Denpasar -
Di berkeliling Hingga jalanan Bali, tak jarang menemukan toko-toko Bersama nama unik yang belum pernah terdengar Dari pendatang. Toko Bersama nama menggunakan bahasa Bali Menarik Perhatian perhatian sekaligus menggugah rasa ingin tahu arti Hingga balik nama itu.
Kebiasaan ini diawali sebuah Gaya yang diikuti banyak orang Bali Lalu diwariskan Hingga generasi berikutnya. Tidak asal diambil, nama tersebut Memperoleh arti mendalam sebagai bentuk doa atau harapan Untuk keberlangsungan Usaha mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga Denpasar misalnya, ada toko bangunan bernama Merta Sari dan toko kerajinan bernama Niti Yasa. ‘Merta Sari’ sendiri berarti harapan atas rezeki atau dapat diterjemahkan sebagai sumber rezeki. Sedangkan ‘Niti Yasa’ dapat diartikan terus-menerus atau berkelanjutan.
Kedua toko ini ternyata sudah berdiri cukup lama. Terbukti Bersama pengelolaan toko yang dilakukan Dari generasi kedua Bersama keluarga pemilik.
I Putu Jaya Wiharsa, generasi kedua pemilik Toko Merta Sari, mengatakan usahanya itu sudah berusia 20 tahun lebih. Nama ‘Merta Sari’ diberikan Dari orang tuanya.
“Satu, sebagai apresiasi orangtua sudah Menyediakan usaha. Kedua, sebuah doa supaya yang kita harapkan mesari (untung), Di arti diam tidak Hingga mana-mana mau Karena Itu sebuah tabungan,” ujar Jaya Wiharsa ketika ditemui detikBali, Rabu (7/1/2026).
Perkembangan zaman tentu membawa perubahan Di penerapan Kebiasaan penamaan toko ini. Jaya berpendapat pemilihan nama Berencana berbeda menyesuaikan zaman, tetapi tetap Memperoleh tujuan dan maksud yang sama.
Udy Nitiyasa, pemilik generasi kedua Toko Niti Yasa, menilai ada penyalahgunaan nama-nama sakral Untuk Kebiasaan penamaan toko. Salah satu contoh nama yang kurang tepat menurut Udy adalah ‘griya’.
Menurut Udy, penamaan ‘griya’ Hingga Bali adalah Untuk Rumah sulinggih atau pendeta Hindu. Rumah sulinggih Hingga Bali dipastikan berubah status menjadi ‘griya’ Lantaran melawati beberapa proses, yaitu Sudha Bumi. “Tetapi Setelahnya kita lihat, Justru sekarang ada perumahan namanya griya,” ujar Udy, Selasa (13/1/2026).
Uduy menilai penggunaan bahasa Bali sebagai Pada Bersama pelestarian Kearifan Lokal Dunia telah Merasakan penurunan. Udy melihat banyak anak muda yang merantau Hingga luar Pulau Dewata membawa Kearifan Lokal Dunia lain, Justru ada yang tidak mau berbahasa Bali.
“Contoh, tiap enam bulan balik Hingga Bali, sok-sokan nggak bisa bahasa Bali. Padahal menurut saya, buat apa sih kita malu? Soalnya orang luar sana lebih tahu Bali daripada Indonesia,” terang Udy.
Budayawan Hingga Denpasar, I Gede Anom Ranuara, menjelaskan penamaan toko memakai bahasa Bali dipengaruhi Prototipe hubungan Di Buwana Alit dan Buwana Agung, yaitu sebuah upaya penyelarasan Di manusia (Bhuwana Alit) dan alam semesta (Bhuana Agung). Hal itu membawa bahasa mengacu atau identik Bersama doa-doa.
“Contoh saja, salah satunya bergerak Hingga percetakan. Kalau percetakan lebih menggiring nama-nama bersifat tulisan. Siapa dewa yang dipuja Bersama sastra, ya Saraswati. Dia Berencana mencari sinonim-sinonim Bersama Saraswati,” kata Anom, Minggu (11/1/2026).
Selain sebagai doa, nama-nama toko Bersama bahasa Bali digunakan sebagai bentuk pengingat atas sesuatu sesuai Bersama Kebiasaan Subaning Dewasa, penamaan Bersama menghitung hari baik.
Tetapi, menurut Anom, penamaan toko menggunakan bahasa Bali ini cenderung monoton. Agar, sering kali ditemui nama-nama yang sama Hingga Area yang berbeda.
“Bahasa itu sebuah ikon atau simbol. Simbol itu pasti mempunyai fungsi dan makna. Inilah yang menyebabkan tidak menutup kemungkinan Hingga Area A dan B timbul nama-nama sama, tetapi harapan mereka itu sama,” terang Anom.
Anom mengungkapkan bahasa Bali telah Merasakan pergeseran makna, terutama Setelahnya penggunaannya Gaya. Untuk Anom, hal itu tidak bisa dipungkiri. Kini pemaknaan bahasa Bali tergantung asumsi pembaca.
“Asumsi kita melihat Bersama Kacamata apa. Kalau Kacamata religius, ini tetap merusak religi. Kalau melihat Bersama Kacamata Gaya, ya ini sah-sah saja. Kita padukan, nama lokal Karena Itu sebuah doa, Gaya kita masukkan agar Karena Itu harmonis, tidak saling membunuh. Inilah akulturasi Di kebudayaan itu yang perlu kita lakukan,” ungkap Anom.
(hsa/hsa)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Toko Bersama Nama Bahasa Bali, Sebuah Gaya atau Kebiasaan











