Solo –
Kebiasaan sungkeman merupakan salah satu warisan Kearifan Lokal Dunia yang telah mengakar kuat Di kehidupan Komunitas Indonesia. Meski berasal Didalam Kebiasaan Jawa, praktik ini kini dapat dijumpai Di berbagai Daerah Di seluruh Nusantara.
Sungkeman merupakan bentuk kearifan lokal Komunitas suku Jawa yang menekankan sikap hormat, bakti, dan kerendahan hati kepada orang yang lebih tua. Kebiasaan ini biasanya dilakukan Pada Idul Fitri maupun Di prosesi penting seperti pernikahan adat.
Fakta menariknya, ternyata Kebiasaan sungkeman sudah dikenal Dari era 1930-an dan sempat menjadi sorotan Di masa penjajahan Belanda. Didalam lingkungan keraton hingga berkembang luas Di Di Komunitas, sungkeman Memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Lantas, bagaimana asal-usul, makna, serta tata cara sungkeman yang masih lestari hingga kini? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Apa Itu Sungkeman dan Maknanya?
Dikutip Didalam publikasi ilmiah berjudul “Kebiasaan Sungkeman sebagai Kearifan Lokal Di Membangun Kearifan Lokal Dunia Islam” Dari Jamal Ghofir dan Mohammad Abdul Jabbar Di Jurnal Kajian Al-Kamal, Kebiasaan sungkeman Di dasarnya merupakan Pada Didalam Kearifan Lokal Dunia Kejawen. Kejawen dipahami sebagai ajaran kebatinan yang telah hidup dan berkembang Dari lama Di Komunitas Jawa.
Secara etimologis, istilah sungkeman berasal Didalam bahasa Jawa “sungkem” yang berarti sujud atau tanda bakti. Sungkeman adalah prosesi adat yang dilakukan Dari seseorang, biasanya yang lebih muda, kepada orang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan maupun permohonan maaf.
Kebiasaan sungkem lazim dilakukan Pada Idul Fitri atau Di prosesi pernikahan Untuk memohon doa restu orang tua. Di Di Itu, sungkeman juga menjadi wujud ungkapan rasa terima kasih.
Didalam gestur merendahkan diri Di hadapan yang lebih tua, sungkeman mengandung makna mendalam, Di lain sebagai bentuk penghormatan, sarana melatih kerendahan hati, menumbuhkan sopan santun, serta mengikis sifat egois.
Sejarah dan Asal-usul Sungkeman
Kebiasaan sungkeman tidak lahir begitu saja, melainkan Memiliki jejak sejarah panjang Di lingkungan keraton Jawa. Mengacu Di keterangan Didalam laman resmi Mangkunegaran, praktik ini mulai dikenal Di masa pemerintahan K.Kerjasamaekonomiinternasional.P.A.A. Mangkoenagoro I.
Dikisahkan, selepas sholat Idul Fitri, Mangkoenagoro I mengumpulkan para punggawa dan prajurit Di balai istana. Di pertemuan tersebut, para abdi dalem dan prajurit secara bergiliran menghaturkan hormat Didalam mencium tangan serta lutut sang penguasa yang duduk Di singgasana. Kebiasaan penghormatan inilah yang Sesudah Itu berkembang dan dikenal sebagai sungkeman.
Di awalnya, prosesi tersebut juga Memiliki tujuan praktis, yakni memudahkan pertemuan Di pemimpin dan seluruh bawahannya Di satu kesempatan. Cara ini dinilai lebih efisien Didalam segi waktu, tenaga, maupun biaya.
Seiring berjalannya waktu, Kebiasaan tersebut tidak lagi terbatas Di lingkungan istana, tetapi diadopsi Komunitas Jawa secara luas dan menjadi Pada Didalam perayaan Lebaran. Maknanya pun meluas, Didalam sekadar penghormatan kepada raja menjadi simbol saling memaafkan, penyucian hati, serta penguat ikatan kekeluargaan.
