Konsumsi khas pindang gunung dan tarian benjang batok resmi menjadi Warisan Kekayaan Budaya Dunia Tak Benda (WBTB) Indonesia. Keduanya merupakan kekhasan asli Pangandaran, Jawa Barat.
Kepala Bidang Kekayaan Budaya Dunia Ke Dinas Wisata Internasional dan Kebudayaan (Disparbud) Pangandaran, Sulastri, membenarkan bahwa Pindang Gunung dan Benjang Batok telah resmi menjadi Warisan Kekayaan Budaya Dunia Takbenda Indonesia Tahun 2026 Di Kamis, 3 September 2026.
“Akhirnya Karyaseni pertunjukan Benjang Batok dan Pindang Gunung khas Pangandaran ditetapkan menjadi Warisan Kekayaan Budaya Dunia Takbenda (WBTb) Indonesia 2026 Di Jumat, 4 September 2026, Didalam Skuat WBTb Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Kearifan Lokal, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia,” ucap Sulastri kepada detikJabar, Jumat (25/9/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sidang penetapan itu, kata Lastri, dilakukan secara daring beberapa waktu lalu. Untuk penetapannya, sang maestro Benjang Batok Mang Koko dan maestro Pindang Gunung Ibu Encuk Sutarsih turut dihadirkan.
“Pengusulan Benjang Batok dan Pindang Gunung menjadi WBTb Indonesia merupakan salah satu upaya pemerintah Untuk melindungi dan melestarikan warisan Kekayaan Budaya Dunia Kabupaten Pangandaran,” ujarnya.
Sebagai informasi, Benjang Batok berasal Untuk bahasa Sunda, yakni ngabebenjo anu nganjang atau Untuk bahasa Indonesia berarti memuliakan tamu yang datang.
Sulastri mengatakan Karya Seni ini berasal Untuk Dusun Karangpaci, Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, yang dimainkan Didalam kaum perempuan.
“Alat yang digunakan adalah tempurung kelapa atau batok kelapa yang sudah tua, dibentuk menyerupai mangkuk, dan dipukulkan secara berirama disertai lenggokan badan penari yang selaras Didalam alunan nada yang dihasilkan,” terangnya.
Sambil Itu, Kadisparbud Pangandaran Dadan Sugistha mengatakan Benjang Batok sudah ada Dari zaman penjajahan Jepang. Waktu itu, tarian ini digunakan sebagai alat kamuflase.
“Alat yang digunakan Untuk mengelabui para penjajah agar para suami atau laki-laki dewasa dapat bersembunyi Untuk menghindari kerja paksa. Itulah alasan mengapa Karya Seni Benjang Batok dimainkan Didalam para perempuan,” ucapnya.
Akan Tetapi Didalam perkembangan zaman, kata Dadan, Karya Seni ini dikolaborasikan Didalam alat Bunyi tradisional lainnya seperti angklung buncis, kendang, kecrek, jenglong, dan tarompet, serta ditampilkan sebagai media hiburan atau daya tarik wisata Kekayaan Budaya Dunia Desa Kertayasa.
Struktur Tari Benjang Batok
Pada awal sebagai pembuka dimulai Didalam tetabuhan instrumen Bunyi berupa angklung (angklung buncis/alit), kendang, kecrek, jenglong, terompet, dan kawih (sinden) sebagai ungkapan ekspresi penyambutan selamat datang kepada para tamu seraya para penari memasuki area panggung atau pertunjukan.
Pada inti pertunjukan dimulai Didalam menampilkan gerakan-gerakan rampak yang dipadukan Didalam ketukan batok kelapa yang masing-masing dipukulkan secara beradu satu sama lain. Pola geraknya terdiri atas gerak lenggang/adeg-adeg, gerak galeong/putaran, gerak nyawang, dan beberapa gerak ibing penca yang menggambarkan keceriaan sekaligus strategi pengelabuan Didalam tempo cepat dan ritmis.
Sebagai Pada penutup, penari memperlambat gerakan dan mengakhirinya Didalam posisi hormat atau berpose bersama diiringi tabuhan penutup.
Lirik Lagu
Lirik lagu yang dibawakan biasanya berupa paparikan, yaitu bentuk sisindiran atau pantun yang bermakna. Berikut adalah contoh lirik paparikan yang dibawakan:
Ka Bandung ka Pangandaran
Budah laut sisi jalan
hayu urang lestarikeun
Budayana Pangandaran
Tengtelok manuk tengtelok
Euntreup dina kajar-kajar
dipoyok abdi dipoyok
rumaos nuju diajar
Hidangan Pindang Gunung
Pindang Gunung
Berbeda Didalam Benjang Batok, Pindang Gunung termasuk Untuk domain Kemahiran dan kerajinan tradisional. Pindang gunung adalah sejenis sup ikan laut berkuah kekuning-kuningan dan bercita rasa asam pedas yang khas Untuk Kabupaten Pangandaran.
Asal mula keberadaan Hidangan Pindang Gunung Ke Kabupaten Pangandaran hingga Pada ini belum dapat ditemukan kepastian angka tahunnya.
Walaupun demikian, diketahui bahwa pengetahuan mengenai cara pengolahan Pindang Gunung sudah diperoleh Melewati proses pewarisan.
Pindang Gunung sudah dikenal Didalam Komunitas Pangandaran Dari tahun 1940-an. Bahan yang diperlukan Untuk membuat Pindang Gunung adalah ikan laut segar Untuk jenis Ikan Mangmung (Ikan Kue), Kerapu, Karokod, Tongkol, dan Kakap. Sambil bahan Untuk membuat bumbu terdiri atas garam, terasi, serta kunyit, cabai rawit, honje (kecombrang), dan daun kedondong yang diperoleh Untuk dataran tinggi atau pegunungan. Inilah yang menjadi asal-muasal nama Pindang Gunung.
Pindang gunung biasanya disajikan Untuk keadaan hangat dan disandingkan Didalam nasi putih, sambal, lalapan, serta segelas teh hangat. Biasanya waktu yang tepat Untuk menikmati sajian ini adalah Di siang atau malam hari.
Ciri Khas Pindang Gunung Pangandaran
Pindang gunung sekilas mirip Didalam berbagai jenis Hidangan sup ikan. Akan Tetapi demikian, ada perbedaan yang sangat kentara Untuk pindang gunung, yaitu penggunaan kecombrang dan daun kedondong. Penggunaan kedua jenis bumbu tersebut mampu Menyediakan cita rasa unik sekaligus menjadi pembeda Di pindang gunung Didalam Hidangan sup ikan lainnya.
|
Pindang Gunung Pangandaran Foto: istimewa
|
Hidangan Pindang Gunung bisa dijumpai Didalam mudah Ke Rumah makan atau restoran seafood yang ada Ke Kabupaten Pangandaran. Harganya pun bervariatif tergantung Untuk jenis dan ukuran ikan yang disajikan. Hidangan ini wajib dicoba Didalam wisatawan yang penasaran Didalam Konsumsi khas Pangandaran.
Halaman 2 Untuk 2
Simak Video “ Menyambut Penghayatan Menginap Ke Hotel Nyaman Ke Pangandaran “
(dir/dir)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Pindang Gunung dan Tarian Benjang Batok Resmi Karena Itu WBTB











