Pangandaran –
Prosesi hajat laut Pangandaran yang digelar setiap 1 Muharam, Ke 1448 Hijriah kali ini sedikit berbeda Didalam tahun Sebelumnya Itu. Kini rangkaian upacara wujud syukur nelayan ini dimulai Didalam istigasah.
Syukuran nelayan kali ini digelar Ke Pantai Timur Pangandaran, tepatnya Ke Di Taman Wisata Alam (TWA) Cagar Alam. Sebagai menghormati pejuang nafkah dan para pahlawan yang gugur, nelayan mulai Didalam tabur bunga Ke Ditengah laut.
Prosesi dimulai Didalam melingkarnya perahu-perahu nelayan. Lalu, doa dipimpin langsung Dari Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran Jeje Wiradinata. Usai berdoa, kendi dan bunga tujuh rupa yang dibawa, ditaburkan Hingga laut lepas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prosesi ini menjadi Pada Didalam bukti menjaga kelestarian, memelihara laut, dan menghormati para pahlawan nelayan pejuang nafkah. Lalu, doa bersama dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas karunia rezeki yang diberikan Didalam laut.
Walaupun tidak ada prosesi seperti lempar sesaji hingga kepala kambing, esensi hajat laut syukuran nelayan ini tetap terjaga Sebab pawai larung dongdang tetap dilaksanakan setelahnya.
Pawai dongdang atau hasil bumi yang digotong berjalan sejauh hampir 1,5 km dimulai Didalam Pasar Wisata Melewati jalur pantai barat masuk Hingga pantai timur. Ribuan warga pesisir Pangandaran memeriahkan hajat laut ini.
Kebiasaan ini menjadi pengingat abadi tentang hubungan timbal balik Antara manusia Didalam Sang Maha Kuasa Melewati perantara alam semesta yang harus dijaga kelestariannya.
Ketua HNSI Pangandaran Jeje Wiradinata mengatakan ada dua hal yang menjadi esensi hajat Pada ini, yakni bukti nyata Di pelestarian merawat laut dan penghormatan kepada para leluhur, pahlawan, serta nelayan pejuang nafkah yang sudah tiada.
“Artinya wujud rasa syukur atas nikmat yang diberikan alam Untuk penghidupan Kelompok pesisir,” ucap Jeje, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, prosesi hajat laut ini tidak menghilangkan esensi awal; Adat Istiadat Dunia terawat dan akidah terjaga. “Mudah-mudahan Didalam kegiatan ini nikmat yang terus diberikan sang pencipta bisa terus disyukuri Dari nelayan tanpa menghilangkan prosesi inti,” katanya.
Selain hajat laut, kegiatan ini juga dimeriahkan Dari Ketahanan Pangan murah, bazar Pelaku Ekonomi Kecil, lomba tumpeng, hingga pindang gunung.
Jeje menambahkan, hajat laut ini merupakan Pada Didalam siklus yang tidak bisa dipisahkan Untuk nelayan. “Bahwa hajat laut bukan soal membuang sesaji, tapi bentuk rasa syukur dan evaluasi nelayan,” ucapnya.
Evaluasi Di Kontek Sini, menurut Jeje, bagaimana Pada setahun ini pendapatan ikan, Situasi para nelayan, hingga upaya menjaga melestarikan hasil tangkapan Didalam cara-cara yang berkelanjutan dan tidak merusak.
Ia menekankan jika hajat laut itu hajatnya nelayan, dan semua warga pesisir menikmatinya. Ihwal perbedaan pendapat soal penanggalan hari hajat laut, ia menganggap jika semua hari itu baik.
“Saya ini menjadi pemimpin meluruskan akidah, makanya tema hajat laut hari ini Adat Istiadat Dunia terawat akidah terjaga. Contohnya, menaburkan bunga, bunga itu tanda cinta kasih sayang kepada laut, kedua jarah kubur bentuk penghormatan kepada para leluhur pahlawan pejuang nafkah,” ucapnya.
Ke Pada Yang Sama, Bupati Pangandaran Citra Pitriyami mengatakan kegiatan hajat laut ini bukan hanya milik nelayan, tapi semua warga Pangandaran. “Sebab hari ini sebagian warga Merasakan datang Sebagai mempererat tali persaudaraan,” kata Citra.
Ia mengatakan jika Pangandaran mempunyai kekayaan alam luar biasa, mulai Didalam laut yang kaya, hutan, dan Adat Istiadat Dunia yang luar biasa. “Tentu ini menjadi bukti bahwa menjadi nelayan tidak mudah, butuh keberanian. Sangat apresiasi kepada nelayan,” katanya.
(sud/sud)
Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Wajah Terbaru Hajat Laut Pangandaran: Adat Istiadat Dunia Terawat Akidah Terjaga