Tetapi, perjalanan Kebiasaan ini tidak selalu berjalan mulus. Di publikasi ilmiah berjudul “Kebiasaan Sungkeman sebagai Kearifan Lokal Di Membangun Kearifan Lokal Dunia Islam” karya Jamal Ghofir dan Mohammad Abdul Jabbar Di Jurnal Kajian Al-Kamal, dijelaskan bahwa Di masa penjajahan Belanda, kegiatan sungkeman kerap dicurigai sebagai ajang konsolidasi politik. Sebab, pihak keraton tidak sepenuhnya leluasa Melakukan prosesi tersebut.
Kecurigaan itu memuncak Di Idulfitri tahun 1930. Pemerintah kolonial hampir Menyita Soekarno dan Radjiman Wedyodiningrat Pada Berpartisipasi Di prosesi sungkeman Di Gedung Habipraya, Singosaren, Keraton Surakarta.
Belanda menduga Peristiwa tersebut merupakan pertemuan terselubung Untuk melawan penjajah. Situasi mereda Sesudah Pakubuwono X menjelaskan bahwa kegiatan itu murni Kebiasaan sungkeman dan halal bihalal Di rangka menyambut Idul Fitri.
Dari peristiwa tersebut, sungkeman Lebih dikenal sebagai Kebiasaan terbuka yang identik Didalam suasana silaturahmi atau “open house” Pada Lebaran, dan terus dilestarikan hingga sekarang.
Kapan Sungkeman Dilakukan?
Berdasarkan publikasi ilmiah berjudul “Kebiasaan Sungkeman sebagai Kearifan Lokal Di Membangun Kearifan Lokal Dunia Islam” karya Jamal Ghofir dan Mohammad Abdul Jabbar Di Jurnal Kajian Al-Kamal, Kebiasaan sungkeman Di Jawa umumnya dilakukan Di dua momentum utama, yakni Di prosesi pernikahan dan Pada Lebaran.
1. Sungkeman Pernikahan
Di adat Jawa, sungkeman menjadi salah satu rangkaian penting Di upacara pernikahan. Prosesi ini dilakukan sesudah akad atau Pada resepsi, ketika kedua mempelai menghadap orang tua Untuk memohon doa restu.
Secara makna, sungkeman pernikahan merupakan bentuk permohonan izin dan restu Di membangun Rumah tangga Terbaru. Di pandangan Kearifan Lokal Dunia Jawa, restu orang tua Memiliki posisi yang sangat penting Lantaran diyakini berkaitan Didalam keberkahan hidup pasangan tersebut.
Di Di Itu, prosesi ini juga menjadi momen Untuk mempelai Untuk menyampaikan rasa terima kasih atas kasih sayang, pengorbanan, dan didikan yang telah diberikan Dari kecil.
Tata cara sungkeman pernikahan umumnya sebagai berikut:
- Orang tua duduk berdampingan Di tempat yang telah disediakan Di rangkaian prosesi adat.
- Mempelai, secara bergantian atau bersamaan, berlutut atau bersimpuh Di hadapan orang tua.
- Kedua mempelai menundukkan kepala sebagai tanda hormat, lalu mencium tangan orang tua.
- Di suasana khidmat, mempelai menyampaikan permohonan doa restu serta ungkapan terima kasih.
- Orang tua Sesudah Itu Memberi doa dan nasihat sebagai bekal kehidupan Rumah tangga.
- Prosesi ini biasanya berlangsung Di suasana haru dan menjadi salah satu Pada paling emosional Di rangkaian pernikahan adat Jawa.
2. Sungkeman Lebaran
Berbeda Didalam pernikahan, sungkeman Lebaran dilakukan Sesudah sholat Idul Fitri atau Pada keluarga besar berkumpul. Momentum ini dimanfaatkan Untuk mempererat kembali hubungan kekeluargaan.
