Menjaga Laut hingga Gunung Di Goresan Wayang Kamasan ISI Bali



Badung -

Pameran Seni Kekayaan Budaya rupa bertajuk “Kuratorika: Segara Giri” Ke Bali menjadi sorotan, menampilkan refleksi mendalam tentang hubungan manusia Di alam Melewati medium Wayang Kamasan klasik. Kuratorika, sebuah inisiatif Di mahasiswa Magister Tata Kelola Seni Kekayaan Budaya ISI Bali, hadir sebagai ruang dialog Seni Kekayaan Budaya dan kesadaran ekologis yang relevan Di Topik-Topik kontemporer.

“Pameran ini kami rancang, Menyediakan ruang kepada para seniman muda khususnya, Bagi melestarikan Seni Kekayaan Budaya dan Kebiasaan Global. Kami mengangkat tema Kuratorika ini ‘Segara Giri’, Ke mana segara yang berarti lautan dan giri yang berarti gunung,” ujar Rai Gede Wahyudi Putra, Ketua Panitia Pameran Kuratorika, Sabtu (13/12/2025).

Tema Segara Giri (Laut dan Gunung) dipilih Bagi merepresentasikan pentingnya menjaga alam semesta, Ke mana Kesejaganan unsur kosmologis ini Berencana berujung Ke kemakmuran dan Kesejaganan, atau Sebagai Alternatif, bencana. Pameran ini menampilkan karya-karya ilustrasi Wayang Kamasan yang dikerjakan Dari mahasiswa Desain Komunikasi Visual ISI Bali Angkatan 2024.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kami ambil itu agar peserta bisa merepresentasikan bagaimana alam semesta ini dijaga Di baik, dan ketika dijaga Di baik, alam ini Berencana Menyediakan kita kemakmuran dan Kesejaganan, dan begitu pun Sebagai Alternatif,” jelasnya.

Lukisan bertajuk “Bencana akibat Ulah Manusia” karya Fakih Topaz Sudrajat yang secara eksplisit menampilkan suasana Genangan Air Di gaya khas wayang Kamasan. (Foto: Agus Eka/detikBali)

“Ketika alam ini tidak dijaga Di baik, alam Berencana Menyediakan kita bencana, seperti yang sering terjadi Pada ini yaitu bencana Genangan Air, tanah longsor. Kejadian Luar Biasa ini masih terjadi sampai sekarang, selain Ke beberapa Area Ke Indonesia, Bali juga Merasakan,” lanjut Rai, sapaannya.

Bencana Akibat Ulah Manusia

Salah satu karya yang dipamerkan, berjudul Kemanusiaan dan Kesejaganan Alam Dari Patricia Clarys Johan, menggambarkan keindahan alam yang terjaga sempurna, Di laut jernih, karang hidup, dan manusia yang dapat Berendam Di aman. Pesan yang dibawa kuat: melindungi alam adalah menjaga ruang Bagi manusia Bagi hidup dan berbahagia.

Tetapi, karya-karya lain Menunjukkan sisi gelap Di ulah manusia. Misalnya, Di karya lukisan bertajuk “Flood Not Our Friend” Dari Ida Bagus Gede Andhika Pradanta, tergambar sosok monyet yang ketakutan berpegangan Ke tiang listrik menjadi simbol hewan yang kehilangan Rumah akibat kerusakan alam.

Air yang bergulung bukan hanya sekadar Genangan Air, melainkan manifestasi perasaan alam yang tidak lagi nyaman Sebab ulah manusia yang merusak.

“Monyet kini menjadi bukti kehancuran alam tidak pernah memilih korban, apabila keegoisan manusia terus berlabuh Bagi satwa pun lenyap dan Ke Pada yang bersamaan manusia kelak Berencana ikut merasakan penderitaan yang sama. Karya ini mengajak audiens Bagi kembali bersahabatlah Di alam,” jelasnya.

Lain lagi Di karya bertajuk “Bencana akibat Ulah Manusia” Dari Fakih Topaz Sudrajat yang secara eksplisit menampilkan suasana Genangan Air dipenuhi tumpukan sampah, Di cerobong asap industri mengepul Ke kejauhan. Ini menjadi Penilaian tajam bahwa pembangunan industri yang tidak terkelola dan kebiasaan membuang sampah sembarangan berkontribusi besar Pada bencana yang merugikan banyak pihak.

Wayang Kamasan Bicara Topik Ekologi

Para seniman muda ini mengeksplorasi medium Wayang Kamasan, warisan Seni Kekayaan Budaya klasik Bali yang kaya simbol dan narasi kosmologis, Bagi mengartikulasikan Topik-Topik ekologi kontemporer. Sebanyak 76 lukisan bergaya wayang Kamasan dan 9 karya Literatur cerita bergambar ditampilkan Di pameran ini.

“Wayang Kamasan sebagai warisan Seni Kekayaan Budaya klasik Bali menjadi medium yang kaya simbol dan narasi kosmologis, sekaligus relevan Bagi mengartikulasikan Topik-Topik ekologi kontemporer. Para seniman muda ini mengolah idiom Kebiasaan menjadi visual Terbaru yang menarasikan bencana, kemakmuran, mitologi penjaga alam, hingga dinamika sosial,” jelas pria asal Kelurahan Kapal, Badung, ini.

Pameran ini mengangkat enam subtema utama, mulai Di Genangan Air dan Kekeringan, Gunung Meletus, Gelombang Bencana Alam, Bencana Alam dan Mitologi Penjaga Alam, hingga Kemakmuran dan Kesejaganan, serta Mitos dan Dinamika Sosial.

Pameran dan Rangkaian Kegiatan “Kuratorika: Segara Giri” berlangsung mulai 10 hingga 18 Desember 2025 Ke Galeri FSRD, SMKN 1 Sukawati. Pameran ini dikuratori Dari para praktisi Seni Kekayaan Budaya I Wayan Agus Eka Cahyadi, dan I Made Jaya Jamena.

“Ada beberapa kegiatan selain pameran, seperti Ke hari kedua, kami Melakukan workshop Sketsa Wayang Kamasan dan Peristiwa hiburan berupa live Alunan,” tambah Rai.

Rai berharap kegiatan ini menjadi ruang Belajar, dialog, dan refleksi bersama Bagi Memperbaiki kesadaran publik tentang pentingnya harmoni manusia-alam, agar Bali khususnya tidak terus didera bencana. “Ke sisi lain, lewat pameran ini menjadi ruang Bagi melestarikan Seni Kekayaan Budaya dan Kebiasaan Global, khususnya lukisan Wayang Kamasan,” pungkas Rai.


(hsa/nor)


Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Menjaga Laut hingga Gunung Di Goresan Wayang Kamasan ISI Bali