Bandung –
Wastra Nusantara masih kerap Disorot terlalu formal dan hanya cocok dipakai Ke Kegiatan tertentu. Anggapan ini membuat sebagian orang, termasuk generasi muda, merasa kurang Self-Esteem mengenakannya Di Kegiatan sehari-hari.
Padahal, wastra alias kain tradisional Indonesia seperti batik, tenun, hingga songket bisa tampil secara fleksibel jika dipadupadankan Bersama gaya yang tepat. Mulai Di bekerja, pesta, Justru hingga Latihan.
Pandangan tersebutlah yang Melakukanupaya dibangun Bersama Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) cabang Bandung. Di 11 tahun berdiri, komunitas Bersama anggota lebih Di 200 wanita ini Mendorong penggunaan wastra agar lebih membumi dan mudah diterapkan Di keseharian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua KCBI Bandung Yeyen Komar mengatakan, berkain tidak harus identik Bersama kebaya atau tampilan resmi. Ia menekankan bahwa kain bisa dipakai Bersama atasan kasual agar terasa lebih ringan dan tidak kaku.
“KCBI membudayakan cinta berkain Di keseharian. Karena Itu enggak usah harus kebaya, atasannya boleh kasual, menyesuaikan Bersama Kegiatan yang dihadiri,” ujarnya Pada ditemui Ke sela perayaan HUT Di-11 KCBI Bandung Ke Rumah Batik Komar, Senin (27/4/2026).
Dari berdiri Ke 24 April 2015, KCBI Cabang Bandung aktif Memperkenalkan wastra Di berbagai kegiatan. Tak hanya yang bernuansa seremonial, mereka memadukan Kegiatan sosial hingga Cara Hidup sehari-hari sebagai Dibagian Di upaya Pelatihan. Cara tersebut dinilai lebih efektif Sebab langsung menyentuh kebiasaan Komunitas.
Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan adalah bakti sosial Pada Ramadan. Di kegiatan tersebut, anggota komunitas tetap mengenakan kain Pada Berkunjung Di Rumah jompo, Rumah singgah, dan lain-lain.
“Kami Berkunjung Di Rumah jompo, membagikan Dukungan kepada marbot-marbot masjid, itu Bersama tetap berkain. Selain Menyediakan Dukungan, kami juga Menyediakan kain,” terangnya.
Upaya memasyarakatkan wastra juga dilakukan lewat kegiatan santai seperti diskusi Ke kafe. Momentum Hari Kartini kerap dimanfaatkan Sebagai Merundingkan batik, Karya Seni, dan nilai Kekayaan Budaya Dunia yang terkandung Di kain tradisional.
“Kita bincang tentang batik, tentang Karya Seni. Saya tetap mengedepankan Pelatihan wastranya. Enggak usah pakai yang mahal, tapi tetap harus wastra,” katanya.
Menurut Yeyen, penting Sebagai membedakan wastra asli Bersama produk tekstil biasa. Ia menegaskan bahwa kain yang digunakan harus dibuat secara tradisional, bukan sekadar hasil cetak.
“Wastra Ke sini harus dibuat secara tradisional, bukan printing,” ujarnya.
Ke Di itu, komunitas ini juga rutin hadir Ke ruang publik Bersama seragam wastra yang sengaja dibuat mencuri perhatian. Tujuannya, agar Komunitas merasa tertarik dan penasaran Sebagai memahami kain tradisional Indonesia lebih jauh.
“Seperti misalnya waktu perayaan 17 Agustus. Kami isi Bersama berkain sambil jalan pagi, pakai tema merah-putih. Nanti Ke Braga, Ke Ditengah-Ditengah keramaian, kita lakukan line dance. Itu kan Karena Itu pusat perhatian ya. Tapi Bersama tujuan Sebagai kebaikan. Agar orang-orang lebih memahami kain,” paparnya.
Tantangan Menggaet Kaum Muda
Meski sudah Memperoleh lebih Di 200 anggota, tantangan regenerasi masih menjadi pekerjaan Rumah. Yeyen mengakui bahwa minat perempuan Ke usia 30-an Sebagai berkain wastra masih relatif rendah. Hingga Pada ini, usia anggota KCBI Bandung termuda adalah Ke kisaran 40 tahun.
