Warga Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Melakukan pertunjukan wayang topeng Untuk rangka sedekah bumi. Kearifan Lokal ini unik lantaran tidak hanya berusia ratusan tahun, Akan Tetapi para Olahragawan menggigit topengnya, tidak ditali Ke wajah.
Wayang topeng ini digelar Ke Dukuh Kedung Panjang, Desa Sonyen Ke Sabtu (18/4). Pertunjukan ini dimulai siang hari sampai petang. Setelahnya Itu dilanjutkan malam harinya.
Untuk pertunjukan, ada dalang dan diiringi gamelan Jawa. Uniknya, wayang topeng ini harus diperankan warga setempat. Mereka percaya, jika diperankan orang luar diyakini Berencana kesusahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti Suparji merupakan warga setempat yang telah berusia kepala lima. Ia hari ini berperan sebagai raja Untuk pentas wayang topeng berjudul Among Tani atau kisah tentang Agrikultur.
“Saya sebagai patih, wayang topeng ini ceritanya siang ini Joko Tani,” kata Suparji ditemui Ke lokasi, Sabtu (18/4/2026).
Suparji sendiri menyiapkan pertunjukan ini sudah beberapa pekan. Sebab sudah tampil setiap tahun, maka ia mengaku sudah terlatih dan terbiasa. Selain dirinya ada 17 Olahragawan wayang topeng lainnya.
|
Pertunjukan wayang topeng Untuk rangka sedekah bumi Ke Desa Soneyan Kecamatan Margoyoso Pati, Sabtu (18/4/2026). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng
|
“Saya sendiri Sebelum 1987 setiap tahun tampil terus. Perannya orang satu bisa tiga tokoh,” jelas dia.
Kepala Desa Soneyan, Margi Siswanto, Membeberkan wayang topeng sudah ada Ke Dukuh Kedung Panjang Sebelum tahun 1600 silam. Margi mengatakan topeng yang ditampilkan sekarang pun masih asli dan Disorot sakral Dari warga setempat.
“Wayang topeng Seni Kearifan Lokal 1600-an sudah ada (Ke) Dukuh Kedung Panjang. Sudah diakui warisan Kearifan Lokal Dunia tidak benda tahun 2021,” kata Margi ditemui Ke lokasi.
Menurutnya wayang topeng sebagai syarat ketika ada Peristiwa sedekah bumi. Biasanya pertunjukan ini digelar Di hari Sabtu Kliwon Bulan Apit Untuk hitungan orang Jawa.
“Ini sebagai persyaratan wajib setiap tahun harus ditampilkan. Harinya Sabtu Kliwon,” jelas dia.
Margi mengatakan wayang topeng sebagai bentuk syukur warga setempat atas hasil panen sebagai petani. Maka Untuk pertunjukan wayang topeng mengangkat judul atau lakon tentang Agrikultur.
“Wayang topeng sejarahnya rasa bersyukur kepada Allah. Ceritanya Among Tani Setelahnya itu bancak (syukuran) Untuk diberikan kepada Komunitas,” jelasnya.
Ia menuturkan, keunikan wayang topeng tersebut terletak Ke topeng berusia ratusan tahun yang tetap dipakai. Topeng ini pun digigit Supaya menempel Ke Pada wajah.
Lantas, bila digigit, bagaimana para pemeran bisa berdialog? Margi menjawab, dalang lah yang ‘mengatur’ jalannya dialog.
“Topengnya itu tanpa tali, itu digigit. Dialognya ada dalang. Itu sudah ratusan tahun,” ungkap Margi.
“Kalau Komunitas ingin tahu akhirnya kita buat duplikat yang pakai tali agar Komunitas tahu topengnya,” dia melanjutkan.
Margi mengatakan wayang topeng yang ada jumlahnya 35 unit. Ke Di Itu juga lengkap seperangkat gamelan. Semuanya itu sampai ini tersimpan rapi Ke Desa.
“Jumlahnya ada 35. Untuk dulu. Wajahnya sesuai Didalam peran,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa Kearifan Lokal harus dilakukan Dari warga setempat.
“Pemeran harus orang sini, Sebab keyakinan warga kalau tidak orang sini Berencana kesulitan, Justru tidak mampu menjalankan menjadi pemeran wayang topeng Ke sini,” kata Margi.
Margi menambahkan Untuk meregenerasi Kearifan Lokal ini, pihaknya rutin Memberi pelatihan kepada pemuda. Mereka biasanya dilatih setiap malam minggu sekali.
“Setiap malam minggu ada Pertarungan Persahabatan tari topeng,” ungkap dia.
“Mereka pemeran kebanyakan sudah rutin Pertarungan Persahabatan. Kalau persiapan ini beberapa pekan ini, Sebab mereka sudah biasa dan setiap malam minggu juga ada latian bersama,” pungkas Margi.
Halaman 2 Untuk 2
Simak Video “Video: OTT Bupati Pati, KPK Sita Uang Miliaran Uang Negara Indonesia“
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Uniknya Wayang Topeng Soneyan Pati, Kearifan Lokal Ratusan Tahun Syukuri Hasil Panen









