Setelahnya 37 Tahun, Karya Agung Hingga Akah Klungkung Digelar Lagi Bersama 500 Penjor


Klungkung –

Desa Adat Akah Hingga Kabupaten Klungkung, Bali, mendadak semarak dan dipadati pemandangan estetik. Sebanyak hampir 500 penjor berjejer rapi Hingga kedua sisi jalan raya, Bersama paduan warna putih dan kuning menghiasi jalanan desa sepanjang 1,5 kilometer (km).

Kemegahan penjor Hingga sepanjang jalan Desa Adat Akah ini merupakan Dibagian Untuk gelaran Karya Pamungkah Tawur Agung yang digelar serentak Hingga tiga pura Area setempat.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan pantauan detikBali Ke Minggu (4/10/2026) siang, penjor-penjor bambu tampak menjulang tinggi Bersama ujung melengkung Hingga Ditengah jalan. Hiasan janur, sampian, serta kain kuning keemasan dan putih berkibar anggun tertiup angin, berpadu Bersama Kegiatan warga dan kendaraan yang berlalu-lalang Hingga bawahnya.

Hingga sekretariat Desa Adat Akah, sejumlah warga atau krama adat tampak Merencanakan berbagai jenis dan bahan upacara. Hingga sebuah papan keterangan tertulis serangkaian upacara yang Berencana dilangsungkan meliputi Karya Mamungkah, Tawur Agung, Ngubung, Pedagingan, Ngenteg Linggih, Pedudusan Agung, hingga Ngusaba Desa yang dipusatkan Hingga Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem Desa Adat Akah.

Bendesa Adat Akah, I Ketut Wirta, mengungkapkan bahwa kemeriahan ini merupakan hasil gotong royong dan kerja sama seluruh krama (warga) desa.
Rangkaian upacara suci ini dijadwalkan mulai bergulir Ke 7 Oktober 2026 mendatang, Bersama puncak karya Ke 19 Oktober 2026.

“Sebagai penjor, ini dibangun Dari krama kita yang jumlahnya mencapai seribu lebih kepala keluarga (KK). Supaya bisa dilihat Untuk batas selatan sampai utara, hampir satu setengah kilo panjangnya. Jumlahnya mencapai Di 500 penjor. Kami Untuk jaraknya Untuk 1,5 kilo Supaya dapat satu penjor Bersama penjor yang lainnya tujuh meter,” ujar Wirta Pada ditemui detikBali.

“Kalau biaya per satu penjor, ini dibuat ya, Di Rp 150 ribu. Itu yang kecil. Kalau yang besar-besar juga ada, yang biasanya Rp 10 juta per penjor,” imbuhnya.

Wirta menjelaskan makna filosofis Hingga balik dekorasi tradisional tersebut. Penggunaan warna putih Ke penjor melambangkan manifestasi Dewa Iswara Hingga arah timur, Sambil warna kuning menyimbolkan Dewa Mahadewa Hingga arah barat.

Karya Agung Terakhir Digelar Ke 1989

Sebagai catatan sejarah Untuk warga setempat, karya agung serupa yang melibatkan tiga pura secara bersamaan ini terakhir kali dilaksanakan Ke tahun 1989 silam. Supaya 37 tahun sudah warga menunggu karya agung ini.

Sebab sampai Mengadakan upacara Hingga tiga pura yang sudah Merasakan perbaikan, maka Biaya yang dibutuhkan pun mencapai milyaran Idr. Biaya ini sendiri diperoleh Untuk Pemberian pemerintah Lokasi dan juga punia Untuk krama adat.

“Setelahnya 37 tahun, akhirnya kami bisa memperbaiki tiga pura yang sudah membutuhkan perbaikan,” papar Wirta.

Desa Adat Akah sendiri terdiri Untuk 6 banjar dan Memiliki empat pura. Perbaikan dan karya satu pura sudah dilaksanakan, Supaya tahun ini dilaksanakan Sebagai tiga pura sekaligus.

(nor/nor)


Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Setelahnya 37 Tahun, Karya Agung Hingga Akah Klungkung Digelar Lagi Bersama 500 Penjor

nagabet76slot gacorslot online slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin
nagabet76 login
situs slot gacorbr Slot Gacor Resmi Hari Ini