Bandung –
Pada ini Ditengah berlangsung Kirab Mahkota Binokasih Untuk bingkai Ulang Tahun Tatar Sunda. Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang terbuat Untuk delapan kilogram emas dan dipercaya sebagai peninggalan para raja Sunda, diarak keliling Jawa Barat.
Dimulai Untuk Kabupaten Sumedang sebagai bekas Kerajaan Sumedang Larang yang Merasakan mahkota itu Untuk Kerajaan Sunda Pajajaran, mahkota lantas dibawa Di sejumlah Daerah seperti Ciamis, Bogor, Depok, Cianjur, hingga Cirebon.
Mahkota itu sudah berumur tua. Dikisahkan, mahkota Binokasih Sanghyang Pake dibuat Dari seorang raja yang taat beragama atau ketika itu disebut Raja Resi. Namanya, Bunisora Suradipati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bunisora sendiri sebenarnya bukanlah yang berhak Merasakan tahta. Ketika itu Di Kerajaan Galuh, dia merupakan seorang patih dan kakaknya, Prabu Lingga Buana adalah Raja Galuh. Akan Tetapi, pasca-Konflik Bersenjata Bubat, dia mau-tidak mau menjadi raja sebab Prabu Niskalawastu yang seharusnya Merasakan tahta, masih kecil.
Sambil mengasuh Niskalawastu, Bunisora menjadi raja (1357-1371). Pada menyiapkan pelantikan Niskalawastu itulah Bunisora membuat Mahkota Sangyang Pake. Bagaimana kisah pembuatannya? Simak yuk!
Situasi Berkabung Di Kerajaan Galuh
Suasana berkabung masih belum pupus Untuk benak kalangan keluarga Kerajaan Galuh dan masayarakat ketika itu, Berencana sebuah peristiwa yang terjadi Di Bubat, sebuah lapangan Di Disekitar alun-alun Kerajaan Majapahit.
Di sana, Raja Sunda bernama Prabu Linggabuana yang masyhur Bersama gelar Prabu Wangi terbunuh. Sambil putrinya yang semula Berencana dinikahkan Bersama Raja Hayamwuruk, yaitu Dyah Pitaloka Citraresmi memilih ‘moksa’ Di tempat itu juga.
|
Sejumlah budayawan Sunda dan peserta mengikuti kirab mahkota Binokasih Di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Sabtu (13/5/2023). Mahkota Binokasih yang telah berusia 800 tahun dan terbuat Untuk emas seberat 8 kilogram tersebut dikirab Dari budayawan Sunda Untuk Sumedang, Ciamis dan Bogor sebagai bentuk silaturahmi dan napak tilas perjalanan sejarah kerajaan Sunda. Antara FOTO/Arif Firmansyah/aww. Foto: Antara FOTO/Arif Firmansyah
|
Naskah kuno yang memuat runtutan raja-raja Sunda berjudul ‘Carita Prahyangan’ menggambarkan peristiwa itu sebagai bencana yang harganya sangat mahal.
“Manak deui Prebu Maharaja, lawasniya ratu tujuh tahun, kena kabawa ku kalawisaya, kabancana ku seuweu dimanten, ngaran Tohaan. Mundut agung dipipanumbasna.
(Prabu Maharaja, lamanya menjadi ratu tujuh tahun, lantara kena bencana. Terbawa celaka anaknya, nama Tohaan, yang meminta sesuatu yang sangat mahal).
“Urang réya sangkan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakian Di Sunda. Pan prangrang Di Majapahit.”
(Banyak sekali yang pergi Di Jawa, Lantaran tidak mau bersuami Di Sunda. Ya, jadinya Konflik Bersenjata Di Majapahit).
Naskah itu Lalu melanjutkan. Ada anak Prabu Wangi yang merupakan anak lelaki dan bakal mewarisi takhta kerajaan. Namanya, Niskalawastu Kencana. Meski umurnya masih muda, sudah tampak bahwa dia sosok yang banyak mengerti. Tetapi, justru Lantaran masih muda itulah, dia Sambil waktu ‘diasuh’ dahulu Dari Prabu Bunisora Suradipati, pamanya sendiri.
