Potret Toleransi Untuk Cimahi, Ogoh-Ogoh Diarak Hingga Bulan Ramadan



Cimahi

Nuansa Bali kental terasa Hingga Cimahi, kala dua ogoh-ogoh berukuran raksasa diarak keliling kota. Hingga Ditengah panas matahari yang menguji keimanan umat muslim Hingga bulan Ramadan, ogoh-ogoh hadir sebagai hiburan.

Ogoh-ogoh merupakan simbol manusia melawan hawa nafsu dan hal-hal negatif Untuk dirinya, direpresentasikan Untuk patung-patung berbentuk seram. Patung itulah yang menjadi gambaran keburukan Untuk diri manusia.

Diarak Bersama ratusan umat Hindu, ditunggu-tunggu orang Hingga tepi Jalan Sriwijaya, ogoh-ogoh keluar Untuk lapangan Pusat Kesenjataan Artileri Defender Udara (Pussen Arhanud). Lalu bergerak pelan Hingga Jalan Gatot Subroto dan kembali lagi Hingga Jalan Sriwijaya.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pawai ogoh-ogoh selalu Bersama Sebab Itu Terapi rindu umat Hindu Hingga Kota Cimahi Akansegera tanah kelahiran mereka Hingga Pulau Dewata. Terlebih, ogoh-ogoh ini diarak menjelang peringatan Hari Raya Nyepi, Kamis (19/3/2026).

“Senang sekali pastinya bisa ada pawai ogoh-ogoh lagi, Bersama Sebab Itu kangen Bali. Nuansa Balinya terasa banget Kendati ini Hingga Cimahi,” kata Gusti Ayu Eka (23), salah satu umat Hindu peserta pawai, Selasa (17/3/2026).

Hadirnya pawai ogoh-ogoh Hingga Cimahi, menjadi bukti bahwa sebagai kota kecil, Akan Tetapi kaya Akansegera perbedaan dan keberagaman. Terlebih, Hingga Kota Cimahi umat Hindu boleh dikata sebagai minoritas.

“Ya selain nostalgia Bersama Bali, ini juga Bersama Sebab Itu bukti kalau toleransi Hingga Cimahi itu sangat tinggi. Tahun lalu kan pernah juga pawai seperti ini, tahun sekarang ogoh-ogohnya lebih banyak dan lebih meriah,” ucap Gusti Ayu Eka.

Sambil Itu, Ketua Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jawa Barat, Brigjen TNI Purn I Made Riawan mengatakan, pawai ogoh-ogoh merupakan pengantar Sebelumnya pelaksanaan Hari Raya Nyepi.

“Bersama Sebab Itu ogoh-ogoh ini dimaknai ketika kita merayakan Hari Raya Nyepi kita sudah harus melakukan perenungan. Hal Untuk agama Hindu itu namanya Tri Kaya Parisudha atau berkata, berpikir, dan bertindak yang Di ini kita lakukan tidak baik, itu disimbolkan Bersama aura negatif. Makanya ogoh-ogoh itu nuansanya seram,” kata Made Riawan.

Ia memuji keberagaman dan toleransi yang ada Hingga Kota Cimahi. Kota kecil yang menjadi Tempattinggal perbedaan, mewadahi umat beragama yang berbeda-beda hingga suku bangsa yang beragam pula.

“Ini digagas umat Hindu Hingga Cimahi, dan bisa dibilang ini impian kami yang sudah sekian lama Terbaru terlaksana, Sesudah pertama dilaksanakan tahun lalu. Astungkara, hari ini tertib dan lancar,” ucap Made Riawan.

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, mengatakan pawai ogoh-ogoh yang kental Akansegera nuansa Bali menjadi simbol kuat harmoni sosial Hingga Ditengah keberagaman. Terlebih perayaan Nyepi tahun ini berlangsung Hingga Ditengah-Ditengah bulan suci Ramadan.

“Yang Hingga sini kolaborasi Di agama yang satu Bersama yang lain saling menghargai dan menghormati. Hingga sinilah letaknya Cimahi, kerukunan dikedepankan,” kata Ngatiyana.

(dir/dir)

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Potret Toleransi Untuk Cimahi, Ogoh-Ogoh Diarak Hingga Bulan Ramadan

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่