Cianjur –
Desa Susukan, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, dikenal sebagai salah satu sentra perajin bongsang, keranjang tradisional berbahan bambu. Akan Tetapi, Hingga balik berkembangnya kerajinan yang kini menghidupi ribuan warga tersebut, tersimpan kisah inspiratif seorang pria tunanetra bernama Saud.
Tak banyak yang menyangka, kerajinan bongsang yang menjadi denyut ekonomi warga Desa Susukan berawal Bersama tangan seorang penyandang Penyandang Disabilitas sensorik netra. Saud diketahui merupakan warga asal Bogor yang pindah Hingga Kampung Susukan Disekitar tahun 1950-an dan tinggal bersama sanak saudaranya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa waktu Setelahnya menetap, Saud yang Memiliki keterbatasan penglihatan mulai membuat kerajinan tangan Bersama bambu. Meski tak dapat melihat, ia justru Memiliki kelebihan luar biasa: kemampuan menganyam bongsang Bersama tangan terampilnya.
Hasil anyaman tersebut menjadi sumber penghasilan Saud Sebagai memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Aktivitasnya perlahan Memikat perhatian warga Disekitar. Mereka kerap memperhatikan cara Saud menggerakkan jemarinya Di menganyam bambu, hingga akhirnya mulai menirunya.
“Bersama dulu warga sini membuat bongsang. Awalnya Bersama bah Saud. Dia orang Bogor, pindah Hingga sini (Desa Susukan). Setelahnya Itu mengajarkan membuat bongsang Hingga warga,” ungkap Bah Atar (58), warga Desa Susukan, belum lama ini.
Seiring waktu, Lebihterus banyak warga yang belajar membuat bongsang. Kerajinan ini Setelahnya Itu berkembang dan menjadi mata pencaharian utama Kelompok Desa Susukan.
Sayangnya, Saud meninggal dunia Setelahnya beberapa tahun tinggal Hingga desa tersebut. Malahan, sanak saudara dan keluarganya kini tak lagi menetap Hingga Desa Susukan.
“Kalau keluarganya sudah tidak ada yang tinggal Hingga sini,” kata Bah Atar.
Meski demikian, jasa Saud tak pernah dilupakan. Kepala Desa Susukan, Dodi Damhudi, mengatakan nama Saud terus dikenang secara turun-temurun Dari warga. Berkat ilmu yang diwariskannya, kini ratusan keluarga Bersama ribuan jiwamenggantungkan hidup Bersama kerajinan bongsang.
“Seseorang yang Memiliki kekurangan fisik, nyatanya mampu Menyediakan berkah Untuk Kelompok banyak. Bersama ilmu yang diajarkannya, Kelompok dapat menyambung hidup. Karena Itu bah Saud ini sudah seperti pahlawan Untuk warga Desa Susukan,” ujar Dodi.
Sebagai menjaga Sustainability warisan tersebut, Pemerintah Desa Susukan berkomitmen mendukung para perajin bongsang. Berbagai Dukungan Akansegera diberikan, termasuk peralatan produksi yang lebih modern.
“Kami selalu mendukung para perajin, mulai Bersama pemberian alat. Rencananya kami juga memodernisasi alatnya, Agar mempermudah perajin dan produksi bisa Menimbulkan Kekhawatiran,” pungkasnya.
Kini, bongsang tak hanya menjadi simbol ekonomi rakyat Desa Susukan, tetapi juga menjadi jejak abadi perjuangan seorang tunanetra yang mengubah keterbatasan menjadi berkah Untuk banyak orang.
(dir/dir)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Warisan Jemari Tunanetra Saud Karena Itu Nafas Kehidupan Desa ‘Bongsang’











