Khidmatnya Kenduri Kupat Puncak Syawalan Petani Delanggu Klaten



Klaten

Kebiasaan Kenduri Kupat Di rangka syawalan Di Dusun Kebonsari, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten pagi ini berlangsung khidmat. Ribuan ketupat didoakan Sebelumnya dimakan bersama dan dibawa pulang.

Sebelumnya dilakukan Kebiasaan kenduri, Di pukul 06.00 WIB ketupat yang sudah dimasak massal sehari Sebelumnya Itu diarak. Kirab gunungan dan ambengan ketupat dilakukan berkeliling kampung.

Setelahnya kirab, ratusan warga yang membawa ambengan ketupat kembali Hingga lokasi masak ketupat yang diberi panggung. Warga Setelahnya Itu duduk Di tikar mengelilingi ambengan ketupat.


Setelahnya didoakan sesepuh kampung, ketupat tersebut dimakan dan dibawa pulang Bagi keluarga. Kenduri Kupat menandai puncak Bakdo Kupat syawalan.

“Kebiasaan ini dilakukan Di H plus 7 Di bulan Syawal Di momen syawalan. Ini Bagi penguat relasi sosial yang digelar pascaidulfitri,” ungkap panitia Bersama Sanggar Rojolele, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Eksan Hartanto kepada detikJateng, Jumat (27/3/2026) pagi.

Dijelaskan Eksan, Kebiasaan kenduri Kupat tersebut sudah berlangsung Dari turun-temurun. Digiatkan lagi tahun 1950 Dari seorang tokoh desa.

“Kebiasaan ini dimulai tahun 1950 Pada itu era Mbah Bayan (Kadus) Reso sampai sekarang. Selain kenduri Kupat ada Adang Kupat sebagai Bakdonya rojokoyo Lantaran Di sini Daerah Agrikultur,” papar Eksan.

Kirab dan kenduri Kupat itu, lanjut Eksan sebagai bentuk rasa syukur Kelompok Agrikultur Desa Delanggu kepada Allah SWT atas rejeki yang melimpah. Selain kenduri, nantinya ada halal bihalal.

“Kita cicipi juga ketupat Bersama sayur opor, Setelahnya kenduri dilanjutkan halalbihalal warga dan panggung hiburan. Jumlah ketupat tahun ini Di 1.500,” terang Eksan.

Sesepuh dusun, Suwarno (80), mengatakan Dari dirinya kecil sudah ada kenduri kupat tersebut. Selain kirab dan kenduri, ketupat juga dimakan.

“Dimakan Bersama sambel goreng dan dibawa pulang Hingga masing-masing Tempattinggal. Dari dulu sudah ada seperti ini,” kata Suwarno.

Sesepuh dusun lainnya, Suparno, menjelaskan Bakdo Kupat Memperoleh nilai-nilai filosofis luhur yang diajarkan Walisongo. Kupat berarti ngaku lepat atau mengakui Kegagalan.

“Kupat ngaku lepat atau mengakui Kegagalan sebab kita tidak luput Bersama Kegagalan-Kegagalan Supaya Setelahnya Idulfitri saling memaafkan,” ungkap Suparno kepada detikJateng.

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Khidmatnya Kenduri Kupat Puncak Syawalan Petani Delanggu Klaten

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่