Bunisora Membuat Mahkota Binokasih Sanghyang Pake
Untuk naskah ‘Carita Parahyangan’ mahkota ini hanya disebut sebagai Sanghyang Pake. Sang Satmata atau Bunisora atau Batara Guru Di Jampang yang ‘mengasuh’ Niskalawastu Kancana sambil menunggu umurnya dewasa dan siap ditahbiskan menjadi raja, membuat mahkota tersebut.
“Batara Guru Di Jampang ma, inya nu nyieun ruku Sanghiyang Paké, basa nu wastu dijieun ratu. Beunang nu pakabrata séwaka ka déwata. Nu Di tiru ogé paké Sanghiyang Indra, rukuta.
(Batara Guru Di Jampang, dialah yang membuat mahkota Sanghyang Paké, waktu yang punya hak diangkat menjadi ratu. Hasil tirakat menahan lapar Untuk berbakti kepada dewata. Yang ditiru itu mahkota yang dipake Sanghyang Indra).
Tetapi, Untuk pengasuhan Bunisora Suradipati yang merupakan ‘raja-resi’, Niskalawastu Kancana tumbuh menjadi pribadi yang ‘masagi’ (matang Untuk berbagai pengatahuan). Supaya, naskah ‘Carita Parahyangan’ yang sejatinya membongkar Peristiwa Pidana Hukum-Peristiwa Pidana Hukum raja-raja Sunda itu, malah Menyediakan pujian.
Di zaman tersebut, sesepuh kampung enak makan, para resi tentram Untuk menjalankan aturan resi, mengamalkan purbatisti-purbajati. Juga kehidupan Ke Umumnya. Hutan dibagi-Bagi Bagi diolah, tidak ada hal yang sulit.
Mahkota Binokasih dan Palangka Sriman Sriwacana
Jauh Sebelumnya Bunisora Suradipati membuat Mahkota Bimokasih Sanghyang Pake yang modelnya dia dapatkan Untuk hasil tirakat berbakti kepada dewata, raja-raja Sunda ditahbiskan menjadi rada Bersama sebuah ‘pangcalikan’ (tempat duduk) bernama Palangka Sriman Sriwacana.
Untuk ‘Carita Parahyangan’ diterangkan, Palangka Sriman Sriwacana dibuat Dari Prabu Susuk Tunggal dan masih bertahan hingga akhir kerajaan Sunda Pajajaran. Adanya Mahkota Binokasih Sanghyag Pake Untuk perjalanan sejarah Sunda, membuat lengkap piranti penobatan raja. Yaitu, Kandidat raja duduk Ke Palangka Sriman Sriwacana dan Ke kepalanya dipakaikan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake Sekarang Ini
Arsip detikjabar berjudul “Sejarah Mahkota Binokasih Peninggalan Kerajaan Sumedang Larang” mengungkapkan pernyataan tokoh Keraton Sumedang Larang tentang Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.
Nonoman Karaton Sumedang Larang (KSL), Rd. Lucky Djohari Soemawilaga mengatakan Mahkota Binokasih kini tersimpan Di museum Prabu Geusan Ulun, dan asli merupakan simbol legitimasi Bagi kerajaan Sunda.
Lucky melanjutkan, Mahkota Binokasih berasal Untuk Kerajaan Galuh yang dibuat Ke masa Prabu Bunisora. Mahkota tersebut disematkan pertama kali kepada Prabu Niskalawastu Kencana.
Mahkota Binokasih disematkan secara turun temurun Untuk suksesi raja-raja Di Tatar Sunda. Raja-raja tersebut mulai Untuk Kerajaan Galuh, Kerajaan Sunda, hingga Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda digabungkan menjadi satu kerajaan Dari Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Namanya menjadi Kerajaan Sunda Padjadjaran.
“Lalu kerajaan Sunda Padjadjaran ini dipindahkan pusat kerajaannnya Di Pakuan Padjadjaran Bogor dan Ke tanggal 22 April 1578 atas perintah Raja Padjadjaran terakhir Prabu Seda Surya Kencana memerintahkan kepada Senapati Kerajaan Padjadjaran Di antaranya Eyang Jaya Prakosa, Eyang Nanganan, Eyang Kondang Hapa dan Eyang Terong Peot dan Senopati lainnya Bagi menyerahkan Mahkota Binokasih ini Di Sumedang Larang,” katanya.
(yum/yum)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Sosok Bunisora Suradipati, Pembuat Mahkota Binokasih Sanghyang Pake









