Menjelang Ramadan, Kelompok Muslim Hingga Jawa Barat Memperoleh cara khas Untuk menyambut datangnya bulan suci. Kebiasaan-Kebiasaan ini bukan sekadar seremoni, melainkan ikhtiar berbenah diri secara lahir dan batin agar lebih siap menjalani ibadah puasa.
Di Area Priangan Timur, Di, hingga Barat, ragam Kebiasaan menyambut Ramadan masih terus dipraktikkan hingga kini dan diperkirakan tetap hidup menjelang Ramadan 2026. Meski bentuknya beragam, benang merahnya sama, yakni membersihkan diri, mempererat silaturahmi, dan menata niat Ke bulan penuh berkah.
10 Kebiasaan Unik Warga Jawa Barat Sambut Ramadan
1. Nyepuh
Kebiasaan Nyepuh hidup Hingga Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis. Kata nyepuh berasal Di nyipuh yang berarti membersihkan diri atau menempa diri agar lebih bersih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ritual ini dilakukan sepanjang bulan Rewah atau Sya’ban, diawali Bersama membersihkan lingkungan, lalu ditutup Bersama membersihkan makam leluhur. Sehari menjelang Ramadan, warga berkumpul Hingga pemakaman, memasak bahan Minuman yang dibawa Di Tempattinggal, lalu berdoa bersama.
Yeni Wijayanti dan Ai Wulan Di Studi “Kebiasaan Nyepuh Hingga Desa Ciomas Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis” menyebutkan bahwa Minuman hasil masakan tersebut dibawa pulang dan disantap Di sahur pertama Ramadan.
2. Misalin
Misalin masih dipraktikkan Hingga Di Situs Bojong Salawe, Kabupaten Ciamis. Secara etimologis, misalin berasal Di kata mi (melakukan) dan salin (berganti), yang bermakna perubahan Di keburukan Ke kebaikan.
Di pelaksanaannya, warga datang Sebelum pagi membawa bekal Minuman Di wadah pontrang. Kebiasaan ini juga diiringi hiburan rakyat seperti pencak silat.
Misalin diawali ritual Ngadamar Di malam hari, berupa doa dan tawassul Hingga area situs, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan persiapan spiritual menyambut Ramadan.
3. Kuramasan
Kuramasan berarti berkeramas atau mandi membersihkan diri. Kebiasaan ini hampir ditemukan Hingga seluruh Area Sunda dan dilakukan Dari semua kalangan, termasuk anak-anak.
Dewi Ratna Di studi berjudul “Nilai-nilai Kearifan Lokal Di Kebiasaan Misalin Hingga Kecamatan Cimaragas Kabupaten Ciamis” Hingga Langkah Studi Pembelajaran Sejarah FKIP Universitas Galuh Ciamis menyebutkan Kebiasaan Kuramasan hidup juga Hingga Cimaragas, berkelindan Bersama Kebiasaan Misalin.
“Diadakan juga Peristiwa kuramasan Untuk anak-anak kecil atau pinggir sungai Citanduy (Parung Ayu). Kuramasan ini adalah upacara membersihkan diri Untuk menyambut Ramadhan. Selain Di Kelompok Salawe, Malahan Kelompok lain pun biasanya melakukan kuramas sehari Sebelumnya bulan Ramadhan atau lebih identik Bersama adus. Supaya ketika menginjak bulan Ramadhan sudah kembali suci,” tulis Dewi Ratna.
4. Munggahan
Munggahan berasal Di kata unggah yang berarti naik atau Meresahkan. Kebiasaan ini populer Hingga Area Priangan Di, terutama Bandung Raya.
Tata Twin Prehatinia dan Widiati Isana menulis: “Munggah berasal Di kata unggah yang berarti naik atau Meresahkan… kata munggah tersirat arti perihal perubahan Hingga arah yang lebih baik…”
Munggahan biasanya diisi makan bersama dan berbagi Minuman Bersama tetangga sebagai simbol kebersamaan menjelang Ramadan.
5. Papajar
Papajar atau “berburu fajar” berkembang Hingga Area Priangan Barat seperti Cianjur dan Sukabumi. Kebiasaan ini diisi Bersama kegiatan berwisata ringan bersama keluarga.
Kelompok membawa bekal Di Tempattinggal, makan bersama Hingga lokasi wisata, lalu kembali Sebelumnya sore. Papajar dimaknai sebagai upaya menyegarkan fisik dan batin Sebelumnya memasuki Ramadan.
6. Nganteuran
Indahnya berbagi tercermin Di Kebiasaan Nganteuran. Menjelang puasa, warga saling mengirimkan masakan Di wadah rantang kepada tetangga atau sanak saudara yang lebih tua. Ini adalah cara menjaga harmonisasi hubungan antarwarga.
7. Ziarah Makam Orang Tua
Ziarah kubur menjadi Kebiasaan penting menjelang Ramadan Hingga Jawa Barat. Kelompok meyakini doa anak saleh menjadi amal yang terus Masuk Untuk orang tua yang telah wafat.
Ziarah ini sering dirangkaikan Bersama Kebiasaan lain seperti Nyepuh dan Munggahan, sebagai bentuk refleksi diri dan pengingat Berencana kehidupan akhirat.
8. Makan Bersama Nasi Liwet
Munggahan kerap diisi Bersama makan nasi liwet bersama keluarga. Nasi dimasak Bersama daun salam dan serai, lalu disantap beralaskan daun pisang.
Kesederhanaan menu justru menjadi kekuatan Kebiasaan ini, menegaskan nilai kebersamaan dan rasa syukur menjelang Ramadan.
9. Silaturahmi Hingga Sanak Famili
Menjelang Ramadan, warga Jawa Barat lazim Melakukan Kunjungan Hingga sanak saudara Untuk meminta maaf dan mempererat silaturahmi. Kebiasaan ini dipandang sebagai cara membersihkan dosa sosial, agar puasa dijalani Bersama hati yang lapang dan tanpa ganjalan.
10. Mandi Besar
Mandi besar Hingga sini maksudnya mandi junub, tetapi Lantaran mandi besar ditradisikan juga Untuk anak-anak kecil yang belum mencapai Situasi ‘baligh’, tersebutlah menjadi Mandi Besar.
Jika nanti malam Berencana dimulai tarawih dan esok mulai puasa, maka Hingga pagi hari menjelang tarawih itu biasanya anak-anak hingga dewasa diminta Untuk mandi besar. Ini menjadi Pada Di Kebiasaan Munggahan.
Mandi besar Di masa-masa ketika Situasi alam masih terjaga biasanya dilakukan Hingga sungai-sungai yang airnya jernih. Air sungai yang segar dan udara dingin membuat siapapun yang mandi menjadi segar Segar badannya. Situasi badan Segar membuat siapapun lebih siap Berjuang Bersama puasa. Hingga Kabupaten Ciamis, istilah khusus Untuk kegiatan ini disebut ‘Kuramasan’. Kuramas berarti berkeramas.
Halaman 2 Di 2
(iqk/iqk)
–>
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Menyambut Ramadan, Ini 10 Kebiasaan Khas Warga Jawa Barat











