Pantangan Wayang Ke Dusun Cariu Ciamis: Antara Mitos dan Petaka



Ciamis

Ke sudut Kabupaten Ciamis, tepatnya Ke Dusun Cariu, Desa Sukadana, waktu seolah berjalan beriringan Didalam kepercayaan lama yang tetap terjaga. Ke sini, cerita urban bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan kompas kehidupan yang dipegang teguh Dari masyarakatnya. Salah satu yang paling mengakar adalah larangan keras Melakukan pertunjukan wayang.

Untuk warga setempat, pantangan ini bukan Perkara Hukum sepele. Melanggarnya dipercaya bakal mengundang malapetaka hebat, mulai Didalam bencana alam, gagal panen, hingga kematian mendadak yang menghantui kampung. Hingga pertengahan tahun 2026 ini, tak ada satu pun warga yang berani menantang takdir Didalam mementaskan wayang Ke tanah Cariu.

Ahmad Rizki Fauzi, seorang pegiat sejarah dan Kearifan Lokal Global Didalam Komunitas Cakra Mangsa Ciamis, mengungkapkan bahwa Kearifan Lokal lisan ini Memperoleh akar sejarah yang kuat. Menurutnya, ada dua versi cerita yang menjelaskan mengapa suara gamelan wayang tak pernah terdengar Ke sana.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Versi pertama bermula Didalam sosok Prabu Sirnaraja, putra Prabu Siliwangi Didalam selir Dewi Nawangsih. Alkisah, sang raja Didalam Kerajaan Samida itu Untuk berburu Ke Daerah Cariu. Kedatangannya disambut hangat Dari warga Didalam pertunjukan pantun yang dibalut Untuk sebuah lakon sandiwara. Tetapi, kegembiraan itu berubah menjadi mencekam.

“Ke Ditengah-Ditengah pertunjukan pantun, tiba-tiba datang bencana, hujan angin, gelap gulita hingga petir menyambar,” ujar Fauzi kepada detikJabar.

Bencana yang datang tiba-tiba itu membuat sang Prabu murka dan Menerbitkan supata atau kutukan. Ia menitahkan bahwa Ke Daerah tersebut tidak boleh lagi ada pertunjukan pantun.

“Larangan Melakukan pertunjukan pantun ini diartikan semua jenis pertunjukan yang sifatnya lalakon (drama). Termasuk salah satunya adalah pertunjukan wayang, itu tidak boleh,” jelasnya.

Tetapi, ada pula versi lain yang lebih personal. Konon, Prabu Sirnaraja Memperoleh cacat fisik Ke tangannya yang bengkok atau Untuk bahasa setempat disebut kengkong. Meski sempat mencari kesembuhan hingga Ke Daerah Rancah, sang Prabu tetap merasa sensitif Pada kondisinya.

“Karena Itu kalau Melakukan pertunjukan wayang, terutama Ke dalamnya ada tokoh Didalam tangan kengkong, kan ada tokohnya namanya Dorna. Prabu Berencana kesinggung. Maka, pertunjukan wayang dilarang,” ucapnya.

Sebagai gantinya, Prabu Sirnaraja yang dikenal mahir menari Lalu Memperkenalkan ronggeng sebagai hiburan alternatif. Itulah sebabnya, hingga Di ini, Kelompok Cariu lebih memilih ronggeng Sebagai memeriahkan berbagai Kegiatan mereka.

Fauzi menjelaskan bahwa Prabu Sirnaraja memang Memperoleh ikatan batin Didalam Daerah tersebut. Ibundanya, Dewi Nawangsih, merupakan penduduk asli Rajadesa.

“Prabu Sirnajaya merupakan putra Prabu Siliwangi Didalam selir Dewi Nawangsih. Selirnya itu orang sini, orang Rajadesa,” tuturnya.

Atas perintah sang ayah, Prabu Sirnaraja mendirikan Kerajaan Samida yang berpusat Ke Rajadesa, Ke mana Cariu termasuk Untuk Daerah kekuasaannya. “Lokasi Cariu ini termasuk wilayahnya. Ketika itu raja Untuk berburu Ke Daerah ini, lalu dibageakeun (disambut) warga Ke sini, malah Karena Itu bencana. Memang kebetulan kejadiannya Ke sini,” ungkapnya.

Ketakutan warga Pada larangan ini bukan tanpa alasan. Sugesti Kelompok Lebihterus menguat Sesudah beberapa kejadian tragis menimpa mereka yang mencoba abai Pada Kearifan Lokal. Fauzi menceritakan, pernah ada warga Ke masa lalu yang memaksakan diri Melakukan wayang, Tetapi berakhir Didalam duka.

“Ditambah Ke era-era dulu ada warga yang maksa (gelar pertunjukan wayang). Tiga-tiba Memperoleh malapetaka. Seperti genset yang meledak, sampai keluarga meninggal keesokan harinya. Karena Itu Didalam kejadian itu, sugesti Kelompok Lebihterus kuat Pada larangan tersebut,” ungkapnya.

Hingga kini, Ke Ditengah modernitas tahun 2026, Dusun Cariu tetap memilih sunyi Didalam riuh rendah lakon wayang, Untuk menjaga harmoni dan menghormati sumpah sang raja Ke masa silam.

(dir/dir)

Artikel ini disadur –> detik.com Indonesia News: Pantangan Wayang Ke Dusun Cariu Ciamis: Antara Mitos dan Petaka

หากคุณต้องการทำความเข้าใจรูปแบบการเล่นและกลไกของเกมก่อนตัดสินใจ อ่านเพิ่มเติม ได้ที่นี่