Ruang Ekspresi Seniman Muda Di Jantung Kota



Bandung –

Langkah kaki Di trotoar Jalan Braga yang legendaris sering kali terasa terburu-buru. Akan Tetapi, Di Di deretan bangunan tua dan keriuhan kendaraan, Grey Art Gallery berdiri layaknya sebuah oase. Galeri ini seolah membisikkan ajakan Untuk Komunitas urban Sebagai sejenak menanggalkan hiruk pikuk kota dan menyelami narasi yang tertuang Di setiap sudut dindingnya.

Sebelum membuka pintu pertamanya Di 2023, Grace Christianti dan Elia Yoesman memang memendam ambisi tulus: menjadikan tempat ini sebagai panggung utama Untuk para seniman muda Sebagai merayakan imajinasi mereka. Memasuki Oktober 2026, galeri ini tetap setia Di napas digitalnya yang adaptif, terus berganti rupa setiap bulan agar pengunjung selalu menemukan alasan Sebagai kembali. Kali ini, dua tema besar bersanding manis: Cities Fiction dan Mencerap Tatap.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Begitu melewati pintu utama, pengunjung langsung disambut Dari visual tajam Bersama kolektif fotografer Derkeun yang bersenyawa Bersama estetika kontemporer. Rangga, Koordinator Art Support Grey Art Gallery, menjelaskan bahwa Cities Fiction adalah sebuah upaya memotret lanskap Bandung secara spesifik Di bawah kurasi Henrycus Napitsunargo.

“Fotografi yang ditangkap Dari rekan-rekan Bersama Derken ini Akansegera dikembangkan Bersama berbagai metode dan gayanya masing-masing. Karena Itu kita Akansegera melihat ternyata Bersama fotografi itu bisa dikembangkan Di dunia Karya Seni rupa kontemporer,” ucap Rangga Di ditemui Di sela pameran, Rabu (7/10/2026).

Suasana galeri didominasi palet biru tua dan putih, membingkai memori visual Bandung Bersama masa Hingga masa Di cetakan monokrom. Salah satu yang mencuri perhatian adalah karya Iswanto Soerjanto. Ia menyulap ikon kota seperti Gedung Sate dan Hotel Savoy Homann menjadi mozaik yang menyerupai motif batik, menawarkan cara Terbaru memandang Bandung sebagai kota imajiner.

Akan Tetapi, Bandung tidak hanya soal kemegahan arsitektur. Di sudut lain, Mamat Solihin membawa realitas yang lebih getir lewat karya bertajuk “Tetanggaku Sudah Berpulang”. Lewat bidikan Perekamgambar analog, ia memperlihatkan betapa tipisnya batas Di pemukiman padat dan keheningan makam Di Cikadut. Sebuah anomali visual yang memaksa kita merenungi jarak Di yang hidup dan yang telah tiada.

Penjelajahan berlanjut Di menuruni tangga kayu Ke lantai bawah. Di sana, pameran Mencerap Tatap yang dikurasi Dari Khalisa Nisrina menyuguhkan energi segar Bersama dunia akademisi. Ruang ini menjadi etalase Untuk mahasiswa Karya Seni Bersama berbagai universitas Sebagai memamerkan Penjelajahan mereka.

Salah satu magnet utama Di lantai ini adalah instalasi berjudul “Ila”. Karya interaktif ini mengajak pengunjung bermain Bersama cahaya. Menggunakan senter RGB (merah, hijau, biru), setiap sorotan warna Akansegera menyingkap lapisan visual yang berbeda Di lukisan, menciptakan Pengalaman Hidup personal Untuk setiap orang yang memegangnya.

Naik Hingga lantai atas yang serba putih, atmosfer berubah menjadi lebih kontemplatif. Di sini, Permasalahan-Permasalahan berat seperti perjuangan perempuan, Penilaian sosial-politik, hingga memoar pribadi seniman tersaji Bersama lugas. Rangga menegaskan bahwa Grey Art Gallery Akansegera terus membuka pintu kolaborasi Untuk institusi maupun komunitas.

“Kami selalu Memperkenalkan Inisiatif Di bentuk open call atau open submission Di mana ini terbuka Sebagai publik. Kami Melakukanupaya Sebagai Memberi kesempatan yang lebih luas kepada seniman-seniman muda,” ujarnya.

Tak heran jika galeri ini kini menjadi titik temu Unjuk Generasi Z. Inisiatif-Inisiatif yang dihadirkan memang dirancang agar tetap relevan Bersama kebutuhan estetik masa kini tanpa kehilangan kedalaman makna.

Faisal, seorang pengunjung asal Yogyakarta, tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Baginya, Berkunjung Hingga galeri adalah bentuk healing yang esensial. Ia secara khusus terkesan Bersama interaktivitas karya “Ila”.

“Buat karya-karya Di Bandung menurutku memang identik Bersama karya yang konsepnya sangat matang. Aku tertarik sama satu karya yang Di bawah, yang pake senter. Aku Menyita ada penindasan dan pembungkaman Di karyanya,” tutur Faisal.

Untuk Faisal, apresiasi Pada Karya Seni bisa dimulai Bersama hal sederhana, seperti membagikan keindahan tersebut Di media sosial. Akan Tetapi, ia juga menitipkan pesan penting tentang integritas Di berkarya.

“Aku cuma pengen Karya Seni rupa Di Indonesia Lebih maju. Karena Itu semua komunitas atau kelompok yang membantu membangun Karya Seni rupa itu bisa bersatu. Aku cuma menentang penjiplakan, say no to menjiplak karya,” pungkasnya.

Pameran Cities Fiction dan Mencerap Tatap Akansegera terus menyapa publik sepanjang Oktober 2026. Bersama tiket seharga Rp25.000 Di hari kerja dan Rp30.000 Di akhir pekan, Grey Art Gallery menawarkan lebih Bersama sekadar objek foto, melainkan sebuah perjalanan rasa Di jantung Kota Kembang.

(dir/dir)



Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Ruang Ekspresi Seniman Muda Di Jantung Kota

nagabet76slot gacorslot online slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin
nagabet76 login
situs slot gacorbr Slot Gacor Resmi Hari Ini