Bandung –
Menjelang petang, sisi Jalan Pagarsih, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung ramai Dari deru Kendaraan Bermotor Roda Dua dan Kendaraan Pribadi yang hilir mudik. Akan Tetapi Hingga balik keramaian itu, ada irama lain yang mencuri perhatian.
Hingga ruang sempit Hingga tepi jalan, tepat Hingga bawah kabel-kabel listrik yang menjuntai, hentakan kaki, suara gemuruh tambur serta denting simbal menggema. Semua itu bersumber Di anak-anak yang Lagi berlatih barongsai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan Tetapi tidak ada kostum barongsai berwarna mencolok, tidak ada kepala naga Didalam mata besar dan bulu lebat. Yang ada hanyalah tubuh-tubuh kecil yang bergerak selaras, membayangkan barongsai yang kelak mereka kenakan menyambut Tahun Terbaru Imlek 2026.
Keterbatasan menjadi pemandangan sehari-hari Di Pelatihan mereka. Kabel yang melintang Hingga atas kepala memaksa Pelatihan dilakukan tanpa kostum. Ruang yang sempit membuat setiap gerakan harus dihitung Didalam cermat.
“Kalau pakai kostum takut nyangkut kabel. Dari Sebab Itu Pelatihan begini dulu,” ujar Faizal Alifianra Sujana (11) Hingga sela-sela Pelatihan, Selasa (10/2/2026).
Faizal mengaku sudah ikut Pelatihan barongsai Dari dua tahun terakhir. Awalnya ia hanya menonton kakak-kakak Hingga lingkungannya berlatih. Di sekadar menonton, ia Setelahnya Itu ikut mencoba.
“Awalnya ada yang Pelatihan, saya suka Di kecil lihat. Saya tanya boleh ikutan enggak, boleh katanya,” ucapnya
Pelatihan berlangsung serius. Satu per satu gerakan diulang. Di langkah dasar, posisi kaki, hingga koordinasi Di Olahragawan Di dan Di. Sesekali, Pelatihan dihentikan ketika Manajer Di Skuat Barongsai Long Wang Indonesia ini memberi arahan.
Ia mengaku tak mudah berlatih barongsai, apalagi Hingga usianya yang masih cukup belia. Akan Tetapi berkat ketekunan, Faizal kini Dari Sebab Itu salah satu Olahragawan yang diandalkan Hingga tempatnya.
“Awalnya sih takut, tegang gitu pas Hingga atas. Pernah jatuh juga, belum jatuh belum bisa,” katanya tersenyum.
Pelatihan anak-anak ini berada Hingga bawah bimbingan Agus Hendrik, Manajer sekaligus pendiri Lang Wang Indonesia. Di pinggir jalan, Agus tak henti memberi aba-aba dan koreksi. Baginya, Pelatihan jelang Imlek menkadi tanggung jawab Sebagai menjaga Standar pertunjukan.
“Kita menjelang Imlek ini selalu Pelatihan rutin Lantaran kita harus Menyediakan perform yang terbaik. Kita Hingga sini menghibur Komunitas, barongsai itu ditunggu,” ujar Agus.
Ia menjelaskan, fokus utama Pelatihan adalah kekuatan fisik. Barongsai bukan sekadar tarian, melainkan Latihan yang menguras tenaga dan membutuhkan ketahanan tubuh.
“Kita yang paling utama itu Pelatihan fisik, terutama tangan, perut, dan kaki. Dari Sebab Itu Pelatihan fisik seminggu itu bisa tiga kali, tiap Pelatihan pasti ada Pelatihan fisik,” katanya.
Soal keterbatasan tempat, Agus tak menampik Kemakmuran yang mereka hadapi jauh Di ideal. Akan Tetapi justru Hingga situlah ia melihat semangat anak-anak tumbuh.
“Terus terang saya salut. Hingga mana kita keterbatasan tempat tapi semangat mereka tetap Sebagai mengejar prestasi utamanya,” ucapnya.
Hingga kini, Lang Wang Indonesia belum Memiliki tempat Pelatihan tetap. Setiap hari, sisi Jalan Pagarsih menjadi ruang belajar bersama, meski penuh risiko.
“Tiap hari kita Pelatihan Hingga sini, terus terang belum punya tempat Pelatihan. Kendalanya ya risiko, Lantaran banyak kendaraan, ganggu juga pejalan kaki Bisa Jadi,” kata Agus.
Total ada lebih Di 30 anak yang berlatih Hingga Lang Wang Indonesia. Usia mereka beragam, sebagian masih sangat belia. Akan Tetapi mimpi yang mereka bawa cukup besar. Agus mengungkapkan, jika tak ada kendala, anak-anak asuhnya dijadwalkan tampil Hingga level dunia.
“Kalau tidak ada halangan, kita bulan Oktober mau mewakili Indonesia Hingga Macau, Hingga Trophy barongsai dunia, Hingga bawah usia 12 tahun kelas junior,” ujarnya.
Menariknya, Agus menegaskan bahwa mayoritas anak yang berlatih barongsai Hingga Pagarsih justru bukan keturunan Tionghoa. Hal itu menjadi bukti bahwa barongsai telah melampaui sekat etnis dan menjadi Dibagian Di Kebiasaan Global bersama.
“Hingga sini kebanyakan itu justru bukan keturunan. Terus terang Sebagai barongsai itu masuk Kebiasaan Global. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi,” ujar Agus.
(bba/sud)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Semangat Bocah Pagarsih Sambut Imlek 2026