Maknanya lebih menekankan Di permohonan maaf atas Kesalahan Individu yang pernah dilakukan, baik yang disengaja maupun tidak. Kebiasaan ini menjadi sarana refleksi diri Sesudah menjalani ibadah puasa Ramadan, sekaligus memperbaiki relasi Di anggota keluarga yang lebih muda Didalam yang lebih tua.
Tata cara sungkeman Lebaran biasanya meliputi:
- Orang yang lebih tua duduk Di tempat yang layak sebagai bentuk penghormatan.
- Anggota keluarga yang lebih muda menghampiri secara bergiliran dan Memutuskan posisi bersimpuh atau jongkok.
- Didalam kepala tertunduk, mereka mencium tangan orang tua atau kerabat yang dituakan.
- Sambil berjabat tangan, disampaikan permohonan maaf dan doa agar hubungan tetap harmonis.
- Melewati dua momentum tersebut, sungkeman menjadi simbol penghormatan Untuk memperkuat nilai bakti, kerendahan hati, dan keharmonisan Di keluarga.
15 Ucapan Pada Sungkeman yang Paling Lengkap dan Bermakna
Diadaptasi Didalam publikasi ilmiah berjudul Sejarah dan Perkembangan Kebiasaan Sungkem Komunitas Pasuruan Tahun 1960-2000 Di Digital Library UIN Sunan Ampel Surabaya. Berikut 15 contoh ucapan sungkeman yang sarat makna dan bisa dijadikan inspirasi Pada lebaran.
1. Ngaturaken Sugeng Riyadi Pak/Bu/Mbah, kawula nyuwun pangapunten ingkang katah, menawi wonten klenta-klentunipun atur saha lampah ingkang kawula sengaja utawi mboten sengaja. Mugi tansah kalebur ing dinten riyoyo punika.
Artinya:
Saya mengucapkan Selamat Hari Raya, mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada tutur kata dan perbuatan saya, baik disengaja maupun tidak. Semoga semua Kesalahan Individu melebur Di hari yang suci ini.
2. Kula sowan dhumateng Mbah/Bapak/Ibu, ngaturaken sugeng Riyadi Idul Fitri. Nyuwun pangapunten lahir lan batin, mugi tansah pinaringan berkah.
Artinya:
Saya datang menghadap Mbah/Bapak/Ibu Untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin, semoga senantiasa diberikan berkah.
3. Kula nyuwun agunging pangapunten dhumateng Simbah/Bapak/Ibu, menawi wonten lepat lan khilaf kula. Mugi Gusti Allah tansah maringi pituduh supados kula saged dados pribadi ingkang langkung sae.
Artinya:
Saya memohon maaf sebesar-besarnya atas segala Kesalahan Individu dan kekhilafan. Semoga Allah memberi petunjuk agar saya menjadi pribadi yang lebih baik.
4. Kula ngaturaken sugeng Riyadi Idul Fitri 1447 Hijriah, nyuwun pangapunten. Mugi Gusti Allah paring ampun ing dosa lan ngijabahi sedaya dunga kita.
Artinya:
Saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1447 H dan memohon maaf. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan mengabulkan setiap doa.
5. Kula nyuwun pangapunten menawi wonten lepat ing tembung lan lampah. Mugi Gusti Allah tansah paring rahmat saha berkah dhumateng kita sedaya.
Artinya:
Mohon maaf atas Kesalahan Individu Di ucapan dan perbuatan. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan berkah kepada kita semua.
6. Kula nyuwun pangapunten lahir batin dhumateng Mbah/Bapak/Ibu, menawi wonten lepat kula ing lampah. Mugi Gusti Allah tansah maringi hidayah lan kebaikan.
Artinya:
Saya memohon maaf lahir batin atas Kesalahan Individu yang pernah saya lakukan. Semoga Allah Memberi petunjuk dan kebaikan.