“Saya pribadi juga jarang menemukan ibu-ibu muda yang mau berkain. Mutakhir yang usia 40-an Di atas,” katanya.
|
Perayaan HUT KCBI Bandung Di-11 Ke Rumah Batik Komar Bandung, Senin (11/4/2026) Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar
|
Sebagai menjawab tantangan tersebut, KCBI mengandalkan pendekatan keteladanan dan media sosial. Yeyen aktif membagikan gaya berkain sehari-hari Ke Instagram miliknya yang Memperoleh lebih Di delapan ribu pengikut.
Tujuannya, agar gaya pemakaian wastra Nusantara yang lebih fleksibel dan tidak terkesan kaku bisa lebih banyak diketahui Komunitas. Upaya ini ternyata Menyambut respons baik.
“Kadang-kadang ada perasaan, aduh saya ini narsis banget enggak ya, terlalu banyak posting Ke medsos. Tapi ternyata banyak yang menyapa, bilang kalau mereka suka melihat Instagram saya. Katanya padu-padannya menginspirasi banget,” tuturnya.
Maka Itu, ia pun mulai banyak melibatkan generasi yang lebih muda Melewati kegiatan seperti bincang-bincang Bersama tema wastra Nusantara. Narasumber yang dihadirkan biasanya berassal Di kalangan Milenial.
“Alhamdulillah sudah mulai banyak yang suka. Tapi memang Sebagai usia 30-an itu masih Karena Itu PR banget,” katanya.
Di praktiknya, Yeyen menekankan bahwa berkain bisa dimulai Di hal sederhana. Ia menyarankan pemula Sebagai memilih warna-warna netral seperti monokrom atau pastel agar lebih mudah dipadukan.
“Mudah saja sebenarnya. Tidak harus pakai kain yang mahal-mahal dan istimewa, yang penting nyaman. Bisa pakai warna-warna yang simpel seperti monokrom hitam-putih, atau warna pastel. Agar enggak terkesan terlalu serius,” ungkap Yeyen.
Ia juga mencontohkan kebiasaan pribadinya yang mengenakan kain Di berbagai Kegiatan, termasuk Pada bepergian. Menurutnya, kebiasaan ini secara tidak langsung menjadi bentuk Pelatihan kepada orang Di.
“Saya Di mana-mana pakai kain. Justru naik pesawat pun pakai kain. Terakhir Di Bali Bersama Pak Komar pakai songket, atasannya blus biasa saja,” paparnya.
Tanpa disangka, ia mengatakan, kebiasaan berkain Di keseharian tersebut kerap diperhatikan Bersama Di. Ia mengaku pernah Menyambut respons langsung Di orang yang terinspirasi melihat gaya berkainnya.
“Waktu itu ada yang melihat saya dan suami pakai kain tapi malu Sebagai menyapa. Dia bilang, Mbak Yen keren banget naik Kendaraan Angkutan Umum pakai kain,” kenangnya.
“Hal itu membuat saya Lebihterus yakin. Kebiasaan kecil seperti yang saya lakukan ternyata banyak yang memerhatikan. Ini Karena Itu bentuk Pelatihan perlahan lewat contoh sehari-hari,” lanjutnya.
Lebih jauh, upaya memasyarakatkan wastra Nusantara agar lebih populer Ke kalangan Komunitas tak berhenti Ke tatanan fesyen dan Kekayaan Budaya Dunia. Melainkan juga jalan Sebagai membangun ekosistem ekonomi yang lebih mensejahterakan para pengrajin kain.
“Salah satu misi kita adalah memasyarakatkan kain-kain ini Bersama benar, Supaya pengrajin kain pun bisa Meningkatkan penjualan dan daya cipta mereka. Memakai kain bukan sekedar gaya berpakaian tapi membawa misi nasionalisme,” ungkap Ketua KCBI Pusat Sita Hani Mastuti Di kesempatan yang sama.
(yum/yum)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Upaya KCBI Membumikan Wastra Nusantara









