Bojonegoro –
Ke tepian aliran Sungai Bengawan Solo, tepatnya Ke Desa Cangaan, Kecamatan Kanor, Bojonegoro berdiri sebuah masjid bersejarah yang diyakini telah berusia lebih Di tiga abad. Masjid itu adalah Masjid Jami’ Nurul Huda, yang hingga kini tetap kokoh dan aktif menjadi pusat ibadah warga Disekitar.
Masjid yang dibangun Ke tahun 1262 Hijriyah tersebut dipercaya sebagai peninggalan era Kerajaan Mataram Islam. Meski telah beberapa kali Merasakan renovasi, jejak sejarahnya masih dapat dirasakan, terutama Ke sejumlah Pada bangunan yang tetap dipertahankan.
Secara fisik, bangunan masjid kini tampil lebih modern. Akan Tetapi, nuansa klasik masih terasa kuat Ke daun pintu kayu jati tua Ke Pada teras Didepan. Ke sana terukir huruf Arab dan aksara Jawa yang menjadi penanda sejarah berdirinya masjid.
Ke pintu utama juga tertera dua kalimat syahadat bertuliskan Laa ilaaha illallah Ke sisi kanan dan Muhammad Rasulullah Ke sisi kiri, menggunakan tulisan Arab tanpa harakat. Tepat Ke bawahnya, tercantum angka 1262 H yang diyakini sebagai tahun pembangunan masjid. Empat tiang utama Di kayu jati berusia ratusan tahun pun masih berdiri kokoh sebagai penyangga bangunan.
Ketua Takmir Masjid Jami’ Nurul Huda, Abdul Hakim menjelaskan, Sebelum pertama kali didirikan, masjid ini telah Melewati lima tahap renovasi. Penulisan tahun 1262 Hijriyah Ke daun pintu dilakukan Pada renovasi ketiga dan Lalu menjadi ciri khas yang terus dipertahankan hingga kini.
“Prasasti tahun itu menjadi ikon masjid dan tetap dijaga sampai renovasi kelima,” ujarnya, Sabtu (7/3/2026).
Menurutnya, selain Memperoleh nilai arsitektur dan sejarah, masjid ini juga pernah menjadi persinggahan sejumlah tokoh penting nasional. Ke antaranya Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, serta Hasib Wahab Chasbullah yang pernah meresmikan salah satu tahap renovasi masjid.
Sejumlah benda peninggalan bersejarah juga masih tersimpan rapi Ke area masjid. Mulai Di beduk yang disebut sebagai peninggalan Ki Ageng Wiroyudo, peti kayu jati yang diperkirakan berusia lebih Di tiga abad, hingga karpet lama yang konon pernah dipinjam Untuk menyambut kedatangan Soekarno Ke Pendopo Bojonegoro.
Tak hanya itu, sebuah ‘bencet’ atau alat penunjuk waktu salat tradisional juga masih terawat dan ditempatkan Ke sisi Didepan masjid.
Kini, Masjid Jami’ Nurul Huda mampu menampung Disekitar 700 jemaah. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga difungsikan Untuk berbagai kegiatan keagamaan Komunitas. Keberadaannya bukan hanya sebagai bangunan tua, tetapi juga simbol kesinambungan sejarah dan kehidupan religius warga Bojonegoro hingga hari ini.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Kisah Masjid Tertua Bojonegoro, Berdiri 3 Abad Ke Tepi Bengawan Solo











