Implementasi Toleransi Ala Warga Kampung Adat Cireundeu

Cimahi

Kota Cimahi menjadi wajah nyata bagaimana toleransi dijalankan Bersama umat beragama. Kota Di pinggiran ibu kota Jawa Barat itu merupakan manifestasi keberagaman Tanah Air Untuk satu wadah kecil.

Tak cuma penganut agama Islam sebagai mayoritas, Di Cimahi juga ada penganut agama Kristen, Hindu, hingga penghayat kepercayaan seperti Sunda Wiwitan yang penganutnya bermukim Di Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan.

Penghayat kepercayaan yang mengedepankan hubungan Di manusia Bersama Sang Pencipta Lewat keselarasan hubungan Bersama alam itu berjumlah Disekitar 300 jiwa. Beberapa Di antaranya memutuskan berpindah keyakinan Lantaran berbagai alasan.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di bulan Ramadan 1447 Hijriah ini misalnya, menjadi momen Sebagai Lebih Menunjukkan potret toleransi antarumat beragama. Ketika umat Muslim berpuasa, mereka yang tidak menjalankan ritual keagamaan tersebut tetap menghormati.

“Di kami (Kampung Adat Cireundeu) berjalan baik, kami saling menghormati satu ajaran Bersama ajaran agama yang lainnya. Bersama Sebab Itu Kelompok adat Di sini Walaupun tidak puasa, tapi menjaga etika dan menghormati yang puasa,” kata Ais Pangampih Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi Pada ditemui, Senin (23/2/2026).

Abah Widi menuturkan apa yang terjadi Di warga Kampung Adat Cireundeu sebagai penganut Sunda Wiwitan dan warga Muslim lainnya merupakan definisi Bersama ‘Silih Ajenan’ atau saling menghormati.

“Kalau Untuk bahasa Sunda itu istilahnya Teu meunang sirik pidik jail kaniaya. Bersama Sebab Itu nggak boleh iri, dengki, usil, dan zalim Bersama sesama. Kita harus saling menghormati,” kata Abah Widi.

Suasana Kampung Cireundeu Cimahi Foto: Whisnu Pradana

Sebagai penghayat kepercayaan, Abah Widi menyebut ia dan penganut Sunda Wiwitan lainnya juga melakukan puasa. Akan Tetapi bukan seperti yang dijalankan umat Islam atau puasa menahan lapar dan haus, melainkan Bersama segi perilaku.

“Kami Di adat (Cireundeu) juga puasa kok, tapi bukan berhenti makan. Yaitu menjaga mulut, menjaga kata, telinga, ucapan, tingkah laku. Muslim juga kan seperti itu, bukan cuma menahan lapar dan haus, tapi juga menjaga hal-hal yang tidak baik seperti membicarakan orang lain,” kata Abah Widi.

Untuk menjalankan ritual keagamaan, baik warga yang beragama Muslim maupun mereka penganut Sunda Wiwitan sama sekali tak pernah saling mengganggu maupun terganggu. Setiap penganut agama berhak menjalankan ritual Bersama aman dan nyaman.

“Untuk keagamaan dan kegiatan apapun ya kita harus saling menjaga. Misalnya abah kalau mau melaksanakan kegiatan upacara adat itu tentu izin dulu Hingga warga muslim. Sebagai Alternatif warga muslim juga gitu, kalau ada kegiatan keagamaan pasti izin dulu Hingga penganut Sunda Wiwitan,” tutur Abah Widi.

Tak seperti warga Di kampung adat lainnya yang terkonsentrasi Di satu Area, warga Kampung Adat Cireundeu berada Di hampir semua Area RW 10. Mereka yang Muslim dan penganut Sunda Wiwitan berdampingan secara harfiah.

“Tidak seperti saudara abah Di Baduy, kalau mereka kan ada Baduy luar dan Baduy Untuk. Nah kalau Di sini (Cireundeu) itu berbaur semuanya. Bersama Sebab Itu yang Sunda Wiwitannya tersebar, tapi memang mayoritas itu Di RT 02 dan 03,” kata Abah Widi.

Halaman 2 Bersama 2

Simak Video “Video Mendikdasmen Bicara Kunci Jalin Toleransi: Perkuat 3H

(mso/mso)

–>

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Implementasi Toleransi Ala Warga Kampung Adat Cireundeu

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่