Ciamis –
Ke Di kepungan beton, aspal, dan hiruk-pikuk lalu lintas kota, Ciamis menyimpan sisi lain yang berbeda. Ke jantung perkotaannya, tepatnya Ke kawasan Situs Jambansari, hamparan sawah hijau seluas empat hektare masih bertahan, seolah menolak kalah Ke laju pembangunan.
Sawah Ke Di kota ini bukan sekadar ruang terbuka. Ia menyimpan jejak sejarah panjang peninggalan Bupati Galuh RAA Kusumadiningrat atau yang dikenal sebagai Kanjeng Prebu. Bagi warga Ciamis, Jambansari bukan hanya situs bersejarah, tapi juga ruang hidup, tempat melepas penat, menenangkan pikiran, sekaligus sumber air yang tak pernah kering.
Di siang hari, kawasan ini menjadi tempat Kandidatteratas warga Sebagai bersantai. Mereka duduk Ke tepi sawah, menikmati semilir angin dan pemandangan petak padi yang menghijau Ke Di kepungan bangunan kota.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari dulu, sawah Jambansari dikenal istimewa Sebab tak pernah kekurangan air. Lahan ini Malahan bisa dipanen hingga tiga kali setahun. Aliran airnya yang deras kerap dimanfaatkan warga Sebagai kebutuhan sehari-hari, terutama Di kemarau panjang.
Kuncen Situs Jambansari, Nandang Sembada, menuturkan nama Jambansari erat kaitannya Didalam keberadaan sumber mata air.
“Jambansari itu identik Didalam mata air. Bukan satu, tapi jumlahnya belasan. Sebab itulahKanjengPrebu menamakan kawasan iniJambansari,” ujarNandang Di ditemui
|
Saluran air yang mengairi sawah Jambansari yang berada Ke pusat kota Ciamis. (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar)
|
Jumat (30/1/2026).
Menurutnya, dahulu terdapat sumber mata air terbesar Ke sebelah barat makam Kanjeng Prebu. Air Di sumber itu Datang Hingga sebuah kolam besar yang disebut situ. Kawasan Jambansari Ke masa lalu jauh lebih luas dibanding sekarang, Malahan membentang hingga Dibelakang Green Hotel atau Diseberang SMAN 2 Ciamis.
“Dulu Situ Jambansari ini seperti bank air. Airnya dialirkan Hingga kantor-kantor pemerintahan,” kata Nandang.
Seiring perjalanan waktu, situ perlahan berubah menjadi sawah dan kebun. Di total empat hektare lahan persawahan, sebagian dikelola petani yang hasilnya disetorkan Hingga yayasan Sebagai Perawatan Medis situs. Sambil Ke Dibagian utara, Disekitar 250 bata lahan sawah menjadi bengkok juru Kunci. Hal ini sebagai amanat langsung Kanjeng Prebu sebagai pengganti gaji, dan hingga kini masih dikelola turun-temurun.
Meski kini airnya bercampur Didalam aliran lain, pasokan air Ke Jambansari tak pernah surut. Terdapat tiga sumur Didalam kedalaman hanya dua hingga tiga meter yang tetap berair meski kemarau ekstrem.
“Alhamdulillah, air Ke sini tidak pernah habis. Warga sering datang Memutuskan air Sebagai konsumsi,” tuturnya.
Tak hanya menyimpan sejarah dan sumber kehidupan, Jambansari juga lekat Didalam Kearifan Lokal. Salah satunya ritual turun mandi, sebuah amanah Kanjeng Prebu yang dulu kerap dilakukan Sebagai anak-anak yang Akansegera disunat.
“Sekarang masih ada, tapi tidak seintens dulu. Biasanya Sebagai menghibur pengantin sunat. Yang datang juga Di berbagai Lokasi Ke Ciamis, yang tahu sejarahnya,” jelas Nandang.
Menurut Nandang, Jambansari tetap ada sebagai pengingat bahwa ruang hijau, air, dan sejarah bisa hidup berdampingan sebagai warisan kearifan lokal yang tak lekang Dari waktu.
(orb/orb)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Rahasia Sawah Situs Jambansari Ke Ciamis yang Tak Pernah Kering











