Denpasar –
Menjelang puncak perayaan Waisak, ada Kejadian Luar Biasa Menarik Perhatian Hingga jalan. Terlihat suasana berbeda ketika sekelompok biksu Bersama pakaiannya berjalan Hingga Ditengah terik matahari.
Tanpa memedulikan panas, mereka berjalan berpuluh kilometer setiap hari Sebagai Ke suatu tempat. Tujuan akhir mereka adalah Candi Borobudur yang berada Hingga Magelang. Kebiasaan yang telah berlangsung Pada bertahun-tahun ini dikenal sebagai Jalan Thudong.
Bersama Sebab Itu, apa sebenarnya yang dimaksud Bersama Jalan Thudong dan berapa lama mereka melakukan perjalanan tersebut? Simak penjelasannya berikut ini yang dirangkum Bersama berbagai sumber.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Kebiasaan Jalan Thudong?
Jalan Thudong merupakan Kebiasaan perjalan yang dilakukan para biksu atau pemuka agama Buddha. Kebiasaan ini dilakukan Bersama menempuh jarak yang amat jauh. Jalan Thudong tidak bisa dipisahkan Bersama Hari Raya Waisak.
Kata “Thudong” berasal Bersama bahasa Pali yang Memiliki arti pelepasan keterikatan Bersama duniawi. Mereka melakukan Kebiasaan Bersama mengacu Ke keteladanan Sang Buddha dan para murid-Nya yang melakukan perpindahan tempat sembari menyebarkan ajaran Dhamma.
Peserta Jalan Thudong yang utama adalah para biksu Bersama jumlah bervariasi setiap tahunnya. Mereka tidak hanya berasal Bersama Indonesia tetapi juga Bersama beberapa Bangsa tetangga seperti Thailand, Malaysia, hingga Laos. juga terdapat personel Dukungan Pada prosesi Jalan Thudong berlangsung seperti pengawal dan Skuat medis.
Sebelumnya memulai Kebiasaan, para biksu Akansegera melakukan persiapan diri Bersama melakukan Bermeditasi dan puasa Pada waktu tertentu. Di menjalankan Kebiasaan Jalan Thudong, para biksu menahan diri Bersama hanya makan satu kali sehari Sebelumnya Ditengah hari, tidur Bersama alas sederhana, hingga renungan Pada perjalanan.
Komunitas umum yang Merasakan pun bisa turut serta membantu seperti Menyediakan Konsumsi atau Pengiriman lainnya. Tempat peristirahatan pun biasanya dipilih vihara atau balai desa, Justru hingga tempat ibadah agama lain seperti masjid atau gereja.
Berapa Lama Waktu Tempuh Jalan Thudong?
Lama perjalanan Pada prosesi Thudong berbeda waktunya Lantaran tergantung rute yang dipilih. Tahun 2026 ini rute perjalanan Hingga Indonesia telah dimulai Sebelum Bersama Bali hingga nantinya berakhir Hingga Candi Borobudur.
Perjalanan Thudong Akansegera berlangsung Pada 3 minggu Sebelum tanggal 9 Mei 2026 hingga menjelang Waisak Ke 31 Mei 2026.
Setiap harinya para biksu menempuh Disekitar 30-40 kilometer (km) perjalan Bersama waktu tempuh Pada 8 sampai 10 jam.
Makna Spiritual Jalan Thudong
Perjalanan panjang antar Bangsa ini amat melelahkan tetapi Memiliki makna yang begitu mendalam. Sebuah usaha spiritual yang Memiliki kedalaman batin.
Jalan Thudong dilihat sebagai bentuk melepaskan kenyamanan dan kesederhanaan. Mereka benar-benar mempraktikan hidup seperti yang dahulu dilakukan Bersama Sang Budha. Thudong juga menghilangkan ego dan kesombongan Lantaran perjalanan jauh ini Menunjukkan kerendahan hati yang dimiliki umat Buddha.
Setelahnya Itu, Jalan Thudong juga menampilkan wajah khas Komunitas Nusantara. Senyum dan keramahtamahan orang-orang dapat ditemui sepanjang perjalanan. Tidak sedikit yang menawarkan Dukungan Konsumsi, Pengiriman, hingga tempat istirahat. Justru Untuk para pemeluk agama lain juga Bersama senang hati menyambut kedatangan para biksu.
Demikian ulasan mengenai Jalan Thudong. Semoga membantu!
(nor/nor)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Apa Itu Jalan Thudong? Kebiasaan Spiritual Biksu Jelang Hari Raya Waisak