7. Ibu/Bapak/Mbah, kula ngaturaken sugeng Riyadi saha nyuwun pangapunten lahir lan batin atas sedaya kalepatan ingkang kula lampahi kanthi sengaja utawi boten. Nyuwun donga pangestu supados saged dados pribadi ingkang langkung becik.
Artinya:
Saya mengucapkan Selamat Hari Raya dan memohon maaf atas segala Kesalahan Individu, baik disengaja maupun tidak. Mohon doa restu agar saya menjadi pribadi yang lebih baik.
8. Kula sowan nyuwun pangapunten dhumateng Mbah/Bapak/Ibu, menawi wonten lepat lan khilaf kula. Mugi Gusti Allah maringi berkah saha umur ingkang manfaat.
Artinya:
Saya datang memohon maaf atas Kesalahan Individu dan kekhilafan saya. Semoga Allah memberi berkah dan umur yang bermanfaat.
9. Kula ngaturaken sugeng Riyadi Idul Fitri, nyuwun pangapunten lahir lan batin. Mugi kita tansah diparingi rahmat saha hidayah saking Gusti Allah.
Artinya:
Saya mengucapkan Selamat Idul Fitri dan memohon maaf lahir batin. Semoga kita selalu diberi rahmat dan petunjuk Didalam Allah.
10. Kula nyuwun pangapunten menawi wonten tembung lan lampah ingkang mboten kepenak. Mugi Gusti Allah paring kanugrahan saha keselamatan.
Artinya:
Mohon maaf apabila ada perkataan dan perbuatan yang kurang berkenan. Semoga Allah memberi anugerah dan keselamatan.
11. Kula sowan nyuwun pangapunten dhumateng panjenengan, menawi wonten kalepatan ing tembung utawi tumindak. Mugi diparingi kesabaran saha Keadaan ing salaminipun.
Artinya:
Saya memohon maaf atas Kesalahan Individu Di ucapan maupun tindakan. Semoga selalu diberi kesabaran dan Keadaan sepanjang hidup.
12. Kula nyuwun pangapunten dhumateng Mbah/Bapak/Ibu. Mugi-mugi sedaya dosa kita dipun apura lan diparingi hidayah Gusti Allah.
Artinya:
Saya memohon maaf. Semoga semua dosa kita diampuni dan diberi petunjuk Dari Allah.
13. Kula sowan dhumateng panjenengan, nyuwun pangapunten lahir lan batin. Mugi Allah paring kawelasan saha pangestu dhumateng kita sedaya.
Artinya:
Saya datang memohon maaf lahir batin. Semoga Allah memberi kasih sayang dan restu kepada kita semua.
14. Kula ngaturaken sugeng Riyadi, nyuwun pangapunten menawi wonten kalepatan kula ing lampah. Mugi tansah pinaringan katentreman.
Artinya:
Saya mengucapkan Selamat Hari Raya dan memohon maaf atas Kesalahan Individu saya. Semoga selalu diberi ketenteraman.
15. Kula nyuwun pangapunten dhumateng panjenengan, menawi wonten kalepatan kula ing budi lan laku. Mugi diparingi berkah saha hidayah.
Artinya:
Saya memohon maaf atas Kesalahan Individu Di sikap dan perbuatan. Semoga diberi berkah dan petunjuk.
Kelima belas contoh ini dapat digunakan Pada sungkeman kepada orang tua, kakek-nenek, maupun kerabat yang dituakan, Didalam bahasa yang tetap sopan, halus, dan penuh penghormatan sesuai Kebiasaan Jawa.
Demikian sejarah Kebiasaan sungkeman Di Indonesia yang dikenalkan Dari Mangkunegara I Dari tahun 1930. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan Untuk detikers.
Artikel ini ditulis Dari Angely Rahma, peserta Langkah MagangHub Bersertifikat Didalam Kemnaker Di detikcom.
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Sejarah Kebiasaan Sungkeman, Dikenalkan Mangkunegara I Dari tahun 1930











