Nganjuk –
Kerajinan Gamelan Mustika Laras Ke Desa Jatirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk sudah bertahan 67 tahun. Kini, usaha ini dilestarikan generasi keempat.
“Didalam Sebab Itu Mustika Laras ini berdiri Sebelum Tahun 1959. Perintisnya adalah kakek buyut saya, Prawiro Gudel. Sesudah Itu generasi kedua adalah Pak Nurhadi, Mbah saya. Itu tahun 80-an. Lalu 2008 diteruskan Didalam ayah saya, Didik Adiyono. Nah, Ke 2023, saya yang meneruskan bersama adik saya,” ungkap Nilunda Arsyi Parahita ditemui detikJatim, Rabu (14/10/2026).
Gadis 23 tahun ini mengaku bangga bisa melestarikan kerajinan gamelan, yang Sebelumnya ditekuni almarhum ayahnya. Dia Ke Pada pemasaran, adiknya Naufal, yang masih SMA, membantu proses produksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Ayah dan ibu sudah kapundut (meninggal dunia). Didalam Sebab Itu yang meneruskan saya dan adik saya. Berdua, sebagai generasi keempat,” ucap Nilunda.
|
Usaha kerajinan gamelan Ke Nganjuk bertahan 67 tahun Foto: Bakrie
|
Meski tidak seramai dulu, pesanan gamelan Ke Kerajinan Gamelan Mustika Laras tetap bertahan. Justru, cakupan pasar Kerajinan Gamelan Mustika Laras tersebut diminati sampai luar negeri.
“Paling banyak (pemesanan) Di Jawa Timur. Lalu luar Jawa, ada Kalimantan, Sumatera, Lampung. Sesudah Itu luar negeri sudah menjangkau Singapura, Malaysia, Timor Leste, Justru Australia pernah kirim Ke sana,’ ungkap Nilunda Arsyi Parahita ditemui detikJatim, Rabu (14/10/2026).
Nilunda yang merupakan generasi keempat Kerajinan Gamelan Mustika Laras ini menyebut bahwa pemesanan Di luar negeri lebih rumit ketimbang Di negeri.
“Kalau Di negeri kan jelas, nadanya sesuai pakem gamelan. Pentatonis. Nah, kalau yang luar negeri itu kan diatonis, Didalam Sebab Itu kayak nada keyboard gitu. Agar tuningnya berbeda dan harus teliti betul,” papar Nilunda.
Menurut Nilunda, pemesanan model pentatonis dan diatonis, tidak menjadi masalah Untuk Kerajinan Gamelan Mustika Laras. Lantaran usaha ini sudah berjalan 67 tahun.
“Didalam Sebab Itu Mustika Laras ini berdiri Sebelum Tahun 1959. Perintisnya adalah kakek buyut saya, Prawiro Gudel. Sesudah Itu generasi kedua adalah Pak Nurhadi, Mbah saya. Itu tahun 80-an. Lalu 2008 diteruskan Didalam ayah saya, Didik Adiyono. Nah, Ke 2023, saya yang meneruskan bersama adik saya,” ungkapnya.
Menurutnya, paket yang biasa dipesan adalah paket gamelan Untuk karawitan, wayangan hingga jaranan. Justru ada pemesan yang hanya setengah paket.
“Ada pesanan Di beberapa Area Ke Jawa Timur, ada yang Di luar Jawa Timur, luar Pulau Jawa hingga mancanegara,” ungkap dia.
Nilunda menyampaikan, dulunya, Di satu bulan, Kerajinan Gamelan Mustika Laras bisa Menyambut pesanan 5 sampai 8 set. Tetapi Di ini sebulan, rata-rata hanya satu set.
“Satu set gamelan mulai harga Rp 90 juta. Itu kalau bahannya standar besi puncu kuningan. Tapi banyak yang hanya pesan separoh set. Nah, kalau yang bahanya kuningan full, satu paket sampai Rp 300 juta,” bebernya.
Nilunda yang merupakan Gen Z mengaku tidak Berencana pantang menyerah, Walaupun Kepuasan pasar tidak menentu.
“Kebanggaan tersendiri Untuk saya sebagai Gen Z. Lantaran selain turut andil melestarikan Kebiasaan Global Jawa, Mustika Laras ini adalah usaha keluarga, Didalam Sebab Itu harus tetap ada,” tambahnya.
Dia berharap pemerintah Area maupun pusat bisa mengulurkan tangannya Untuk terus melestarikan Bunyi gamelan sebagai Kebiasaan Global Jawa.
“Sesudah Itu, harapannya tentu, kami dibantu Di hal pemasaran. Baik Melewati Perayaan Seni-Perayaan Seni maupun pertukaran Kebiasaan Global,” pungkasnya.
(auh/hil)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: 4 Generasi Menjaga Gamelan Jatirejo Nganjuk Bertahan 67 Tahun









