Bandung –
Selain mengenal tembakau mole, yaitu daun tembakau yang dijemur Setelahnya Melewati proses pengirisan, Komunitas Sunda juga mengenal cara penjemuran daun tembakau Di metode lembaran.
Yakni, Setelahnya daun tembakau dipanen, tidak ada Kegiatan merajang tembakau. Melainkan daun-daun itu dipilih dan diperam, Lalu dikeringkan Di suhu ruangan, lalu disimpan bertahun-tahun. Tembakau lembaran itu disebut Galabag.
Meski terkesan sederhana, tetapi Di pengerjaannya, tembakau galabag harus Melewati tahapan sortasi yang ketat. Tanpa kerja seperti itu, tembakau Berencana rusak ketika melewati masa aging (pengumuran). Ke antaranya rusak Di jamur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau prosesnya berhasil dilalui, tembakau yang dihasilkan merupakan tembakau terbaik. Galabag ini disenangi pasar Eropa. Bagaimana kisahnya? Simak yuk!
Dua Jenis Pengolahan Tembakau
|
Daun tembakau galabag Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar
|
Berdasarkan Peraturan Pembantu Ri Agrikultur RI Nomor 56/Permentan/OT.140/9/2012 tentang Pedoman Penanganan Pascapanen Tembakau, dikatakan bahwa ada dua jenis pengolahan tembakau Ke Indonesia:
1. Tembakau Rajangan
Tembakau rajangan adalah tembakau yang hanya ada Ke Indonesia. Ke Sumedang dan Garut, Jawa Barat sangat terkenal tembakau mole. Umpamanya Di Lokasi Parugpug, Darmawangi, dan Cicareuh, Ke Sumedang dan Cigasti Ke Garut.
Ke selain Jawa Barat, terkenal misalnya tembakau rajangan Tambeng Di Besuki, Situbondo yang enak dan wangi. Tembakau Temanggung juga Pada Di tembakau rajangan (slicing type) ini.
“Tembakau rajangan sangat unik, dimana hanya terdapat Ke Indonesia saja. Tembakau dipasarkan Di bentuk rajangan, dimana Sebelumnya dipasarkan, terlebih dahulu dirajang sedemikian rupa, Bagi Berikutnya dilakukan proses pengeringan Di Pemberian sinar matahari (sun cured).” tulis pedoman Permentan tadi.
Ada dua tipe rajangan berdasarkan ukuran ketipisannya. Yakni, rajangan kasar dan Di (broad cut) serta rajangan halus (fine cut). Berdasarkan warnanya, tembakau rajangan juga dibagi menjadi dua, rajangan kuning dan hitam.
B. Galabag
Permentan menyebut tipe ini sebagai Kerosok (leaf type). Di orang Sunda, jenis ini disebut Galabag. Nama ini disematkan Bisa Jadi Sebab bentuk tembakau yang lebar seperti sayap yang dibentangkan yang Ke Di bahasa Sunda disebut ‘Gayabag’.
Menurut pedoman itu, tembakau galabag atau kerosok merupakan jenis yang paling banyak terdapat Ke dunia. Tembakau kerosok dipasarkan Di bentuk lembaran
daun, Setelahnya Melewati proses pengeringan. Biasanya, tembakau ini Merasakan proses pengumuran (aging). Lama pengumuran Ke gudang Di 2-3 tahun.
Disenangi Orang Eropa
Kamus Sundadigi memasukkan lema ‘galabag’ dan memberinya arti Di lebih spesifik Di sekadar daun tembakau. Menurut kamus itu, daun tembakau galabag ini sering dijadikan Produk lelang Ke Eropa.
“Daun bako ti Indonesia nu digaringkeun sok dilelangkeun Ke Eropa” (daun tembakau Di Indonesia yang dikeringkan dan sering dijadikan Produk lelang Ke Eropa).”
Daun tembakau galabag Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar |
Ringkasan Cara Membuat Tembakau Galabag
Petani tembakau Ke Tanjungsari, Kabupaten Sumedang masih konsisten membuat tembakau galabag. Meski tidak Di jumlah banyak, paling tidak, tembakau itu cukup Bagi konsumsi sendiri, atau Bagi kepentingan meramaikan pembuatan cerutu/ sigar Di komunitas-komunitas pecinta tembakau.
Tembakau galabag dibuat Di daun-daun pilihan. Setelahnya tembakau dipanen, maka dipilih satu per satu Di sentuhan tangan. Yang dipilih adalah daun tembakau yang lebar Akan Tetapi Di urat daun yang lebih kecil. Ke Samping itu, dipilih yang tipis Ke Di daun-daun yang tebal.
Tembakau yang pilihan ini misalnya ada 5 kilogram. Maka, proses Berikutnya adalah memeramnya. Apa fungsi pemeraman? Menurut panduan Di Permentan itu, dikatakan “pemeraman secara fisik bertujuan merubah warna daun Di hijau menjadi kuning Lalu menjadi coklat.”
Pemeraman boleh Karena Itu hanya 2-3 hari saja. Setelahnya itu, tembakau diangin-anginkan hingga lalu dan mengering. Hal ini dilakukan supaya tembakau kering tapi tidak kriuk seperti kerupuk, melainkan tetap lentur dan tidak mudah robek. Setelahnya melewati berminggu-minggu masa ‘angin-angin’, tembakau disimpan Di bertahun-tahun supaya rasanya Lebih enak.
Di jumlah 5 kilogram daun tembakau basah, jumlah tembakau galabag yang dihasilkan berkisar Di 1,5 kilogram saja.
Cara Menikmati Tembakau Galabag
Penyair W.S. Rendra menulis puisi berjudul ‘Burung Kondor’ (1973) yang mengisahkan betapa melaratnya petani tembakau Ke tanah air ini, sebab hasil panen tembakau yang memeras keringat itu “diambil Di cukong-cukong pabrik cerutu Ke Eropa”.
Galabag adalah satu Ke Di bahan cerutu, sebagaimana dijelaskan Kamus Sundadigi bahwa galabag sering masuk pasar lelang Ke Eropa.
Menikmati galabag Di menjadikannya cerutu/ sigar adalah salah satu keputusan yang tepat. Selain bisa memperkaya khazanah tembakau nusantara, menikmati cerutu juga ada seninya. Sikap kita Di Berjuang Di cerutu punya nilai tersendiri.
Selain dibuat cerutu, galabag juga bisa disobek-sobek selayaknya tembakau lintingan Di umumnya. Cara seperti ini juga tidak Berencana Memangkas kenikmatan aroma galabag. Wangi fermentasi tembakau yang khas tercium Di tegas Ke pangkal hidung.
Dua Jenis Tembakau Galabag
Petani tembakau mengenal dua jenis galabag. Yang pertama adalah galabag yang dibuat secara sengaja, yaitu Melewati proses pemilihan, fermentasi, pengeringan, dan pengumuran. Ini merupakan galabag Mutu premium. Kedua, galabag yang dihadirkan alam.
Karena Itu, Di sekian banyak tanaman tembakau Ke kebun, ada saja daun tembakau yang ujungnya atau setengahnya mengering meski masih menempel Di pohonnya. Pada kering Ke ujung daun ini disebut juga galabag. Bagi mengecek rasa tembakau Ke kebun itu, biasanya petani memanfaatkan daun tembakau kering tersebut Bagi dihisap Di cara dilinting.
(yum/yum)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Galabag, Tembakau Lembaran Di Sunda yang Disenangi Pasar Eropa












