ihya Ulumuddin,” tambahnya.

“Kalau pengajian yang seru, ramai-ramai, biayanya jutaan, Setelahnya jemaah pulang paling Dari-olehnya ‘lucu ya kiai-ne’, (tapi) bingung nggak ada ilmu yang didapat,” pungkasnya.

Meski demikian, masjid ini tetap merawat Kebiasaan komunal yang guyub, seperti Kebiasaan “muludan” (Maulid Nabi) Di mana warga membawa nasi kuning dan tumpeng Sebagai dimakan bersama ratusan jemaah.

Halaman 2 Untuk 2

Simak Video “Video: Wanita-wanita Kuat Kuli Panggul Pasar Pabean Surabaya


Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Jejak Sunan Ampel Di Masjid Jami’ Peneleh Surabaya