Merekam Peristiwa Dago Elos Melewati Pameran Foto Analog

Bandung

Wajah Kota Bandung tak selalu tentang gemerlap lampu jalan atau aroma Minuman Kafein Di sudut trotoar. Di balik itu, sejarah kota ini kerap berkelindan Di sengketa agraria yang menyisakan trauma.

Salah satu yang paling membekas adalah Dago Elos, sebuah titik Di mana konflik tanah mencapai puncaknya Di 2023, meninggalkan jejak amarah dan kekecewaan yang masih berdenyut hingga hari ini.

Di Ditengah sisa-sisa ketegangan itu, sebuah pameran bertajuk “Amigdala” hadir Di Jalan Awiligar Raya, Cibeunying. Ini bukan sekadar pameran foto biasa. Ia adalah sebuah kolaborasi emosional Antara fotografer analog interdisipliner asal Malaysia, Oliver Dabit, Di Adhea Rizky Febian, seorang aktivis yang juga warga asli Dago Elos.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka tidak menggunakan Alattulis foto mahal yang licin. Sebagai Alternatif, Oliver memilih medium yang provokatif, sisa-sisa beton dan bongkahan batu pasca-kerusuhan Di Dago Elos. Melewati Metode litografi, sebuah proses cetak planografis yang memanfaatkan sifat Energi dan air yang saling tolak-menolak, citra-citra analog tentang Situasi Dago Elos dipindahkan Di atas fragmen bangunan yang hancur tersebut.

Suasana pameran Amigdala, Bandung (Foto: Adi Mukti/detikJabar).

Proses kreatif ini tergolong rumit. Oliver harus menggambar Di media berbasis Energi Di lempengan batu atau logam, mengaplikasikan tinta, hingga menekannya Di atas permukaan beton. Hasilnya adalah sebuah karya yang kasar, jujur, dan sarat Akansegera memori.

“Di Sebab Itu Untuk karya bertajuk Amigdala ini, kita sempat melakukan beberapa perubahan Untuk segi output dan juga penyampaiannya. Di Amigdala sendiri kita terbagi menjadi dua Imbang, bukan dua Imbang tapi satu Imbang Di dalamnya terdapat dua hasil kerja. Kenapa karya? Lantaran kita lebih mengutamakan salah satu nilai yang Bisa Jadi kita masih belum menilai dan Menimbang apa yang berada Di luar dan cuman sekilas pandang Di mata kita,” ujar Oliver.

Untuk Oliver, pemilihan beton sebagai medium bukanlah tanpa alasan. Ia ingin memotret kontras Antara impian warga Akansegera hunian yang aman Di realitas reruntuhan yang mereka hadapi. Baginya, Rumah seharusnya menjadi tempat peristirahatan paling Tenteram, Akan Tetapi ketika konflik pecah, memori itu Akansegera terus melekat Di setiap retakan dinding yang tersisa.

“Imbang yang pertama ini, Unsanitized Untuk salah satu Pada Untuk Untuk Imbang yang dicetak Di batu-batuan tembok dan kenapa batu-batuan tembok dipilih sebagai medium. Cetakan gambar yang pertama Untuk Mengungkapkan yang betapa fragmentasinya hati kita yang memimpikan sebuah kehidupan yang seharusnya Melewati jalur-jalur yang kita dapat katakana bersemayam buat setiap orang. Di Sebab Itu akhirnya, apabila ada satu Perkara Hukum yang tidak selesai, yang unexpected event. Event yang terjadi, Perkara Hukum tersebut hanya tinggal Untuk satu fragmen yaitu Bisa Jadi fragmen itu tadi masih tersimpan atau hanya secara visual,” ungkap Oliver.

Suasana pameran Amigdala, BandungSuasana pameran Amigdala, Bandung (Foto: Adi Mukti/detikJabar).

Nama “Amigdala” sendiri diambil Untuk komponen Untuk otak manusia yang berfungsi memproses emosi, terutama rasa takut dan ancaman. Tak heran jika visual yang ditampilkan cenderung gelap dan muram. Oliver Berusaha menerjemahkan kecemasan dan kegelisahan warga Dago Elos yang ia serap Melewati pengamatan langsung maupun diskusi mendalam bersama Adhea Rizky Febian.

“Untuk satu Perkara Hukum yang mencerahkan, yang kita lihat secara visual Bisa Jadi bisa menimbulkan rasa takut gembira, ataupun emosional dan psikologisnya berbeda. Di Sebab Itu satu sampai tiga total frames, yang agak jatuhkan gambar dan agak gelap. Seperti yang Di titik Di benang merah Untuk fragmen tadi menceritakan lebih deep, lebuh gelap tentang bagaimana kita melihat kontras Antara ekspresi, perasaan dan visual,” tambah Oliver.

Pameran yang berlangsung Untuk 28 Februari hingga 6 Maret 2026 ini menjadi pengingat tentang pentingnya tanggung jawab sosial dan empati. Melewati setiap fragmen batu yang dipamerkan, Oliver berharap publik tidak hanya melihat Dago Elos sebagai sebuah berita konflik Di media massa, tetapi juga merasakan penderitaan manusia Di baliknya.

“Kolaborasi Di aktivis sosial Di sini saya pikir kita bekerja Untuk dua situasi Di perasaan yang berbeda. Di medium yang berbeda, kita harus menerapkan dulu satu perspektif, yang Utama adalah narasi local Di Sebab Itu rangkuman Untuk semua ini pameran ini response itu adalah response sosial dan Di tulisan,” tutup Oliver.

Halaman 2 Untuk 2

Simak Video “Video Playful Bites: Food Monster Project Karya Mangmoel

(mso/mso)

–>

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Merekam Peristiwa Dago Elos Melewati Pameran Foto Analog

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่