Penca Cimande yang Bertahan Ke Di Gempuran Zaman



Bogor

Ke Kampung Cimande, Kabupaten Bogor, bunyi langkah kaki Ke halaman padepokan masih terdengar hampir setiap pekan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua bergantian mempelajari gerak dasar penca yang diwariskan turun-temurun Sebelum ratusan tahun silam. Ke Di dunia yang bergerak serba cepat, Kelompok Cimande konsisten menjaga Kebiasaan Bersama cara lama: lisan, keteladanan, dan kedekatan antargenerasi.

Sesepuh Cimande, Didih Supriadi atau akrab disapa Aki Didih, mengatakan bahwa Kebiasaan Global itu bertahan bukan Sebab kemegahan bangunan atau Dukungan Ilmu Pengetahuan, melainkan Sebab masih adanya individu yang berdedikasi melestarikannya. Menurutnya, Cimande bukan sekadar aliran silat, melainkan Pada Di warisan hidup yang terus dijaga Dari masyarakatnya.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kebiasaan Global Cimande tidak Akansegera hilang Pada masih ada para pelaku. Walaupun sekarang zaman sudah canggih, orang masih datang sendiri Bagi belajar,” ujar Aki Didih Pada berbincang Bersama detikJabar, belum lama ini Ke Saung Penca Cimande, Kabupaten Bogor.

Bagi pria berusia 61 tahun ini, tantangan terbesar sekarang bukan datang Di Kebiasaan Global luar, melainkan perubahan Life Style generasi muda. Ia menilai banyak anak muda kini lebih mengutamakan gaya dibandingkan adab Di mempelajari Kebiasaan.

“Anak sekarang kadang mengandalkan emosi dan gaya dulu. Padahal Kebiasaan Global itu harus pakai rasa, sopan santun, dan adab,” katanya seraya menyesap kretek.

Meski begitu, Aki Didih tetap optimistis. Sebab, Pelatihan penca Ke Cimande kini mulai diikuti anak-anak Sebelum usia dini. Menurutnya, pengenalan Kebiasaan Global Sebelum kecil menjadi langkah krusial agar Kebiasaan tidak tergerus arus modernisasi dan pengaruh media sosial.

“Kalau kita mengalah, kasihan generasi muda kita bisa hancur. Makanya sekarang usia tiga tahun pun sudah mulai dikenalkan Kebiasaan Global (Penca Cimande),” ucapnya.

Tidak hanya warga lokal, murid Di mancanegara juga rutin menyambangi desa yang berjarak 35 kilometer Di pusat pemerintahan Kabupaten Bogor Ke Cibinong tersebut. Mereka datang Di Belanda, Jerman, hingga Prancis Bagi mempelajari langsung Kebiasaan penca asli Di tanah kelahirannya.

“Orang luar negeri sekarang justru Lagi mencari Kebiasaan asli Indonesia,” kata dia.

Ke Di menjamurnya berbagai versi aliran silat Ke luar negeri, Kelompok Cimande tetap mempertahankan gerak dasar yang diyakini tidak berubah Sebelum awal diwariskan. Kebiasaan itu juga dipagari Lewat talek atau sumpah moral yang wajib diterima setiap murid Sebelumnya mulai mempelajari penca.

Talek, Fondasi Moral Penca Cimande

Selain gerakan fisik, Cimande mengenal talek atau takleq, yakni sumpah dan nasihat moral yang wajib dipegang teguh Dari murid. Aki Didih menyebut talek sebagai ‘talqin hidup’ agar murid tidak menyalahgunakan ilmu yang mereka pelajari.

Menurutnya, seluruh murid aliran Cimande wajib menjalankan talek tersebut. Isinya bukan sekadar teknis Pelatihan silat, melainkan menyangkut adab, perilaku, dan hubungan sosial antarmanusia.

Adapun 14 talek Cimande yang diwariskan secara turun-temurun itu Ke antaranya: Taat kepada Allah dan Rasul-Nya; Jangan melawan ibu dan bapak; Jangan melawan guru dan pemerintah; Jangan berjudi dan mencuri; Jangan sombong dan takabur; serta Jangan berzina.

Nilai Lanjutnya mencakup: Jangan bohong dan berkhianat; Jangan mabuk-mabukan dan menghisap madat; Jangan iri dan dengki; Jangan menyakiti hati orang lain; Jangan Memutuskan hak orang lain; Harus menjaga sopan santun; Harus menjaga persaudaraan; serta Harus menjaga agama dan Kebiasaan Global leluhur.

“Talek itu pondasi supaya Setelahnya belajar silat tidak ada kesombongan. Isinya semua kebaikan,” kata Aki Didih.

Aki Didih menjelaskan, tidak ada hukuman fisik atau Hukuman Politik adat khusus Bagi murid yang melanggar talek. Tetapi, setiap Pelanggar diyakini Akansegera menjadi tanggung jawab spiritual pribadi masing-masing.

“Kalau ada murid yang melanggar, itu resikonya dia sendiri. Guru tidak pernah mengajarkan kejelekan,” ujarnya.

Pelanggar Di talek lebih dimaknai sebagai kegagalan moral. Murid yang mengaku telah melanggar biasanya Akansegera diingatkan Bagi bertobat dan memperbaiki diri.

“Allah Maha Pengampun. Bertobatlah,” kata Aki Didih menirukan nasihat yang biasa ia berikan kepada para muridnya.

(orb/orb)

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Penca Cimande yang Bertahan Ke Di Gempuran Zaman

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่