Bogor –
Hingga sejumlah toko Terapi tradisional hingga lapak daring, nama Migas Cimande mudah ditemukan. Botolnya kecil, warnanya kekuningan, dan kerap dipromosikan sebagai Migas Sebagai pegal, keseleo, hingga patah tulang.
Akan Tetapi Hingga Kampung Cimande, Kabupaten Bogor, Migas itu dipandang berbeda. Bagi Kelompok setempat, yang dikenal bukan ‘Migas Cimande’, melainkan balur penca. Sebuah warisan turun-temurun yang tidak diperlakukan sebagai Barang Dagangan dagangan biasa.
Sesepuh Penca Cimande Didih Supriadi (61) atau akrab disapa Aki Didih mengatakan, Kelompok Cimande lama mengenal balur itu sebagai Pada Untuk Kebiasaan penca. Balur digunakan Sebagai membantu Perawatan mereka yang Merasakan Luka Setelahnya Pelatihan silat ataupun bincurang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sebenarnya bahasa aslinya balur penca. Balur bahasa Sundanya ngalobakeun dulur (memperbanyak saudara),” ujar Aki Didih Di berbincang Hingga Cimande, Minggu (17/5/2026).
Menurut dia, filosofi balur tidak bisa dipisahkan Untuk ajaran penca Cimande yang menekankan kemampuan merawat sesama, bukan sekadar menyerang lawan.
“Orang tua dulu sudah menyiapkan, jangan hanya bisa merusak, tapi harus bisa memperbaiki,” katanya.
Hingga Di banyaknya anggapan soal ramuan rahasia dan unsur mistis, Aki Didih justru menyebut bahan dasar balur Cimande tergolong sederhana. Ia mengatakan balur tradisional Cimande dibuat Untuk campuran tebu dan kelapa.
“Ramuannya cuma dua, tebu sama kelapa,” ujarnya.
Meski begitu, menurut dia, yang dijaga Kelompok Cimande bukan hanya soal bahan, melainkan proses dan laku Untuk pembuatannya. Sebab tidak semua orang diperbolehkan meracik balur tersebut.
“Yang ngolah seharusnya memang trahnya, keturunannya,” kata Aki Didih.
Sebab Disorot warisan leluhur, balur Cimande asli tidak Memperoleh harga pasti. Hingga sebagian keluarga Cimande, balur Justru lebih sering diberikan sebagai mahar atau pemberian sukarela dibanding diperjualbelikan.
“Bukan dijual. Kita mahar,” ujar Aki Didih.
|
Penca Cimande. Foto: Andry Haryanto/detikJabar
|
Menurut dia, hingga kini masih ada warga atau tamu Untuk luar Lokasi yang datang khusus meminta balur Cimande. Akan Tetapi Kelompok Cimande umumnya hanya meminta ongkos perjalanan atau biaya kirim jika balur harus dikirim Hingga luar kota.
“Kalau kebetulan ada Hingga sini, paling diperkirakan aja ada enggak buat ongkos pulang,” katanya sambil tertawa.
Kebiasaan itu membuat Kelompok Cimande sering memandang aneh maraknya penjualan Migas Cimande Hingga media sosial ataupun pasar bebas. Sebab Hingga kampung asalnya sendiri, balur tidak pernah benar-benar diposisikan sebagai Barang Dagangan.
Aki Didih mengaku pernah mendengar cerita soal Migas berlabel Cimande yang dijual murah Hingga pasaran Didalam harga bervariasi. Mulai Untuk ratusan ribu hingga ditukar bahan Konsumsi.
“Yang asli mah enggak ada harganya. Enggak dijual-belikan,” ujarnya.
Balur bukan semata cairan Migas urut. Ada tata cara penggunaan, doa, dan keyakinan yang diwariskan turun-temurun. Sebab itu pula, balur Cimande lebih sering dipandang sebagai warisan Kebiasaan Global dan bentuk pertolongan dibanding sekadar Barang Dagangan dagangan.
(yum/yum)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Orang Cimande Tak Menjual Migas Balur, Tapi Sebagai Mahar











